Pesan Damai dari Kota Malang

Data Setara Institute, katanya, mencatat sepanjang 2016 terjadi 184 kasus pelanggaran kondisi kebebasan beragama. Tujuh kelompok korban pelanggaran meliputi Gafatar 36, Warga 33, Ahmadiyah 27, Syiah 23, individu 21, umat Kristen 20 dan aliran keagamaan 19.

Terakota.id—Denting dawai gitar akustik menggema di sebuah aula ruang pertemuan markas Kepolisian Resor Malang Kota, Rabu 27 Desember 2017. Duduk sembari memangku gitar, jemari pemuda itu lincak memetik dawai. Di sampingnya, seorang perempuan berkedurung membaca puisi. Khidmat, ratusan orang di dalam ruangan terhipnotis, diam mendengar untaian bait puisi yang meluncur dari bibir gadis berjilbab.

Tak sekedar puisi, bait demi bait puisi bermakna pesan perdamaian. Mengajak semua umat untuk merawat keberagaman dan membangun toleransi. Musikalisasi puisi ini merupakan bagian dari gelaran refleksi akhir tahun yang diselenggarakan duta damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Duta damai dibentuk BNPT untuk menangkal radikalisme dan terorisme di Malang.

Mereka terdiri dari mahasiswa, dan pemuda yang aktif di dunia maya. Serta pegiat media sosial, mereka bergerak untuk menyampaikan pesan perdamaian di dunia maya. Pesan damai disampaikan melalui beragam media, mulai lagu, puisi, meme, foto dan komik. Kreatifitas mereka teruji melalui beragam pesan menebar virus perdamaian.

Acara yang dikemas dengan pentas seni untuk rakyat, dialog kebangsaan dan doa bersama ini digelar bersama melibatkan Kepolisian Resor Malang Kota, Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) dan Gusdurian Malang. Diwarnai dengan pertunjukan teater, paduan suara, pembacaan puisi, stand up Comedy hingga music dance.

Sementara dialoh kebangsaan menghadirkan pembicara Kepala Kepolisian Resor Malang Kota Ajun Komisaris Besar Asfuri, Pendeta Crysta dari FKAUB, duta damai Malang Ahsanun Naseh Khidori, dan Koordinator Gusdurian Malang Ilmi Najib.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri memberikan sambutan dalam panggung seni refleksi akhir tahun yang diselenggarakan duta damai BNPT. (Foto : dokumentasi duta damai).

Kapolres Malang Kota Asfuri menyatakan akan membentuk polisi masyarakat (Polmas) di setiap rukun warga (RW). Polmas bertugas  mendekati tokoh masyarakat termasuk menggalang dan menguatkan komunitas di dunia siber. Termasuk mengunggah segala kegiatan polisi dan TNI untuk melindungi dan mengayomi masyarakat.

Baca juga :  Zippo Topeng Malang untuk Menghormati Pelestari Seni

“Dunia maya bisa membahayakan, jika pengguna media tidak terkontrol. Sehingga menyebar informasi hoax, tanpa di teliti dan di telusuri kebenarannya,” katanya melalui siaran pers yang diterima Terakota.id. Apalagi, paham radikalisme dan terorisme juga menyebar di media sosial.

Asfuri juga berharap masyarakat ikut terlibat aktif dalam memerangi radikalisme dan terorisme. Di dunia maya, masyarakat diminta untuk cerdas bermedia sosial dengan menelusuri sumber informasi. Tak terburu-buru menyebarkan informasi yang tak jelas asal-usulnya. “Stop hoax , hindari  ujaran kebencian. Sampaikan pesan perdamaian,” ujarnya.

Koordinator duta damai Malang regional Jawa Timur, Abdik Maulana menjelaskan refleksi akhir tahun ini menjadi media untuk mengenalkan duta damai Kota Malang.  Selanjutnya, mereka mengajak seluruh elemen untuk ikut terlibat menangkal narasi radikalisme dan terorisme yang berkelindan di lini masa media sosial.
Data Setara Institute, katanya, mencatat sepanjang 2016 terjadi 184 kasus pelanggaran kondisi kebebasan beragama. Tujuh kelompok korban pelanggaran meliputi Gafatar 36, Warga 33, Ahmadiyah 27, Syiah 23, individu 21, umat Kristen 20 dan aliran keagamaan 19.

Sesi dialog kebangsaan dalam rangkaian panggung seni refleksi akhir tahun yang diselenggarakan duta damai BNPT. (Foto : dokumentasi duta damai).

Sedangkan lima besar provinsi dengan jumlah peristiwa pelanggaran tertinggi meliputi Jawa Barat 41, DKI Jakarta 31, Jawa Timur 22, Jawa Tengah 14, Bangka Belitung 11.  Semenyata aktor pelanggaran non Negara meliputi kelompok warga, dan ormas Islam 30.

Tabik juga menyebutkan hasil diskusi kebebasan berekspresi dan berpendapat yang diselenggarakan lembaga Bantuan Hukum Surabaya di Malang Oktober 2017 lalu menemukan fakta mengejutkan. Yakni warga belum kebebasan mendirikan tempat ibadah, anak dari penghayat kepercayaan yang mengalami perlakuan diskriminatif di sekolah dan perguruan tinggi melarang diskusi keberagaman.

“Perlu aktivitas bersama membangun Malang, yang ramah, toleran dan damai dalam keberagaman.”

Baca juga :  Kisah Kota Malang, Calon Ibu Kota Negara

Ia menyebutkan beragam aktivitas untuk menekan intoleransi di Malang. Salah satunya melalui dialog lintas iman dan kerja perdamaian.  Termasuk memerangi hoax atau berita bohong, ujaran kebencian dan SARA.

Dia berharap dialog bertajuk menapaki jejak intoleransi dan kebebasan beragama di Kota Malang, mencari solusi perdamaian menemukan formula aksi damai. Strategi aksi perdamai akan dilakukan tahun depan menggandeng lintas komunitas.
 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini