Perupa Difabel Persembahkan Pameran Virtual Peace in Chaos

perupa-difabel-persembahkan-pameran-virtual-peace-in-chaos
Lukisan akrilik di atas kanvas berjudul Malioboro karya Bagaskara Maharastu Pradigdaya Irawan. (Foto : Repro).

Terakota.idSebuah pameran virtual seni rupa bertema Peace in Chaos berlangsung diikuti para seniman berkebutuhan khusus dari berbagai kota di Nusantara. Awalnya bakal digelar di ruang pamer, namun saat pandemi COVID-19 penyelenggara pameran menggagas pameran secara virtual.

Pameran diikuti Agus Yusuf (Madiun), Anfield Wibowo (Jakarta), Bagaskara Maharastu Pradigdaya Irawan (Yogyakarta), Lala Nurlala (Bandung), Laksmayshita Khanza Larasati Carita (Yogyakarta), Mochammad Yusuf Ahda Tisar (Lampung), Rofita Rahayu (Yogyakarta), Wiji Astuti (Yogyakarta), Winda Karunadhita (Bali), Yuni Darlena (Bengkulu). Karya dikurasi oleh Jajang R. Kawentar.

Pameran melibatkan pemusik disabilitas netra Nubuat Maghribi dari Yogyakarta. Ia menciptakan lagu yang menjadi pengiring video pameran virtual seni rupa Peace in Chaos. “Asa harus tetap terjaga, semangat pun harus tetap membara. Gagasan, saran dan masukan membuat pameran ini tetap berjalan,” kata Koordinator pameran Peace In Chaos, Budi Butong. 

Peserta pameran menyesuaikan diri dengan kebutuhan teknis disesuaikan dengan kebutuhan audio dan video. Tetap menjaga asa untuk terus berkarya dan berbagi menyisihkan penjualan karya untuk membantu sesama perupa disabilitas.

“Disabilitas bisa menjadi subjek dengan berperan aktif dan berkontribusi untuk sesama,” katanya. Tidak berlebihan, katanya, jika pameran virtual seni rupa Peace in Chaos ini disebut sebagai pameran senirupa yang sangat spesial.

Seniman dan dosen di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Nano Warsono dalam sambutanya menyampaikan mendukung pameran. Pameran terselenggara meski harus bermigrasi secara virtual. Pameran menjadi bentuk perlawanan kultural atas pandemi, dengan mencari cara terus beraktivitas melalui media seni rupa dan menyampaikan ide-ide estetis kepada publik.

“Pameran ini menjadi penanda penting bagaimana beradaptasi terhadap pandemi COVID-19,” katanya.

Pandemi yang menjadi masalah global dan tak bisa dihindari. Harus dihadapi bersama. Pameran bertema Peace in Chaos dalam kondisi kekacauan yang “diam-diam” merasuk ke dalam ruang hidup kita. “Kita menuju tatanan dunia baru yang menuntut adaptasi secara menyeluruh. Adaptasi bagi seniman adalah berkarya dalam segala keterbatasannya,” kata Nano.

perupa-difabel-persembahkan-pameran-virtual-peace-in-chaos
Lukisan berjudul pendemic series dengan mix media karya Lala Nurlala. (Foto : Repro).

Komunitas menjadi bagian penting untuk berkolaborasi, bekerja bersama, dan menjalankan peran masing-masing. Kompetisi bukan satu-satunya cara untuk terus menjaga eksistensi. Kemampuan untuk saling berbagi, fleksibilitas dan kreativitas lebih penting untuk kemajuan bersama.Seni menjadi hidup karena fleksibilatas dan kreativitas dari para pelaku seninya.

“Seniman difabel atau bukan difabel bukan persoalan yang mendasar. Tetapi sejauh mana kemampuan mengolah kreativitas dengan hambatan yang dihadapi mampu menghasilkan karya yang baik,” ujarnya.

Saatnya semua bekerjasama melakukan hal positif, menciptakan ruang pertemuan baru, kolaborasi dan melalui ruang virtual salah satunya. Menjadikan setiap individu dalam komunitas mempunyai peran bersama, seni menjadi kerja bersama sekaligus seni kerja mandiri. “Hidup lebih mudah dijalani bersama sama,” katanya.

Berkarya menjadi sebagian cara saling berbagi pengalaman dan gagasan, dalam komunitas terbuka, ada transfer of knowledge tanpa saling menggurui. Menyampaikan gagasan estetis sebagai karya seni yang mandiri.

Tak Tunduk dengan Keterbatasan

Kepala Museum Basuki Abdullah  Maeva Salmah mengucapkan selamat berpameran kepada para perupa. Pameran virtual seni rupa Peace in Chaos menjadi inspirasi bagi perupa lainnya untuk tetap berkarya, kreatif, semangat, dan bahagia di rumah. “Pameran virtual ini tidak hanya menjadi ruang kreatif bagi para pelukis, tetapi juga membuktikan para perupa tidak tunduk atas keterbatasan. Terus bergerak dan berkarya,” katanya.

Seniman Abdi Setiawan mengaku persoalan disabilitas dan seni rupa masih sangat minim dihadirkan dan dibahas dalam kancah kesenian. Seni rupa biasanya dipandang sebatas sisi fungsi yang dimanfaatkan para disabilitas: Sebagai terapi atau bahkan pengisi waktu luang belaka.

“Sudah waktunya membuka ruang lebih mendalam tentang makna estetik, kultural, dan sosial dari karya seniman disabilitas,” katanya. Aktivisme perupa disabilitas dalam mengorganisir dan mengampanyekan kegiatan seni dalam pameran virtual kali ini luar biasa. Diikuti 10 perupa dan penggagas ide pameran.

Totok Barata dari Tembi Rumah Budaya mengapresiasi kepedulian terahadap disabilitas. Sebuah pameran lukisan virtual yang luar biasa. Ide dan gagasan ini bisa menjadi

penyemangat para pelukis indonesia. “Turut bangga. Semoga semua peserta pameran ini tambah maju, dan sukses,” ujarnya.

perupa-difabel-persembahkan-pameran-virtual-peace-in-chaos
Lukisan dengan media akrilik di atas kanvas berjudul perlahan namun pasti karya
Mochammad Yusuf. (foto : repro).

Perupa asal Malang Sadikin Pard mengatakan dalam keadaan apapun tidak menjadi batasan dalam berkarya. Untuk menghasilkan karya meskipun di tengah pandemi.karya yang dipamerkan memiliki ide yang menarik dan segar. “Jangan menyerah dengan keadaan,” kata pelukis anggota Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA).

Pemerhati disabilitas I Made Sudana menuturkan setiap musibah memberikan dua pilihan, menyerah atau berjuang. Ia mengapresiasi para seniman disabilitas yang dalam situasi pandemi tetap berkarya dan menyelenggarakan pameran virtual. “Pameran ini gagasan kreatif. Mewadahi seniman disabilitas dan mendukung penjualan karyanya,” ujarnya.iodata Peserta

Profil Peserta Pameran

Agus Yusuf  tuna daksa mengikuti beragam pameran lukisan. Pameran 2019 di Hotel Paiton Probolinggo, pameran “Festival Bebas Batas”. Pendopo ISI Surakarta, 2018 pameran di Taman Wisata Kopeng Semarang, pameran di Festival Bebas Batas di Galeri Nasional Jakarta, pameran PSLI Surabaya. 2017, pameran di Museum Maritim Barcelona, pameran di Trans Hotel Bandung, pameran di Grand City Surabaya dalam rangka memperingati Hari Kesetiakawanan Indonesia

Anfield Wibowo tunarungu dan sindrom asperger. Menggelar pameran tunggal 2018 di Balai Budaya Jakarta,  pada 2017 menggelar pameran tunggal di Galeri Cipta 3 TIM Jakarta, 2019: “Semesta Kita” Bentara Budaya Bali; “Main” Festival SeniRupa Anak Indonesia, Galeri Nasioanal; “Art Day Life” Plaza Indonesia, Jakarta; “Post Fest 2019″ Galeri Cipta 2, TIM, Jakarta; ” Outsider Artpreuner” Ciputra Artpreuner, Jakarta; ‘Wajah Indonesia” Pekan Kebudayaan Nasional, Istora Senayan; “Festival Bebas Batas”. Pendopo ISI Surakarta. Tahun 2018: “Solidarity, Peace m Justice” Balai Budaya Jakarta; “Art on The Spot” Kunskrings Palais resto. Jakarta; “Love Never Fails”, Galeri Hadiprana, Kemang. jakarta; “Post Fest festival” Galeri Cipta 3, TIM, Jakarta; “Festival Bebas Bebas” Galeri Nasional, jakarta. Tahun 2017: “BPMI” di Pendopo ArtSpace, Jogyakarta; “Diskusi n pameran Artburt” Bentara Budaya, Jakarta

Bagaskara Maharastu Pradigdaya Irawan.  Mahasiswa ISI Yogyakarta tuna rungu wicara. Mengikuti pameran 2019: Pameran seni rupa Ngawe Kadang VI 2019 di TBY; Pameran seni rupa 60th Sanggarbambu “Pengayun ayun” di TBY. Tahun 2018: Pameran Nandur Srawung #5 2018 “Bebrayan” di TBY; Pameran Sketsa “Re Kreasi Garis 2018 di Galeri Nasional Indonesia; Pameran seni rupa “Festival Bebas Batas” 2018 di Galeri Nasional Indonesia; Pameran “Tali Simpul di Museum Bank Indonesia

Lala Nurlala disabilitas asperger. Mengikti pameran 2019 di “Festival Bebas Batas”. Pendopo ISI Surakarta; Pameran “figur dan Bumi”. Tahun 2018: Pameran “work in progres”

Laksmayshita Khanza Larasati Carita. Tuna rungu. Pada 2019 mengikuti Pameran Karya Tugas Akhir “Titik Itu Aku” Pndopo Kampus UST, Yogyakarta; Tahun 2018: Pameran Ulang Tahun Sanggar Bambu, Galery SMSR; Eksplorasi Karya Titik Kampung Mataraman, Prambanan. Tahun 2017: Instalasi Karya Titik, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta; Pameran Bersama Untuk Kemanusiaan, Museum Affandi, Yogyakarta.

Pementasan 2018: Pementasan teater “Say No More” kolaborasi dengan seniman Indonesia, Malaysia dan Australia di George Town, Penang, Malaysia; Pementasan teater “Say No More” kolaborasi dengan seniman Indonesia, Malaysia dan Australia di Adelaide Town Hall, Australia.

Mochammad Yusuf.  Tuna rungu. Mengikuti pameran 2020 di Taman Budaya “Ilustrasi Budaya” Lampung. Tahun 2019: Pameran di Sesat Agung Balai adat “Refleksi akhir tahun sanak Tiyuh” Tubaba; Tahun 2018: Pameran di GALNAS “Bebas Batas “ Jakarta; Pameran di Taman Budaya Lampung “Celah” Tahun 2017: Pameran di Komplek Islamic centre Tubaba Lampung

Rofita Rahayu. Tuna rungu wicara. Pada 2019 mengikuti ppameran bersama “MANGARTENI” SMAN 1 Wonosari, Pameran Festival Bebas Batas, Pendopo ISI Surakarta.

Wiji Astuti.  Tuna daksa. Pada 2018 mengikuti pameran di Fashion Show, Batik Nusantara, Yogyakarta.

Winda Karunadhita. Disabilitas muscular dystrophy. Pada  2019 menggelar pameran “berjuang menembus kemelut kehidupan” Di Grandmall MBekasi.  Pameran 2020: Kolaborasi Bersama Benih Baik.com Lukisan Untuk Amal; 2019: Pameran Kolaborasi Bersama Pt. Varash Saddan Nusantara; Pameran Disabilitas Bersama Yayasan Bunga Bali. Tahun 2018: Pameran

“work In Progres”; Pameran Di Gedung Art Center; Pameran Lelang Amal Di Yayasan The Legong Anak Bangsa Untuk Anak-anak Penderita Cerebral Palsy; Tahun 2017: Lelang Amal Di Yayasan Sesama Untuk Panti Asuhan; Pameran Lelang Amal Di Bubu Seafood Resto Bali Untuk Pembangunan Panti Jompo; Pameran Lelang Amal Lukisan Untuk Yayasan Peduli Kanker Anak Bali Dalam Acara Charity Hair For Life.

Yuni Darlena. Tuna daksa. Pada 2017 menggelar pameran tunggal “berkembanglahpuan” Gallery Alternatif Bombaru Bengkulu.  Pameran 2019 : Pameran Senirupa Festival Bebas Batas, Pendopo Isi Surakarta; Pameran Senirupa Ppss Xxxiii Taman Budaya Lampung; Pameran Senirupa Dari Bengkulu Untuk Indonesia Taman Budaya Bengkulu; Pameran Senirupa “Pesona Bumi Raflesia” Gallery Alternatif Sport Centre Bengkulu; Pameran Senirupa “Palem Jambe” Gallery Taman Budaya Jambi. Tahun 2018: Pameran Senirupa Dalam Festival Bebas Batas, Gallery Nasional Jakarta; Pameran Senirupa “Pesona Bumi Raflesia” Gallery Alternatif Sport Centre Bengkulu; Pameran Senirupa “Palem Jambe” Gallery Taman Budaya Jambi; Tahun 2017 : Pameran Seniriupa “Pesona Bumi Rafflesia” Ruang Rupa Taman Budaya Bengkulu; Pameran Senirupa “airmata-mataair” Gallery Alternatif Konakito Bengkulu; Pameran Senirupa “permenaktif (peran Seni Dalam Menangkal Trend Negatif)’ Audotorium Unib.

Pameran bisa dinikmati di chanel youtube Bara Liar

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini