Pertunjukan Tari dan Teater di Masa Pandemi

Terakota.id-Pendopo Balai Desa Beji, Tulungagung berubah menjadi panggung pertunjukkan, Ahad malam 30 Agustus 2020. Lampu sorot mengikuti gerakan penari berbusana khas Jawa, diiringi alunan gamelan. Ratusan penonton mengenakan masker, seolah hanyut ke dalam alunan gamelan dan gerakan penari. Gemuruh tepuk tangan, bersorak sorai sesaat usai pertunjukkan.

Dilanjutkan pertunjukkan seni karawitan, hadrah, Tari Tiniban, Tari Ting Tong, Tari Arak-arakan, Tari Gambyong, Tari Driyasmara, dan tari Adaninggar Kelaswara. Acara dipungkasi dengan teater bertema perjuangan kemerdekaan. Berkisah tentang perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda.

Tak hanya peperangan, namun diselingi dialog guyonan. Penonton tertawa bersama-sama. Acara berakhir sekitar pukul 21.00 WIB, sesuai aturan pemerintah Tulungagung yang memberlakukan  jam malam di tengah pandemi Korona.

Pertunjukkan seni di Balai Desa Beji dimotori tujuh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang tengah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mereka adalah Anwar Fajar Shiddiq, Wahyudiono Dharma Susila, M Bhacroni Sulayman, Dandy Oktavianus Widiarjo, Agil Wahyudiono, Suci Eka Candra Dewi, Melinia Intan Pramadani.

Mahasiswa ISI Surakarta, Wahyudiono Dharma Susilo mengatakan Tulungagung dipilih karena pandemi. Dia bersama teman-temannya memilih KKN secara mandiri, menentukan tempat KKN berdasarkan musyawarah kelompok. ”Sebagian anggota KKN berasal dari Tulungagung, sehingga memilih Desa Beji,” kata pria asal Kalidawir, Tulungagung ini.

Wahyu menambahkan atas saran Sanggar Seni Gandung Melati di Desa Beji, mereka berkolaborasi dengan berbagai elemen. Terdiri atas warga desa dan sanggar seni. ”Sebelum KKN, kami banyak meminta saran dari senior hingga sanggar seni. Karena hasil akhirnya adalah sebuah pertunjukkan, seperti karawitan, tari dan teater,” katanya.

Pertunjukkan mahasiswa ISI Surakarta tidak instan begitu saja, namun melalui proses latihan. Wahyu bercerita seminggu sebelum acara mereka menggeber latihan. Berlatih setiap hari. ”Setelah menyeleksi penampil, kami terus latihan,” kata Wahyu.

Salah seorang penonton yang juga warga Desa Beji, Nurliana Ulfa mengaku terhibur dengan pertunjukan di tengah pandemi corona. Pertunjukan dilangsungkan dengan mematuhi protokol kesehatan. Meliputi memakaai masker dan menjaga jarak.

”Sangat menghibur karena bisa menonton langsung. Suasananya sangat berbeda jika digelar hanya lewat online,” kata Ulfa memungkasi perbincangan.

Sementara itu, di luar Balai Desa Beji, para pedagang berjajar. Mereka menjajakan makanan hingga mainan. Pemandangan yang jarang ditemukan beberapa saat pamdemi corona.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini