Pertunjukan Meditasi Ghulur, Berasal dari Ritual yang Mulai Punah

Terakota.id—Sutradara Anwari mempersembahkan pertunjukan Meditasi Ghulur secara daring di Borobudur Writers and Cultural Festival 18 November 2021 jam 19.20 WIB. Pertunjukan ini berangkat dari riset. Merekonstruksi ritual Topeng Ghulur di desa Larangan Barma, Batu Putih, kabupaten Sumenep. Ritual ini semula merupakan sarana ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperolehnya.

Gerakan tarian ini banyak menggunakan posisi duduk dan bergulung-gulung mendekat bumi.  Tradisi Topeng Ghulur hampir punah, tak banyak pemuda atau orang tua yang bisa meneruskan. Para pemuda rata-rata banyak yang merantau atau bekerja, sehingga tidak memiliki waktu untuk berkesenian.

“Sedangkan para tetua yang dulunya sebagai pemain Topeng Ghulur, sudah tidak memiliki harapan dengan ritual kesenian,” tulis Anwari dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Lantaran tak bisa menjadi sandaran hidup secara ekonomi. Bahkan sebagian menjual alat musik pengiring, topeng, dan kostum yang dulu digunakan. Anwari menelusuri bentuk ritual dan muasal kepunahan Topeng Ghulur.  Ia berusaha mengonstruksi ulang ritual menjadi sebuah pertunjukan teater.

Pertunjukan banyak memakai gerakan khas Topeng Ghulur yang dipadukan dengan konsep teater antropologi yang ditekuni bertahun-tahun.  Didapat beberapa lanskap menarik di sekitar desa Larangan Barma, Batu Putih, yang digunakan sebagai setting pertunjukan. Meliputi pantai Badur, penambangan batu putih, dan di areal pedesaan.

Seluruh lanskap mewakili bentang alam Madura yang khas. Serta membawa alur pertunjukan perjalanan para pemain Topeng Ghulur. Sehingga menemukan tingkat pertemuan dengan Tuhan dalam ritual yang dijalankan.

Anwari mengajak anak muda setempat untuk kembali membangkitkan kesenian dengan menjadi pemain pertunjukan, Meditasi Ghulur. Mereka sehari-harinya berprofesi sebagai pelajar dan petani. Bahkan ada yang dari latar belakang pemain musik tradisi tong-tong.

Anak-anak muda ini tergabung dalam Padepokan Gendam (Gerakan Anak Muda Mantajun). Selain itu, juga ada kolaborasi bersama pembaca naskah mamaca yang juga mulai hampir punah, seorang tetua bernama Pusa’e. Anwari juga berkolaborasi dengan sejumlah musisi. Pertunjukan dimainkan Padepokan Seni Madura.

Proses pengambilan gambar pertunjukan Meditasi Ghulur. (Foto: Anwari).

Tim produksi Anwari sebagai sutradara; Elyda K. Rara sebagai produser; Hermanto sebagai koordinator lapangan; Irwan Sudarmaji, Bahauddin, dan Sapirin sebagai pemain topeng; Mi’ati, Sumina, Syafi’udin, dan Slamet sebagai pemeran; Anton, Hariyanto, Junaidi, Sisriyadi, dan Samsudin sebagai pemain musik; Pusa’e sebagai pembaca mamaca; Black, Hadi, Hosnan, Addul Karim, dan Mat Pu’ding sebagai artistic; Muhammadun sebagai penanggung jawab transportasi; serta berkolaborasi bersama musisi Arrington de Dionyso, Redy Eko Prastyo, serta Dr. Memet Chairul Slamet.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini