Persembahan untuk Seniman Sepuh

persembahan-untuk-seniman-sepuh
Seniman tari Didik Nini Towok menari di sebuah pusat perbelanjaan untuk menggalang dana bagi seniman sepuh. (Terakota/Thema Pertiwi).

Reporter : Thema Pertiwi | Ayu Dirgantara

Terakota.idInnalillahi wa inna illaihi rojiun. Kabar duka, telah meninggal Mbah Matali, 82 tahun pada pukul 20.40 WIB, Sabtu 7 Desember 2019. Meninggal di RS Wava Husada Kepanjen. Rumah duka Jalan  Rambutan gang 2 Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Pesan itu secara bergelombang tersebar di sejumlah aplikasi perpesanan dan media sosial.

Sebelumnya, seniman Yongki Irawan menyampaikan kondisi kesehatan Mbah Matali menurun. “Kesadaran menurun. Taka da respon buka mata, dan suara. Tensi menurun 90/50mmHg, nadi 84 kali per menit. Sejak pukul 18.00 mulai memakai alat bantu nafas dan monitor,” kata Mbah Yongki di aplikasi perpesanan.

Mbah Matali merupakan seniman sepuh pedalangan dan kendang gaya Jawa Timur-an yang terbaring sakit sejak beberapa bulan lalu. Sejumlah seniman juga menggalang donasi untuk membantu biaya pengobatannya. Salah satunya, seniman tari Didik Hadiprayitno atau yang lebih dikenal dengan sapaan Didik Nini Thowok.

Mengenakan kebaya dan berjarik, sebuah selendang melingkar di leher Didik. Dengan riasan lengkap dan berkonde, Didik menebar senyum. Tangan dan kaki bergerak dinamis, mengikuti iringan musik tradisi. Didik menari tarian tradisi di Malang Town Square (Matos) lantai 1, Jalan Veteran Malang, Jumat 7 Desember 2019.

Ratusan pengunjung pusat perbelanjaan sebagian duduk dan berdiri. Mereka meriung, mengelilingi Didik yang tengah menunjukkan kepiawaiannya menari. Bahkan, sebagian penonton tertawa lepas saat Didik mengenakan topeng dan menarik karakter topeng yang lucu tersebut.

Seniman Eko Ujang menampilkan tari topeng di Ngamen untuk seniman sepuh. (Terakota/Thema Pertiwi).

Sebelumnya, sejumlah seniman unjuk penampilan mulai dari tari kuda lumping, musikalisasi puisi, musik akustik, dan tari topeng Malangan. Acara bertajuk Ngamen Bareng Didik Nini Towok dan pembakti seni budaya Malang Raya berdonasi untuk seniman sepuh. Usai menari, para penonton mengumpulkan lembaran uang untuk berdonasi bagi para seniman sepuh.

Uang yang terkumpul bakal disumbangkan untuk seniman Mbah Matali dan seniman sepuh lainnya. Mbah Yongki yang menginiasi kegiatan tersebut menyampaikan uang hasil donasi akan diprioritaskan bagi Mbah Matali yang tengah sakit. “Sekala prioritas bagi seniman sepuh yang sakit,” katanya.

Kabar duka Mbah Matali tak menyusutkan tekad Mbah Yongki untuk memberi sumbangsih bagi seniman sepuh. Sebagian dana hasil donasi akan digunakan untuk program cek kesehatan secara cuma-cuma bekerjasama dengan Klinik Dian Kusuma Wijaya, Sumberpucung.

Meliputi mengecek tekan darah, kolestrol, asam urat dan diabetes. Tahap awal pemeriksaan kesehatan dilakukan pekan ke dua Januari 2020. Di gedung Dewan Kesenian Malang Jalan Mojopahit Nomor 3 Kota Malang pukul 08.30 WIB. Pemeriksaan kesehatan secara berkala bertajuk bakti kemanusiaan bagi pekerja seni digelar rutin saban bulan.

“Jika seniman sepuh yang sakit tidak bisa hadir, kami siap berkunjung bersama dokter Dian Agung Anggraini,” kata Mbah Yongki.

persembahan-untuk-seniman-sepuh
Pengunjung diajak terlibat menari bersama para seniman. (Terakota/Thema Pertiwi).

Didik kepada Terakota.id mengaku sering mengikuti aksi ngamen menggalang dana. Ia sering, terlibat dalam kegiatan kemanusiaan sejak 1994. Mulai ngamen untuk donasi korban bencana alam dan seniman yang membutuhkan. “Jika mampu saya bantu. Saya tak pernah basa basi,” katanya.

Penggalangan dana ini dilakukan secara spontan, Didik awalnya memenuhi undangan menjadi pembicara diskusi mengenai museum dan seni di Universitas Brawijaya. Lantas berkomunikasi dengan Mbah Yongki yang menyampaikan ada seniman yang butuh bantuan. “Jadi setelah dari Universitas Brawijaya diatur jadwal ngamen untuk menggalang dana,” katanya.

Usai acara, ia kembali ke Yogyakarta. Jika waktu tepat, Didik biasa ikut terlibat menggalangan dana untuk donasi. Kegiatan sosial, katanya, bukan hal baru. “Kaya orang bernafas tak ada rencana. Hidup saya mengalir, taka da rencana ke depan,” katanya.

Didik menyampaikan pesan kepada seniman muda agar giat dan banyak belajar seni tradisi. Serta turut melestarikan seni dan budaya tradisi warisan leluhur. Seni dan budaya Indonesia, katanya, merupakan warisan yang harus dilestarikan. “Ada yang akan menghancurkan. Jangan sampai terjadi. Kalau budaya dihancurkan, tak punya identitas.”

Salah seorang pengunjung berkewarganegaraan Jepang bernama Rika berbaur dengan pengunjung Matos lainnya. Ia tekun menyimak dan menikmati sepanjang pertunjukan berlangsung. “Seru banget, saya biasa melihat dan menikmati kebudayaan Jawa Timur. Tariannya bagus,” katanya dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Ia mengaku tahu dari seorang dosen pendamping di STIE Malang Kucecwara. Rika bersama teman mahasiswa asing di STIE Malang Kucecwara untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Mahasiswa semester lima di sebuah perguruan tinggi di Jepang ini tengah menempuh pendidikan jurusan Bahasa Indonesia.” Saya kagum. Jepang ada tari tradisi, tapi jarang ditampilkan di depan umum,” katanya.

Mahasiswi yang telah tinggal selama tiga bulan di Malang ini mengaku tertarik mengikuti dan belajar seni tradisi Jawa. Jika ada acara lain, katanya, pasti akan ikut berpartisipasi

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini