Persembahan Sahabat untuk Mendiang Azis Franklin

Lek Jumaali, Suroso dan Supriyono memainkan instrumen musik mengenang mendiang Kak Azis Franklin. (Terakota/ Wulan Eka).

Terakota.id-Duduk bersila, meriung Ki Jumaali Dharmakanda, Suroso, Supriyono khusuk memainkan instrumen musik, Senin 22 Februari 2021. Ki Jumaali yang akrab disapa Lek Jum memegang rebanan dan gongseng yang terpasang di pergelangan kaki, sedang Suroso memetik dawai sapek khas Dayak dan Supriyono menabuh gambang.

Gemerincing gongseng menguar, saat Lek Jum menggerakkan kaki mengikuti irama tabuh rebana. Petikan dawai sapek Suroso menyayat, dan pukulan gambang Supriyono menghasilkan harmoni. Sesekali Supriyono meniup suling etnik, menghasilkan musik instrumentalia yang unik.

Tak sekadar memainkan instrumen musik, di sebuah sudut Sanggar Budaya Santri Loka Jaya Kepanjen ini ketiganya tengah mengenang Johanes Azis Suprianto atau yang akrab disapa Kak Azis Franklin. Sekaligus mendedikasikan instrumentalia musik bagi sosok sahabat seniman multitalenta Kak Azis Franklin.

“Semoga beliau damai di sana, bagya (bahagia) pinaringan jembar kubur (diberi luas kuburnya) , padhang (terang) jalannya……Mugi Gusti paring pangapura tumprap Kakang Azis Suprianto, panggen panggon kang tumata, kadhos sisi kang Maha Kuasa (Semoga Tuhan mengampuni Kakak Azis Suprianto, dapat tempat yang baik, di sisi Tuhan yang Maha Kuasa),” lantunan doa disampaikan berima diiringi musik instrumentalia.

Ki Jumaali Dharmakanda merupakan salah seorang sahabat dekat mendiang Kak Azis Franklin. Mereka kerap tampil berkolaborasi dalam berbagai pertunjukan seni, mulai teater keliling hingga pertunjukan Wayang Wolak-Walik.  Sebuah pertunjukan wayang kontemporer yang digagas mereka beruda.

“Perkenalan pertama dengan Mas Azis waktu masih mahasiswa. Ketemu di IAIN Malang (Sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) terlibat dalam forum diskusi perkumpulan teater kampus,” ujar Lek Jumaali.

Alumni jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini masih ingat betul, dirinya sering berkeliling dari ke kampus di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, bahkan sampai luar Jawa. Ia melakoni berkesnian semasa kuliah. Melalui forum diskusi teater ini, ia dikenal paling nekat. Azis Franklin memanggilnya Jamroji.

“Temen-temen lainnya menimpali dengan tertawa. Wah itu bukan Jamroji itu, tapi jam Rolex,” tutur Lek Jumaali sambil tertawa.

Lek Jumaali menuturkan kali pertama tampil kolaborasi seni dengan Kak Azis sekitar tujuh tahun lalu di Jakarta. Telah terbangun Chemistry diantara keduanya, membuat mereka lebih sering tampil bersama di berbagai pertunjukan di sejumlah daerah.

“Tampil bareng Mas Azis di Yogyakarta saat gempa di Mataram, Lombok. Pentas di kampung-kampung, pendopo Kabupaten Malang. Januari 2021 bersama di acara Gusdurian Pekalongan. Pernah rekaman bareng di TV 9, Ramadhan kemarin ngisi di acara TV 9,” ujarnya.

Lek Jumaali mengaku sangat menghormati Kak Azis, sebagai sosok seniman yang low profile. Selain itu juga ulet, kreatif, nggak rewel, dan membumi. Bahkan dikenal ringan tangan, suka membantu trauma healing bagi anak-anak korban bencana alam. Seperti gempa di Lombok.

“Keberaniannya sangat tinggi, ngembangin alat musik sapek Dayak. Itujuga hasil eksplorasinya. Suka berkomunikasi dengan anak. Lagu-lagu ciptaannya enak, bisa nyanyi lagu agama Islam, lagu Katolik. Lagu Jawa hingga lagu daerah,” tutur Lek Jumaali mengenang.

Azis dikenal memulai giat kesenian secara otodidak. Pernah terlibat teater keliling jadi bagian art, melukis, mendalang, bermain alat musik sapek, bermain sulap, juga hipnoterapi. Instrumen dawai Sapek melekat dan menjadi ciri khas Azis Franklin.

“Alat musik Sapek ini unik, temuan Mas Asiz. Saya menyebutnya Dayak Malang, tapi bisa dikreasi kemana-mana. Bisa untuk ngiringin sholawatan, lagu daerah, lagu Tombo Ati, sholawatan Syi’ir Tanpo Waton, lagu-lagu Nusantara,” ujar cak Jumaali.

Wayang Wolak-Walik

Istilah Wayang Wolak-Walik awalnya ditemukan Cak Jumaali bersama Kak Azis Franklin. Sebuah pertunjukan wayang yang menggunakan kedua sisi layar, depan dan belakang. Tak menggunakan sistem layar siluet layaknya wayang purwa umumnya.

Konsep pertunjukannya, Azis bermain musik dan menyanyi. Sedangkan, Jumaali mendalang, narator atau pencerita dan bagian clekotan-clekotan. “Mas Azis di layar depan, saya di belakang. Lama-lama Mas Azis pindah main musik Sapek aja,” ujar Cak Jumaali.

Beberapa rekan seniman lain sempat dilibatkan di pentas Wayang Wolak-Walik, Ugik Arbanat, dan Yono jika Azis sedang berhalangan. Selama tampil, lek Jumaali merasa memiliki ikatan tersendiri antara dirinya dan Azis.

“Tanpa banyak koordinasi dan komunikasi, selama pentas bisa saling mengisi. Siapa mapak (menjemput), siapa nyusul (menyusul) antara nyanyi dan mendalang,” kata Lek Jum.

Kisah wayang Wolak-Walik mengangkat fenomena keseharian, cerita moral, saling menghargai antara anak dan orang tua. Penonton dari kalangan umum. Pernah ditampilkan di pesantren, kampung, di punden dalam rangkaian ritual desa, hingga kegiatan malam Suro.

“Filosofinya (Wayang Wolak Walik), hari ini orang mudah sekali membolak-balikkan kata. Hal benar dibuat salah. Hal yang salah, dibenarkan,” kata Lek Jumaali memungkasi cerita.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini