Perlunya Literasi Digital untuk Pelestarian Cagar Budaya Oleh : Shinta Dwi Prasasti

Situs Ratu Boko (borobudurpark.com)

Terakota.id – Beberapa waktu lalu sebuah media ternama sempat menyebut bahwa Situs Ratu Boko merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Sebuah hal yang tidak tepat, sebab fakta sejarah menunjukkan situs ini dibangun sekitar lima abad sebelum bedirinya kerajaan Majapahit. Situs Ratu Boko selama ini diidentikkan sebagai peninggalan kerajaan Mataram Kuna yang berdiri jauh sebelum Majapahit.

Kesalahan serupa kerap kali muncul. Sejumlah tulisan di website dan video media sosial terkadang memuat informasi tentang makam tua yang diklaim sebagai makam raja dari sebuah kerajaan tertentu, atau bahkan makam tokoh pendiri candi. Padahal di masa Hindu-Budha, pemakaman belum digunakan. Informasi tersebut beredar dengan cepat di kalangan warganet.

Kemunculan informasi semacam itu tentu membuat warganet harus lebih berhati-hati. Di era digital ini, warganet memang menghadapi informasi yang melimpah. Segala macam hal bisa diakses dengan mudah melalui ponsel maupun piranti elektronik lainnya. Semua jenis informasi terkait kehidupan termasuk bidang sejarah, arkeologi maupun cagar budaya. Informasi tersebut tidak jarang ditutupi dengan hal-hal yang imajinatif dan mistis.

Misalnya pembangunan Candi Prambanan yang selalu dihubungkan dengan kisah Bandung Bondowoso untuk menaklukkan putri pujaannya yaitu Rara Jonggrang. Dalam kisah itu masyarakat mengetahui bila candi ini hanya dibangun semalam saja. Poin ini menancap kuat dalam benak masyarakat dari berbagai generasi.

Awal Februari tahun 2020 lalu , tagar#CandiPrambanan sempat trending di twitter. Menariknya, mayoritas pengguna twitter malah tidak tahu sejarah Candi Prambanan. Itu dibuktikan dengan komentar sebagian netizen yang justru baru mengetahui sejarah Candi Prambanan dari utas yang dibuat akun @mazzini_giuseppe.

Kompleks Candi Prambanan merupakan salah satu Cagar Budaya Indonesia yang telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Namun informasi di atas tampaknya tidak diketahui netizen. Hal ini menjadi sesuatu yang kontradiktif di era serba digital sekarang ini.

Informasi tentang Situs Ratu Boko sebagai peninggalan kerajaan Mataram Kuno maupun Candi Prambanan sebagai warisan budaya dunia yang tidak dibangun selama semalam tetapi bertahun-tahun, sebenarnya tersedia juga di internet. Bisa jadi informasi tersebut tenggalam karena banyak informasi bermuatan wisata maupun cerita dongeng yang justru lebih menarik warganet.

Literasi digital untuk mendukung pelestarian Cagar Budaya

Warganet memang harus bisa memilah informasi di dunia maya agar tidak terjadi misinformasi. Misinformasi adalah bentuk informasi yang salah, tapi orang yang menyebarkannya merasa hal itu benar. Inilah yang terjadi terkait sejarah, arkeologi dan cagar budaya.

Informasi yang hadir di dunia maya kerap kali bersumber dari cerita tutur. Cerita tutur memiliki diksi dan gaya bahasa yang menarik. Maka warganet pun menjadi lebih tertarik membaca cerita versi ini. Apalagi cerita tutur ini memiliki kesesuaian dengan memori kolektif. Warganet pun semakin percaya dan kerap membagikan informasi serupa.

Hal ini tidak akan terjadi jika warganet memiliki kemampuan dalam memahami dan menganalisis dengan baik informasi yang diperoleh tersebut. Kemampuan ini biasa disebut sebagai literasi digital.

Salah satu tahap literasi digital adalah warganet harus melihat nama website, akun atau saluran yang memuat informasi tersebut. Nama besar media terkadang bukan jaminan kebenaran informasi. Warganet tetap harus jeli dan teliti dalam memperhatikan muatan informasi yang disajikan.

Pemerintah sebenarnya juga tidak abai pada tahap berbagi informasi ini. Sejumlah lembaga pemerintahan yang bertugas di bidang pelestarian cagar budaya misalnya, sudah memiliki website dan akun resmi di media sosial, baik itu Facebook, Instagram dan Twitter. Warganet bisa mengikuti akun media sosial lembaga ini. Warganet juga bisa membagikan informasi yang diperoleh tersebut dengan menggunakan fitur sharing pada Facebook, repost pada Instagram dan retweet pada Twitter untuk mendukung persebaran informasi pada tiap platform maupun lintas platform.

Warganet juga bisa mengikuti akun sejumlah sejarawan, arkeolog maupun pelestari cagar budaya yang aktif membagikan tulisan mereka di website pribadi. Maka, warganet diharapkan lebih bisa memilah informasi yang beredar di dunia maya. Selamat Hari Purbakala ke 108, bagi warganet pelestari cagar budaya.

*Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DI Yogyakarta

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini