Perkumpulan ‘Pemberontak’

perkumpulan-pemberontak
Penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro oleh pendukung kubu Soerjadi berakhir dengan bentrokan antara massa dan aparat keamanan di kawasan Jalan Salemba, Jakarta Pusat, 27 Juli 1996. Sebelumnya, kantor PDI diduduki massa pendukung Megawati. (Foto : Kompas)

Terakota.idSaat rezim Soeharto berkuasa, demokrasi dikekang, mengkritik pemerintah ditabukan. Apakah hidup yang paling indah ? Yakni ketika istri, anak-anakmu dan teman-temanmu terus mengigatmu dan menyayangimu. Tadi sore saya dikunjungi Beky Subechi, kawan lama saya. Ini kunjungan singkat. Tadi pagi Beky — panggilan akrabnya, mengirimkan pesan lewat WhatsApp  untuk menanyakan alamat saya. Saya pikir dia akan berkunjung beberapa hari lagi, eh tadi sore dia sudah muncul ke rumah saya. “Saya barusan pijat di Belahan,” katanya.

Belahan adalah sebuah dusun di Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Di sana, kata Beky ada tukang pijat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit keseleo dan lainnya. Beky baru saja tertarik otot kakinya setelah olahraga bersepeda. Dari tukang pijat itu, dia lalu mampir ke rumah saya.

Sekitar 30 menit kami mengobrol. Beky mengenang masa tahun 90an, saat pemerintahan presiden Soeharto. Saat itu demokrasi dikekang, mengkritik pemerintah ditabukan. Saya mengenal Beky jauh hari sebelum dia menjadi fotografer di Jawa Pos.

Di tahun 90an Beky sudah menjadi fotografer di Surabaya Post, sebuah koran sore yang pernah berjaya di tahun 70-80an. Beky juga sering memotret peristiwa politik yang menyerempet bahaya. Beky — bersama Adi Sutarwiyono wartawan harian Surya — pernah mendapat tindakan kekerasan dari aparat keamanan saat meliput demonstrasi aktivis promeg kepanjangan dari pro Megawati Soekarnoputri`

Saat itu aktivis promeg berunjuk rasa di jalan Diponegoro Surabaya untuk memprotes penyerbuan kantor DPP PDI yang dikuasai kelompok Megawati di Jakarta. Penyerbuan ini dikenal sebagai Kudatuli, peristiwa yang terjadi pada 27 Juli 1996. Tetapi demonstrasi aktivis promeg Surabaya ini dibubarkan aparat dan sejumlah pendemo dan wartawan mengalami kekerasan.

Dua hari setelah insiden tersebut, kami aktivis Surabaya Press Club mengadakan rapat di sebuah kantor di gedung World Trade Centre Surabaya yang disewa Heri Akhmadi, mantan aktivis ITB tahun 1978 yang pernah menjadi koresponden Jawa Pos di Amerika. Sepulang dari Amerika Heri tinggal di Surabaya dan beberapa kali menghadiri acara yang diselenggarakan SPC.

Rapat di WTC itu rencananya untuk membuat surat protes terkait insiden yang menimpa Beky dan Adi Sutarwiyono. Sebab koran tempat mereka bekerja — Surabaya Post dan Surya — tidak protes atas peristiwa tersebut. Ada kabar, pemimpin redaksi koran tersebut berdamai dengan aparat.

Di kantor Heri yang sempit, suasana gerah dan mencekam. Saat itu surat pernyataaan sudah selesai dibuat dan tinggal mengirimkan ke media massa lewat faksimil. Saya bersama Masuf Adnan keluar sebentar untuk mencari warnet. Saat kami kembali tiba-tiba kantor Heri sedang gaduh. Heri dan beberapa teman tampak tegang. Kata dia, ruang tempat kami berkumpul sedang diawasi intel.

Saya melongok ke lorong, tetapi tidak ada orang yang dimaksud. Atau saya yang tidak tahu. Karena ketakutan, rapat diputuskan untuk dibubarkan dan pernyataan protes tidak jadi dibuat. Sebagai rasa penyesalan kami memutuskan untuk mengunjungi Beky di rumahnya. Kami datang bertiga naik sepeda motor berboncengan dari WTC. Mereka adalah Heri Akhmadi, Mas’ud Adnan dan saya sendiri.

Kepada Beky, kami menceritakan kejadian di WTC. Saya lupa apa reaksi Beky saat itu. Tetapi Becky mengaku ketakutan saat kami kunjungi pada petang hari itu. “Saya intip di balik kaca rumah siapa yang datang, masak membezoek saya saat malam,” kata Beky menceritakan kembali masa itu. Setelah kami pulang, kata Becky ada tukang becak yang mangkal di depan rumahnya. Biasanya tidak ada, kemungkinan, kata Beky, dia seorang intel.  Itulah sekelumit obrolan Beky dengan saya, tentang masa lalu yang tak mudah dilalui oleh sebagian wartawan saat itu.

Saya mengenal Beky bersamaan kenal dengan Masud Adnan, Abdul Manan, Hari Nugroho, Asvin Eliyana, Zurkoni dan beberapa aktivis muda lainnya. Kecuali Hari Nugroho dan Asvin yang lulusan Universitas Airlangga, mereka berasal satu kampus, yaitu Stikosa AWS dan sebagian dari mereka adalah aktivis pers kampus.

Mereka saya libatkan di SPC sebagai tim inti untuk menyelenggarakan sejumlah kegiatan, seperti diskusi dan seminar. Cara ini saya maksudkan sebagai kaderisasi wartawan-aktivis. Sebab agak sulit melibatkan wartawan profesional dalam kegiatan SPC yang semakin lama cenderung sebagai organisasi pers yang kritis terhadap pemerintah. Sebelumnya, SPC hanya sebuah forum wartawan yang netral. Kegiatannya hanya menyelenggarakan diskusi dan hasilnya kemudian diberitakan oleh wartawan.

Tetapi setelah peristiwa pembredelan majalah Tempo pada tanggal 21 Juni 1994, wajah SPC menjadi organisasi semi-perlawanan, mirip LSM. Kelak kemudian hari sejumlah aktivis SPC ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen. Sejak itu, SPC mulai melibatkan aktivis pers kampus. “Saya seperti masuk dalam perkumpulan pemberontak,” kata Beky sambil tertawa.

Tentu pemberontak dalam arti yang baik. Sebab kami memberontak sistem pemerintah yang represif. Kami, para wartawan menginginkan sebuah negara yang demokratis, yang bisa memberikan kebebasan pers kepada masyarakatnya. Sebab, hanya dengan pers yang bebas, pemerintah bisa terhindar dari kesewenang-wenangan.

Di dalam rumah, saya lihat langit mulai mendung. Guntur menggelagar di angkasa. Beky dan istrinya mengucapkan pamit untuk pulang ke Surabaya. Beky dan istrinya menjabat tangan saya. Kami berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengan Beky dan kawan-kawan seperjuangan tahun 90an dengan waktu yang lebih panjang. Untuk mengenang masa yang indah yang pernah kami lalui. “Assalamulaikum,” kata Beky dari balik kaca mobilnya yang dibuka separuh. “Waalaikumsalam,” jawabku sambil melambaikan tangan.

*Jurnalis senior dan pegiat literasi, tinggal di Mojokerto

Catatan: Artikel ini dimuat di blog penulis zedabidien.wordpress.com

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini