Peripih Candi Srigading

Cepuk berlapis emas yang ditemukan di sumuran sedalam 2,6 meter di Candi Srigading Malang. (Foto: Wicaksono Dwi Nugroho).
Iklan terakota

Terakota.IDSaat ekskavasi sebuah candi – jika beruntung – tak jarang para juru pugar dan arkeolog menemukan sebuah peripih. Peripih ini biasanya ditemukan di sumuran candi atau dibawah bangunan candi.

Peripih adalah benda-benda tertentu yang ditempatkan dalam wadah tertentu. Biasannya terbuat dari batu, gerabah atau perunggu yang ditanam di beberapa tempat dalam bangunan candi. Umumnya peripih terdiri atas logam mulia, batu mulia, mantra atau rajah.

Ada pula peripih berupa biji-bijian berupa padi, jagung, kopi, jelai, jewawut atau rempah-rempah seperti cengkeh, pala, kemiri, kayu cendana, jinten, serta bunga-bungaan. Di beberapa candi terdapat juga bahan-bahan yang merupakan makanan pokok, bahan minuman, bahan obat-obatan serta ramuan penyedap masakan.

Peripih itu Isinya, bukan Wadahnya. Wadah peripih namanya kotak peripih, meski bentuknya tidak selalu kotak. Pemilihan peripih tergantung dari tujuan pembangunan candi. Misalnya untuk candi yang diperuntukkan memuja kesuburan, maka peripih berwujud biji-bijian. Sementara yang berwujud emas dan permata biasanya untuk pemujaan dewa. Peripih memberi hidup atau nyawa pada candi.

Peripih biasanya terletak pada bagian kaki candi, lambang dunia bawah, tempat kehidupan manusia atau bhurloka. Biasanya pada candi Hindu, di bagian tengah kaki candi ada sumuran, yakni sebuah lubang dengan bentuk persegi yang ditanami peripih. Jika diamati dari luar, keberadaan sumur candi ini tidak terlihat karena tertutup lantai garbhagraha dengan pedestal, asana, serta lingga-yoni atau arca.

Peripih pada bangunan candi mempunyai fungsi penting bagi keberadaan bangunan candi. Peripih merupakan media bagi dewa merasukkan zat inti kedewaannya. Dapat dikatakan peripih merupakan roh sebuah candi. Peripih juga bisa dimaknai sebagai inti dari sebuah candi.

Candi Srigading yang berlokasi di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang diekskavasi pada Februari – Maret 2022. Pada dasar sumuran candi yang berada tepat di tengah candi pada kedalaman tiga meter ditemukan sebuah yoni tanpa cerat dengan lubang di atas berbentuk persegi. Temuan ini sama persis dengan temuan di dasar sumuran Candi Pendem yang berada di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Ditemukan sebuah yoni di sumuran sedalam 2,6 meter di Candi Srigading Malang. (Foto: Restu Respati).

Sebelumnya pada kedalaman 2,60 meter juga ditemukan beberapa artefak pada keempat sudut sumuran candi, yaitu cupu (cepuk) berlapis emas, ceret (ketel) berbahan perunggu, genuk (gendok) berbahan perunggu, dan peralatan pertanian berbahan besi.

Saya menafsirkan bahwa artefak-artefak tersebut merupakan wadah peripih dan berisikan benda-benda peripih. Saat ini semuanya tengah diuji di laboratorium. Penafsiran saya ini berdasarkan temuan di candi-candi Jawa Tengah. Peripihnya bukan hanya berbentuk wadah garbhapatra, namun juga berupa periuk (perunggu, gerabah, porselen), peti batu (batu andesit, batu putih), mangkok (perunggu, gerabah, porselen), dan cepuk (perunggu).

Saya mendapatkan informasi dari teman yang bekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah bahwa saat menggali sumuran (ekskavasi) di Candi Liyangan, ditemukan empat cepuk berbahan perunggu yang mengelilingi peripih. Berbentuk empat persegi, berbahan batu andesit sebagai peripih pusatnya.

Ditemukan pula genuk (gendok) berbahan perunggu di sumuran sedalam 2,6 meter di Candi Srigading Malang. (Foto: Restu Respati).

Dari temuan-temuan di atas, saya menafsirkan bahwa keempat artefak yang ditemukan pada keempat sudut dinding sumuran di Candi Srigading adalah peripih. Sedangkan yoni yang berada di tengah sumuran merupakan peripih inti (utama/pusat). Bukankah pengertian peripih itu adalah isinya? Wadahnya bisa berupa atau berbentuk apa saja.

Sebagai penguat tafsir adalah temuan cupu (cepuk) di sumuran Candi Srigading yang berisikan lempengan emas (sayang belum bisa terbaca karena tertemukan dalam serpihan kecil). Di dalam peripih sering dijumpai adanya lempengan emas.

Tidak mutlak harus berisikan tulisan mantra. Terkadang hanya bertuliskan nama dewa atau gambar dewa yang di puja. Misalnya yang terdapat pada peripih utama di Candi Kedulan Jawa Tengah, lempengan emas bertuliskan “Om Hyang”.

Sepertinya sistem peletakan peripih di Candi Srigading menganut sistem mancapat atau kiblat papat siji tengah. Berorientasi pemujaan pada empat penjuru atau empat sosok yang di puja dengan satu sosok pemujaan utama di tengah. Atau sistem Pancamahabhuta (lima unsur alam) yaitu angkasa, tanah, air, angin, dan api, yang diletakkan secara terpisah dalam masing-masing peripih.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini