Peripih Candi Pendem Kosong Tanpa Isi, Bekas Dijarah

Lubang sebelah timur peripih tampak cacat. Bekas congkelan saat membuka tutup batu peripih. (Foto : Restu Respati).

Terakota.idBalai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi tahap empat di Situs Pendem, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Ekskavasimulai 9 sampai 18 Nopember 2020, merupakan lanjutan dari ekskavasi tahap tiga pada Februari 2020. Setelah ditemukan sumuran (perigi) pada Candi Pendem.

Pada hari ke lima ekskavasi Jumat, 13 Nopember 2020 pukul 14.00 wib, alat gali tim ekskavasi menyentuh sesuatu yang keras di dalam tanah. Selanjutnya proses penggalian dilakukan menggunakan alat yang lebih kecil dan lunak seperti kapi dan kuas. Tampak permukaan batu andesit datar dengan ukuran 45 centimeter kali 45 centimeter, lubang tengah 15 centimeter x 15 centimeter.

Seperti kita ketahui, ekskavasi tahap tiga telah ditemukan adanya sumuran (perigi) di titik sentrum Candi Pendem. Sumuran berukuran 2,1 meter x 2,1 meter. Pada ekskavasi tahap tiga sumuran digali dengan kedalaman 1,20 meter.

Dinding sumuran sebelah timur tampak bekas lubang berdiameter 80 centimeter yang telah ditutup kembali dengan tanah dan batu. Kemungkinan besar candi djarah dengan menggali tanah. (Foto : Restu Respati).

Ekskavasi tahap empat, selain melakukan luasan penggalian pada area situs, juga dilakukan penggalian kembali pada kedalaman sumuran. Setelah memperdalam penggalian sekitar 60 centimeter, akhirnya ditemukan dasar sumuran. Berupa pengerasan bata merah dan juga ditemukan peripih. Kondisi peripih terjepit diantara dua batu besar. Salah satu batu besar diangkat ke permukaan untuk lebih memudahkan proses pembersihan dan menampakkan bentuk peripih dan dasar sumuran.

Peripih adalah benda-benda tertentu yang ditempatkan dalam wadah tertentu (biasannya kotak dari batu, wadah gerabah atau perunggu). Kemudian ditanam di beberapa tempat dalam bangunan candi. Umumnya peripih terdiri atas logam mulia, batu mulia, mantra atau rajah. Di beberapa candi dijumpai peripih berisi biji-bijian (padi, jagung, kopi, jail, jelai, jewawut), rempah-rempah (kemiri, kayu cendana, jinten, cengkeh, biji pala, pinang), serta bunga-bungaan yang sudah tidak dapat diidentifikasi. Di beberapa candi terdapat juga makanan pokok, bahan minuman, bahan obat-obatan serta ramuan penyedap masakan.

Peripih biasanya terletak pada bagian kaki candi, lambang dunia bawah, tempat kehidupan manusia atau bhurloka. Biasanya di candi Hindu, bagian tengah kaki candi ada sumuran yang ditanami peripih. Peripih pada bangunan candi mempunyai fungsi penting bagi keberadaan bangunan candi sebagai tempat ibadah. Peripih merupakan media bagi dewa merasukkan zat inti kedewaannya. Dapat dikatakan peripih merupakan roh sebuah candi.

Bentuk peripih bermacam-macam. Ada yang terdiri dari sembilan lubang dengan masing-masing lubang berorientasi pada delapan penjuru mata angin dan satu di tengah sebagai pusatnya. Ada yang hanya satu lubang sebagai tempat untuk menaruh wadah lagi.

Setelah dijarah sumuran diurug kembali dengan tanah dan batu kali. (Foto : Restu Respati).

Pada Candi Pendem, peripih terdiri dari satu lubang. Kedalaman lubang peripih sekitar 40 centimeter. Tampaknya isi peripih telah hilang. Yang ada hanya tanah, serpihan bata merah, dan sebuah limestone atau tulang yang akan diteliti lebih lanjut.

Yang tertinggal di dasar sumuran saat ini adalah batu peripih. Yakni batu andesit berbentuk empat persegi, dan sebongkah batu putih. Batu peripih dalam keadaan terbuka. Biasanya batu peripih mempunyai tutup. Pada sisi lubang sebelah timur tampak cacat, kemungkinan bekas congkelan saat membuka tutup batu peripih. Batu andesit empat persegi yang tersandar pada dinding sumuran sebelah selatan bisa jadi merupakan penutup batu peripih. Sedangkan bongkahan batu putih sampai saat ini belum diketahui fungsinya. Masih diperlukan kajian lebih lanjut.

Pada dinding sumuran sebelah timur tampak ada bekas lubang berdiameter 80 centimeter yang telah ditutup kembali dengan tanah dan batu. Kemungkinan besar candi ini telah dijarah sebelumnya. Dikuatkan dengan isi peripih yang telah kosong. Bahkan menurut dugaan penulis, penjarahan telah dilakukan dua kali pada waktu yang berbeda.

Yang pertama penjarahan dilakukan dari atas dengan cara menggali dari atas menuju ke sumuran. Setelahnya sumuran diurug kembali dengan tanah dan batu kali.

Yang kedua dengan cara menggali dari dalam tanah (jawa : nge-rong) dari sisi sebelah timur candi ke arah barat sampai menembus sumuran. Dalam cerita tutur diberitakan adanya Maling Aguno yang mempunyai keahlian menggali dan menembus tanah. Sebenarnya profesi ini adalah profesi khusus dan membutuhkan keahlian yang tinggi. Profesi ini digunakan untuk pekerjaan membuat arung atau instalasi air pada jaman kuno untuk menghubungkan air dari sumber air menuju tempat yang dibutuhkan.

Jika dugaan yang kedua benar, maka sisi depan Candi Pendem ada pada arah barat dengan orientasi menghadap ke timur. Dengan asumsi penjarahan menggali dari sisi belakang candi. Jika dari depan akan lebih sulit karena harus menembus tangga candi. Secara kosmologi, orientasi bangunan candi akan mengarah ke timur, yaitu ke Gunung Semeru dan Gunung Bromo sebagai gunung suci, tempat Sang Hyang Brahma.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini