Pergeseran Budaya Kontes Perempuan

Kegiatan penobatan terhadap manusia, pada dasarnya dilandasi oleh keinginan dari sebuah komunitas untuk memberikan penghargaan atas dedikasi yang telah dilakukan dalam sebuah kehidupan masyarakat.

Oleh: Luthfi J Kurniawan*

Terakota.id–Di malam penghujung tahun 2017, tanggal 31 Desember, ada sebuah perhelatan menarik yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (PW Fatayat NU) Jawa Timur. Acara itu bertajuk “Pemilihan Putri Auleea”. Sebuah ikhtiar untuk memberikan beberapa kegiatan alternatif bagi anak-anak muda yang mempunyai kesenangan mengikuti tren, kecenderungan mode dan perilaku anak muda.

Memang hingga saat ini dengan adanya pemilihan atau kontes untuk perempuan yang bertajuk misalnya miss world, miss universe, dan sejenisnya yang diselenggarakan pada tingkat dunia masih timbul pro dan kontra. Ada sebagian kelompok yang mengatasnamakan gerakan feminis juga memberikan tanggapan protes terhadap penyelenggaraan pemilihan miss world, dan sejenisnya. Namun juga tidak sedikit yang memberikan tanggapan positif.

Pemilihan nama Putri Auleea diambil  dari nama sebuah majalah yang dikelola dan diterbitkan oleh PW Fayatat NU Jatim, Auleea. Pemilihan atau kontes ini mempunyai beberapa kriteria penilaian yaitu aspek kecerdasan, aspek penampilan menarik, dan berperilaku baik. Penilaian pada kecerdasan (brain) yaitu bagaimana peserta dapat merespon realitas dan masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya termasuk penilaian pada aspek intelektualitasnya. Sedangkan penilaian pada aspek penampilan menarik (beauty), terkait bagaimana bernampilan dengan tata krama yang patut dan pantas. Sedang bagaimana berperilaku yang baik (behavior), misalnya berkaitan dengan perilaku mereka dalam mengembangkan relasi sosial.

Terlepas dari kriteria penilaian pemilihan dalam ajang putri Auleea ini, yang menarik adalah waktu pelaksanaannya. Yaitu diselenggarakan tepat pada malam tahun baru, tanggal 31 Desember 2017. Penyelenggaraan dan pilihan waktu ini bukan tidak punya maksud. Seperti yang disampaikan oleh Hikmah Bafakih, Ketua PW Fatayat NU Jatim, dalam sambutannya mengatakan, “ kegiatan ini merupakan sebuah ikhtiar dari PW Fatayat NU Jatim untuk memberikan pembelajaran kepada publik khususnya warga Nahdliyin, bahwa perempuan itu bukan hanya masalah kecantikan namun juga harus mempunyai kecerdasan dan keintelektualan dalam turut serta membangun sumberdaya manusia yang berkedabaan melalui kegiatan yang positif. Tidak hanya masalah hura huranya”.

Baca juga :  Menanti Kabar Bima Petrus, Wiji Thukul dan Mereka yang Hilang

Dalam kegiatan penobatan Putri Auleea ini juga dibarengi dengan peluncuran aplikasi cerita tentang keluarga yang baik. Dan tak kalah menarik, dalam kegiatan ini juga dilakukan peluncuran buku berjudul “Oase kemanusiaan.” Buku ini teramat penting bagi siapapun yang berupaya membangun rumah tangga yang harmonis, lingkungan yang beradab, cerdas dalam menyikapi gempuran perubahan orientasi dan gaya hidup, dan tulisan menarik lainnya. Buku ini diterbitkan oleh majalah Auleea, PW Fayatat NU Jatim bersama penerbit Beranda (Intrans Publishing Group).

Semarak Pemilihan Putri Auleea 2017 Fatayat NU Jatim, Minggu(31/12/2017). (Sumber: Dok. Penulis)

Perubahan Budaya

Kegiatan penobatan terhadap manusia, pada dasarnya dilandasi oleh keinginan dari sebuah komunitas untuk memberikan penghargaan atas dedikasi yang telah dilakukan dalam sebuah kehidupan masyarakat. Di masa kini penghargaan kepada setiap manusia tentu telah banyak mengalami perubahan yang sedemikian rupa, termasuk dalam ajang pemilihan atau kontes yang memberikan penilaian terhadap kemampuan perempuan dalam beberapa hal yang dijadikan dasar untuk memberikan penghargaan.

Perubahan yang terjadi mempunyai dua perspektif, yaitu, adanya anggapan perubahan dari yang dahulunya dianggap kurang baik bergeser menjadi lebih baik. Demikian sebaliknya, dari yang baik menjadi dianggap tidak baik. Pemilihan putri Auleea, adalah salah satu contoh yang berupaya memberikan perubahan ke arah yang lebih baik dalam perspektif kepatutan penampilan di muka umum menurut penyelenggara dan para pendukungnya. Jika di jaman dahulu kontes seperti ini hanya menampilkan kecantikan seorang perempuan dan terkesan mengeksploitasi tubuh manusia, maka dalam penyelenggaraan pemilihan Putri Auleea, mengalami perubahan. Ia lebih menekankan dan menilai perilaku sosial dan kecerdasan peserta.

Kontes Masa Lalu

Pada masa lampau, pemilihan atau kontes untuk perempuan ini sebenarnya pernah terjadi sejak tahun 1926. Pada waktu itu perkembangan kemajuan mode berpakaian dan gaya hidup mulai mengemuka. Berbarengan dengan perkembangan kehidupan itulah kemudian digelar perlombaan kecantikan bernama “International Pageant of Pulchritude” di Amerika Serikat. Pada saat itu kontes ini masih diikuti oleh peserta dari Amerika Serikat sendiri. Belum mendunia. Meskipun tajuk acaranya menggunakan sebutan kata “internasional”. Namun kontes ini harus berahir pada tahun 1935 karena perang dunia berkecamuk. Usai perang dunia, kegiatan pemilihan atau kontes kecantikan ini diselenggarakan kembali. Sejak tahun 1951 yang dimotori oleh perusahaan busana Catalina.

Baca juga :  Mencari Metode Latihan Teater, Setiap Tubuh Memiliki Sejarah

Cerita di Amerika serikat tidak berbeda jauh dengan cerita yang ada di London, Inggris. Tentang latar belakang dari adanya penyelenggaraan pemilihan Miss World. Kontes Miss world yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1951, awalnya dilakukan oleh seorang tentara di London yaitu Eric Douglas Morley. Pada mulanya Miss World ini merupakan ajang pengenalan pakaian bikini yang diberi tajuk Festive Bikini Contest atau Kontes Bikini yang Meriah. Hal ini juga tidak berbeda jauh dengan festival yang sama yaitu kontes Miss Universe yang diselenggarakan di Amerika Serikat. Ia merupakan modifikasi dari penyelenggaraan Miss World. Bahkan dalam kontes yang diselenggarakan ini mempunyai nilai bisnis. Semenjak kontes Miss World menjadi waralaba global yang diikuti lebih dari 100 negara dan sejak Miss Word diselenggarakan pada tahun 1951 hingga saat ini telah mampu mengumpulkan uang sekitar sekitar Rp3,4 triliun.

Di Indonesia penyelenggaraan pemilihan ini sangat semarak bahkan menjadi ajang tahunan baik yang diselenggarakan oleh lembaga swasta seperti Yayasan Putri Indonesia yang bertajuk “Putri Indonesia”. Selain itu juga ada kontes putri lingkungan, putri wisata, maupun yang dimodifikasi menjadi duta kecantikan sebuah produk maupun sebuah daerah tertentu.

Dan bahkan di setiap daerah seperti provinsi ataupun kota/kabupaten juga mempunyai ajang pemilihan atau kontes yang sama. Pemilihan yang diselenggarakan di daerah juga melibatkan pemilihan tidak hanya untuk perempuan namun juga untuk laki-laki. Misalnya, di Surabaya ada pemilihan Cak dan Ning, di Kota Malang ada pemilihan Kakang dan Mbakyu. Serta banyak juga di berbagai daerah di nusantara ini yang menyelenggarakan pemilihan atau kontes untuk bakat seorang perempuan.

Luthfi J Kurniawan (Sumber: www.pressreader.com/indonesia/kompas/20171020/281797104232044)

*Direktur Intrans Publishing, Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Baca juga :  Merekonstruksi Instrumen Berdawai di Relief Jajaghu

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini