Pergelaran Sinewayang “Shri Rajasa Sang Amurwabhumi” Terobosan Alternatif untuk Mengusung Epos Nusantara

Pagelaran Sinema Wayang Babad Nusantara Sinewayang “Shri Rajasa Sang Amurwabhumi” di Taman Krida Budaya Jawa Timur. (Foto : dokumentasi panitia).

Terakota.id–Sebuah kisah legenda tentang Ken Angrok, sang pendiri Kerajaan Tumapel (yang kemudian terkenal dengan nama Singhasari), telah digelar dengan apik di balik ‘kelir multi tafsir’, oleh seorang Bagus Bagaskoro bersama sejumlah kawan-kawannya dari Saba Nusa, Solo, pada 4 Desember 2020 di Malang, dan 6 Desember 2020 di Kediri.

Pertunjukan yang diberi tajuk “Sinema Wayang Babad Nusantara”  itu nampaknya sarat dengan harapan dan ‘maksud altertatif’ yang hendak diusungnya. Dengan menyodorkan berbagai tawaran dalam penyajiannya yang berbeda, memang Bagus Bagaskoro dan kawan-kaannya telah berhasil menyajikan Pergelaran Sinewayang Shri Rajasa Sang Amurwabhumi” cukup inovatif.

Upaya eksplorasi yang dilakukannya dalam dunia pertunjukan pewayangan (terutama wayang kulit), yang dipadukan dengan uusur-usnur dan teknis sinematografi, tak bisa diingkari telah mampu menjadikan pertunjukan wayang itu menjadi terasa lebih menarik dan ‘apik’. Atau kalau boleh meminjam istilah Dr. Aris Setiawan dalam catatan press releasenya, bahwa segenap upaya eksplorasi dan tawaran alternatif itu telah membuat tontonan “wayang sinematik” itu menjadi lebih segar dan greget.

Masih meminjam uraian dari Dr. Aris Setiawan, bahwa sosok-sosok wayang disuguhkan dengan hanya bayangannya saja, sebagai upaya memberi kebebasan imajinasi bagi penonton dalam mempersepsikan bentuk dan wajah wayang sesuai keinginannya.

Pertunjukan Sinematik Wayang Shri Rajasa Sang Amurwabhumi di Taman Krida Budaya Jawa Timur, memikat penonton.(Terakota/Wulan Eka).

Lewat bayangan itu, karakter wayang lebih mudah dieksplorasi dengan memainkan gerakan menjauh dan mendekat dari sumber cahaya, sehingga memunculkan pelbagai kesan unik, membesar-mengecil, wigati dan gecul. Sebagaimana anak kecil memainkan jari-jari tanggannya di depan lilin saat lampu padam. Jari tangan itu dengan seketika menjadi kupu-kupu, burung bahkan ular (Catatan Press Release).

Percapakan antar tokoh wayang dilakukan dengan bahasa Indonesia (lazim dikenal dengan nama sandosa), agar pesan yang hendak disampaikan mudah ditangkap. Dan lebih penting dari itu semua, adalah kemasannya yang dikolaborasikan dengan unsur-unsur sinematik selayaknya film animasi.

Tiba-tiba layar putih kelir itu berubah menjadi warna merah menyala, berkorbar api, dan busur-busur panah beterbangan saat peperangan terjadi. Musik dibunyikan dengan garapan baru, memadukan gamelan dengan pelbagai genre musik untuk menguatkan nuansa adegan-adegan tertentu. Semua dibungkus dengan gaya kekinian, semata agar generasi tertarik dan tak lagi abai. (Dr. Aris Setyawan, dalam Catatan Press Release).

Apa yang diuraikan oleh Dr. Aris Setyawan dalam catatan Press Releasnya, dan apa yang telah kita saksikan di balik “kelir multi tafsir” dalam sajian wayang sinematik pada tanggal 4 dan 6 Desember 2020 kemarin, begitulah adanya. Sebuah suguhan yang cukup refresh, unik, apik, dan menarik.

Namun, bagai pepatah yang mengatakan bahwa di dalam kehidupan di dunia ini, “tak ada gading yang tak retak”. Maka dengan segala hormat dari rasa apresiasi yang telah tersampaikan, kiranya perlu juga diajukan beberapa catatan lain terhadap karya eksploratif dan kompilatif ini.

  • ●●

Penggunaan ilustrasi gambar yang disorotkan oleh LCD proyektor sebagai teknis pencahayaan sekaligus sebagai penggambaran setting sebetulnya mempunyai efek yang sangat efektif dan dramatik untuk daya dukug penyampain misi cerita dan pembangun kekuatan artsstik dan estetikanya. Namun sayangnya, penyajian ilustrasi gambar sebagai latar adegan yang sedang berjalan agak sering kurang pas dan kurang memperkuat kejelasan maksud adegan yang sebenarnya hendak ditampilkan.

Andai setting gambar lebih benar-benar digarap, disesuaikan dengan kebutuhan adegan, lebih diterjemahkan dalam kebutuhan esensi cerita dan adegan, dan tidak sekedar menampilkan gambar-gambar ilustratif semata, dengan pencahayaan dan pewarnaan yang menarik, mungkin greget cerita sinewayang ini akan lebih ‘tajam’ menusuk rasa estetika para penontonnya.

Foto : Dokumen Panitia

Mestinya, gambar-gambar yang ditampilkan dalam sorotan pencahayaan tidak saja sebagai pilihan prinsip sekedar ilustrratif-artitistik, namun seharusnya lebih sebagai  ilustratif-fungsional.  Artinya gambar ilustrasi yang disajikan sekaligus sebagai setting latar setiap adegan cerita yang sedang berjalan.

Kalau dalam pernyataan pendahuluan sebelum pertunjukan dimulai, sang Bagus Bagaskoro, sebagai pengusul dan yang memiliki gagasan atas pertunjukan ini, mengatakan salah satu harapannya bahwa upaya alternatif dalam pertunjukan ini semoga bisa menjadi hal yang akan berterima di kalangan generasi kekinian, agar genarasi milenial tidak abai terhadap sejarah, dan bisa menerima wayang sebagai salah satu media penyamaian sejarah tersebut, dalam pertunjukan ini rasanya masih terasa ragu-ragu dalam berartikulasi. Baik sebagai artikulasi pengadeganannya, maupun artikulasi dalam hal cerita atau ujaran historinya.

Bukan sama sekali isi ceritanya tidak nyampai, namun mungkin karena pada pengadeganannya kadang masih tertangkap agak gamang, dan perangkaian peristiwa dalam kesatuan ceritanya juga masih kurang menukik, maka terkadang untuk penonton yang masih awam sejarah (dalam hal ini generasi zaman now), mereka akan agak kesulian menangkap maksud secara utuh tentang cerita sejarah apa yang harus ditangkapnya.

Dan lagi, poteensi kekuatan drmatik dari legenda ini mestinya bisa muncul lebih tajam dan menukik dari pertunjukan wayang biasa. Namun sampai pertunjukan selesai, ‘harapan lebih’ itu beum terpenuhi.

Teknik memainkan wayang yang tak lagi dilakukan oleh seorang dalang, namun dilakukan oleh beberapa (banyak orang) baik secara dialog maupun dalam hal memainkan gerakannya, mengingatkan kita pada Film Boneka “Si Unyil”.

Bedanya kalau dalam film boneka Si Unyil, wayang berupa boneka (3 dimensi) dan settingnya juga setting miniatur 3 dimensi. Sedangkan dalam sinewayang ini, tokoh pelaku berupa wayang kulit (tidak 3 dimenesi) dan settingnya pun berupa gambar 2 dimensi. Akan tetapi, teknis memainkannya mirip, atau sama begitulah.

Hal itu bukanlah persoalan. Namun dalam konteks ini, yang sedikit menjadi ganjalan adalahh, dialog yang sudah  “di-bahasa-Indonesiakan”,  serta setiap tokoh wayang di-dubing oleh seorang pemain/duber (mungkin juga satu orang dubber harus mengisi beberaa tokoh wayangnya), kadang terdengar kurag mantab, dan pada beberapa tokoh wayang kadang karakter suara kurang pas.

Foto : dokumen panitia

Inilah yang juga menjadi faktor kenapa pertunjukan yang sebenarnya memiliki potensi sangat spektakuler ini, kadang masih terasa kurang ‘mantab’, dan terasa agak ngambang.

  • ●●

Sementara, eksplorasi dalam hal musik cukup oke dan segar. Iringan musik dengan garapan-garapan baru untuk sebuah pertunjukan wayang, yang keluar dari pakem, liar, dan kompilatif itu sebenanrya adalah salah satu modal yang sudah memberi peluang dan jaminan bahwa pertujuan ini sebenarnya bisa menjadi pertunjukan yang tak saja unik, tapi repesetatif.

Namun demikian, tak apalah. Yang jelas, secara keseluruhan dan keutuhan, sinewayang “Shri Rajasa Sang Amurwabhumi” telah berhasil dengan menarik dan cukup memikat hadir di tengah masyarakat untuk mengisi progres seni pertunjukan di Idonesia. Adalah sebuah kepantasan jika pertunjukan ini mendapat Fasilitasi Bidang Kebudayaan dari pemerintah (Kemendikbd).

Yang jelas, ‘sinewayang’ yang telah digagas dan diprogres oleh Bagus Bagaskoro (sebagai penggagas dan komposer), Sambowo Agus Heriyanto (Sutradara), Wahyu Dunung Raharjo (Penulis naskah), dan didukung oleh sejumlah kawan seniman dan teknisi dari Solo ini, telah lahir sebagai fenomena yang berbeda.

Hanya tinggal menanti konsistensi dan progres lanjutan dari mereka ituah, kita bisa berharap bahwa sinewayang semoga bisa menjadi salah satu alternatif, tidak saja bagi genre baru seni pertunjukan wayang, namun juga bisa menjadi media untuk “memelek-sejarahkan” generasi kekinian kita (generasi milenial) agar tertarik dan mampu memahami sejarah hidup bangsanya.

Apresiat dan selamat untuk Bagus Bagaskoro, dan kawan-kawan. Ingatkah pada tahun 1988 silam, ketika engkau sempat terlibat membut pertunjukan “Teater Wayang” sebagai upaya alternatif dari segala keterbatasan dan ‘kemiskinan’ kita saat itu?
Masih ingatkah engkau dengan “Ki Dalang Pur” (Puryanto – Ngaw)? Masih ingatkah engkau dengan ‘peristiwa Reformasi 1988’, yang kita sambut dengan mempertunjukan “Teater Wayang” keliling ke beberapa tempat dengan penuh kenekatan?

“Aku tunggu, ‘sinewayang’ ini akan benar-benar menjadi HEBAT, kawan!”■■

 

Tegalgondo, 7_Des_2020

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini