Pergantian Tahun, Menatap Masa Depan

Perayaan dan peringatan tahun baru di Yogyakarta. (Foto : BBC Indonesia).

Oleh : Hariyono*

Terakota.id–Meninggalkan tahun 2018 beralih melangkah ke tahun 2019 banyak kenangan yang membekas serta harapan yang terpancar. Tentu ini membutuhkan sudut pandang yang positif. Suatu apresiasi terhadap apa yang pernah kita alami dan ekspektasi yang terus diharapkan dan perjuangkan.

Seseorang atau bangsa yang sebagian energinya fokus pada perjuangan menggapai cita cita biasanya kurang peduli pada isu atau tindakan orang/komunitas/bangsa lain yang kurang relevan dengan cita cita masa depannya. Mereka lebih peduli dengan perjuangan dan prestasi yang ditorehkan untuk menggapai capaian yang lebih besar.

Narasi diri, komunitas dan atau bangsa nya dibangun untuk mekapitalisasi keberhasilan yang telah dicapai untuk melipatgandakan energi perjuangan di masa yang akan datang.

Tanpa mengabaikan kekurangan dan atau ketidaksempurnaan yang telah dilalui, kita sebagai bangsa memang harus terus belajar dan menggali mutiara kebajikan yang ada untuk membuktikan bahwa kita memang bangsa yang percaya diri sekaligus miliki prestasi. Keberhasilan seseorang atau bangsa bukan sesuatu yang turun dari langit begitu saja. Keberhasilan membangun diri dan atau bangsa dalam membangun peradaban dicapai melalui suatu perjuangan yang didasari oleh semangat juang, kreativitas dan daya cipta.

Kita memang bisa sedih dan prihatin dengan masih maraknya tindak korupsi yang dilakukan oleh kalangan elit politik, birokrat dan swasta di tahun 2018. Kita juga prihatin dengan masih maraknya tindak dan atau perilaku intoleran yang mengancam keharmonisan dan eksitensi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Kita juga sedih melihat kenyataan masih maraknya narkoba sehingga mayoritas penghuni lembaga pemasyarakatan dihuni oleh pengedar dan pecandu narkoba. Kita juga bisa jengkel dengan informasi hoax yang mengacak acak komunikasi dengan bersembunyi di balik argumentasi zaman pasca kebenaran. Demikian pula kesenjangan sosial ekonomi yang ada perlu dikurangi.

Tetapi apakah kesedihan dan keprihatinan terhadap korupsi, perilaku intoleran, narkoba dan hoax serta kesenjangan sosial ekonomi harus menyita energi bangsa sehingga lupa terhadap keberhasilan dan capaian positif yang telah ditorehkan oleh anak anak bangsa? Bahkan lupa atau tidak mau tahu dengan visi dan misi pendiri bangsa dalam membangun negara kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila?

Keberhasilan dalam menyelenggarakan serta menggapai prestasi di Asian Games dan Para Asian Games yang spektakuler perlu dinarasikan terus menerus untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia juga bisa berprestasi di tingkat dunia.

Mental inferior dan kekaguman sebagian anak bangsa akibat silau dengan prestasi bangsa lain bisa dihentak dan diubah untuk menjadi pribadi dan atau bangsa yang percaya diri. Kita sebenarnya bisa berprestasi selama percaya diri, mau kerja keras dan terus mengasah kecerdasan.

Ternyata kita tidak hanya punya pejabat yang korup melainkan juga miliki banyak pejabat yang berintegritas dan menorehkan prestasi. Mereka bisa menjadi teladan bagi kita semua bahwa pemimpin yang berjiwa negarawan, rela bekerja keras, rendah hati dan hidup bersahaja juga masih ada.

Demikian pula individu yang berprestasi di bidang olahraga, kesenian, IPTEKS, kewirausahaan bertebaran di pelbagai lembaga dan atau komunitas. Mengapa sinar dan cahaya bintang bintang anak bangsa yang penuh gemerlap tidak kita kapitalisasi untuk terus membangkitkan inspirasi dan kreativitas guna menggapai peradaban dan kemajuan bangsa yang lebih baik?

Demikian pula keberhasilan pemerintah dalam membangun infrastruktur fisik yang potensial memperlancar mobilitas manusia, barang, jasa dan informasi di seantero negeri tidak kita syukuri dan rawat untuk mempererat tali persaudaraan saudara sebangsa dan setanah air?

Kesenjangan sosial ekonomi perlu diatasi secara struktural dan kultural agar keadilan dan atau kohesi sosial sebagai sesama anak bangsa dapat terjaga. Indonesia adalah milik kita semua. Pemerintah, swasta dan masyarakat miliki tanggungjawab bersama menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita perlu bersyukur terhadap apa yang telah kita gapai dan tidak larut memikirkan dan membicarakan sisi kelemahan dan kekurangan sesama elemen bangsa.

Keberhasilan perjuangan menguasai saham mayoritas perusahaan pengelola Freeport yang sebelumnya diwarnai oleh pesimisme sebagian elit ternyata bisa terwujud merupakan prestasi bangsa yang perlu dibanggakan.

Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua.(ANTARA)

Pancasila dalam tataran konsepsi dan aktualisasi perlu kita perjuangkan terus menerus. Mutiara nilai nilai Pancasila harus terus digali, dirawat dan diperjuangkan agar mindset dinamis bangsa dapat terus optimis dan penuh harapan di tahun 2019.
Pancasila sebagai sarana pemersatu sekaligus cita cita bangsa harus kita rawat dan perjuangkan bersama.

Pilihan legislatif dan presiden di bulan April 2019 hanyalah sarana menciptakan sirkulasi elit politik untuk calon pemegang amanah dari rakyat. Proses tersebut perlu kita kawal dan laksanakan tanpa harus terseret pada energi negatif untuk saling meremehkan dan atau melecehkan kontestan lain yang dapat membahayakan persatuan dan kemajuan bangsa.

Untuk merealisasikan semua itu diperlukan perubahan mindset dinamis, cara berpikir yang positif serta keberanian dari kita semua untuk menggeser cara pandang negatif terhadap diri dan saudara sebangsa dan setanah air menjadi lebih positif. Kita bisa miliki perbedaan pilihan terhadap calon Presiden dan wakil Presiden, partai politik hingga calon legislatif.

Tetapi kita sadar bahwa kita adalah saudara sebangsa dan setanah air yang menginginkan masa depan bangsa dan anak cucu kita bisa hidup dengan cerdas, maju, damai dan penuh kebahagiaan. Korupsi, ujaran kebencian, narkoba, teroris hingga hoax adalah musuh bersama anak bangsa karena tidak sesuai dengan nilai nilai Pancasila.

Pancasila sebagai cita cita bangsa harus terus menerus dikonstruksi dan diperjuangkan sebagai jalan sekaligus tujuan menuju bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dan memasuki tahun 2019 kita semua bisa memperjuangkan dengan rasa percaya diri bahwa kita adalah bangsa besar yang berkelindan pikiran, jiwa dan cita cita besar. Tentu itu semua membutuhkan perjuangan karena percaya bahwa Tuhan akan mengubah nasib suatu bangsa tatkala bangsa yang bersangkutan berjuang dengan tulus dan serius.

Salam Pancasila.


*Pelaksana Tugas Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini