Perempuan, Rahim Masyarakat, Ibu Peradaban…

“Kita sekarang haroes mentjari dasar jang tetap oentoek memberi arti kepada keperempoenan. Dan arti itoe tidak lain, tidak boekan, hanjalah haroes didasarkan kepada -Kemanoesiaan-“ Sri Mangoensarkoro pada Kongres Perempuan Indonesia II (1935)

Oleh : Diana Manzila*

 

Terakota.id-Perempuan adalah madrasah pertama bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya, Maka pertanyaannya adalah “bekal apa yang harus dipersiapkan oleh sosok Ibu untuk mendidik anaknya?.” Pernyataan di atas akan mengurai banyak hal, dalam perjalanannya mengapa perempuan harus merdeka.

Tafsir pernyataan yang dibenarkan semua agama, harus menjadi acuan bersama untuk menengok dan mengoreksi kembali beban “perempuan.” Bagaimana sosok Ibu harus menanam bibit-bibit nilai pada kader abadinya “anak”. Kenapa hal ini penting untuk dikaji dewasa ini, penulis melihat penyakit kronik yang diderita pemuda dan pemudi adalah “Perempuan adalah manusia kelas dua” yang bisa dijajah dengan dekte cantik kosmetik, fashion, dan simbol keanggunan fisik dengan otak kosong.

Pemujaan semu ini merugikan kedua belah pihak (Jika perempuan sendiri tidak sadar akan sangat parah imbasnya); baik lelaki yang akan terus memiliki sifat “Misoginis” (baca: Misoginis)dan perempuan yang selalu tidak percaya diri dengan kompetensi dirinya. Sehingga merasa tidak perlu mengasah apapun dan harus bergantung pada makhluk superior (lelaki dalam kasus ini).

Parahnya kesadaran semu dengan dekte-dekte modernitas memunculkan sikap Kaum Perempuan akan merendahkan sesamanya” (baca: Sosialita).  Dari satu cuplikan episode pelabelan “perempuan” seperti yang penulis sampaikan di atas, kita perlu menengok sejarah pergerakan perempuan Bangsa ini.  Kelekar kerasnya perempuan turut menyumbang gerakan revolusi Indonesia dengan otak jitu dan ide yang diusung untuk “kemanusiaan.”

Baca juga :  Tirta Suci Pelepas Dahaga

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini