Perempuan dari Musim Hujan, Potret Perempuan dalam Ironi

“Ketika dihadapkan pada keluarga, pada kenyataannya terdapat relasi gender yang njomplang. Yang melemahkan perempuan itu siapa, laki-laki atau perempuan itu sendiri?”  

Melalui naskah Perempuan dari Musim Hujan, Anwari hendak menyampaikan kegelisahannya terhadap realitas atas perempuan hari ini. (Terakota/ Wulan Eka).

Terakota.idBerawal dari mimpi bawah sadar, lantas menjelma menjadi suatu impian. Keresahan hidup Anwari dituangkan dalam naskah teater. Hadirlah naskah berjudul Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan yang ditampilkan dalam Parade Teater Saling Kunjung Dewan Kesenian Malang (DKM) yang bertajuk Udara Segar.

Dua naskah ditampilkan terpisah. Obelisk menampilkan perbincangan dua aktor yang mempertanyakan unsur ketunggalan. “Kebenaran hari ini tak ada yang tunggal. Benar pada satu orang tak selalu benar untuk yang lainnya,” ujar sutaradara dan penulis naskah, Anwari.

Sementara dalam naskah Perempuan dari Musim Hujan, Anwari hendak menyampaikan kegelisahannya terhadap realitas atas perempuan hari ini. Perempuan sebagai pusat estetika, pengetahuan hingga pusat kehidupan pada nyatanya masih hidup di bawah bayang-bayang ironi.

“Ketika dihadapkan pada keluarga, pada kenyataannya terdapat relasi gender yang njomplang. Yang melemahkan perempuan itu siapa, laki-laki, atau perempuan itu sendiri?,” tutur Anwari.

Menurutnya, walaupun dimana-mana digaungkan paham feminis, namun kenyataannya perempuan masih saja terbelenggu dalam sistem patriarki. Perempuan menjadi lemah ketika dihadapkan dengan laki-laki. Ketika berkeluarga. Sistem pembagian kerja yang pandang gender turut menyuburkan patriarki.

“Mengangkat koper misalnya, perempun akan dilarang. Jangan berat, ini pekerjaan laki-laki. Ironisnya,  perempuan  menerima stigma pelemahan ini,” kata Anwari.

Adegan perempuan dengan tumpukan buku di atas kepala. Membolak-balikkan lembar demi lembar buku digenggamannya. Menorehkan tinta dari pena menggambarkan esensi dasar pengetahuan manusia sebagai awal muasal pembentukan realita.

“Desain perempuan, kodratnya di rumah tangga. Siapa yang membentuk pengetahuan jenis ini, bukankah ini berawal dari informasi yang terus diamini?” ujar Anwari.

Pimpinan Kamateatra Art Project ini menilai pengetahuan tentang perempuan sudah menjadi warisan turun temurun dari generasi sebelumnya. Suatu pemahaman yang disepakati bersama mengenai konsepsi gender perempuan, posisinya  berada di bawah laki-laki.

Melalui tampilan ini kolase pengalaman-pengalaman Anwari selama bersinggungan dengan perempuan dicurahkan dalam adegan demi adegan teater. Terdapat adegan catwalk aktor dengan berlagak model mengitari panggung.

Anwari menilai walaupun dimana-mana digaungkan paham feminis, namun kenyataannya perempuan masih saja terbelenggu dalam sistem patriarki. (Terakota/ Wulan Eka).

“Perempuan memiliki sisi ingin tampil, ingin dilihat, ingin diperhatikan. Menyukai keindahan, kebahagiaan,” ujar Anwari menambahkan.

Absurditas manusia juga ditampilkan dalam tampilan ini melalui adegan perempuan yang bersumpah serapah pada batu. “Minggir….bangsat…”

Makian demi makian terlontar dari perempuan, mencerca batu kecil yang tak beranjak sedikitpun dari posisinya. “Manusia hari ini banyak yang mencari pembenaran diri sendiri, lantas mengkambinghitamkan hal lain. Jika bukan makhluk hidup, benda mati,” kata Anwari.

Batu yang mati dan diam tak pelak menjadi sasaran pembenaran diri manusia. Tak sadar bahwa manusia adalah makhluk yang suka berbuat salah. Anwari menilai manusia mabuk pada tampilan ‘baik’, ingin diketahui kebaikannya oleh publik.

Ironi lain yang ditampilkan Amwari adalah keterbungkaman suara perempuan. Ditampilkan aktor perempuan memerankan biduan dangdut yang rancak dengan pembawaan diri nan heboh. Dengan mengenakan daster.

“Ada kengerian ketika tetangga saya perempuan, adik saya perempuan, teman-teman saya perempuan, depan saya perempuan, samping saya perempuan. Ada banyak suara perempuan yang ingin disampaikan, tapi apakah publik menerima?” ujarnya.

Daster merujuk pada ibu-ibu, perempuan telah menikah. Dalam status hubungan yang pada beberapa kasus mengikat atau jika tak bisa disebut memjerat, Anwari menunjukkan jika perempuan masih bisa bersenang-senang. Masih bisa bersuara dengan caranya sendiri.

Akhirnya Anwari memandang perempuan hari ini masih berada dalam himpitan ironi, terjebak pada stigmaisasi nan kontradiktif. Melalui Perempuan dari Musim Hujan, ia menampilkan sosok perempuan yang hadir selepas kemarau, setelah situasi kegamangan. Perempuan yang menghadirkan kesejukan, dan pertumbuhan pada diri perempuan.

Apresiasi atas Ide Anwari

Putra Yuda, sutradara Teater Gelanggang yang berlokasi di Jember menilai pertunjukan karya Anwari kali ini menyajikan keunikan. “Menggunakan teks sebagai pusat akrobat, sebelumnya menggunakan tubuh sebagai media perform,” ujar Putra Yuda.

Putra Yuda mengapresiasi ide Anwari dalam menampilkan sisi sejarah pada naskah Obelisk melalui adegan aktor yang ditutup kepalanya dengan kain. Pemilihan lagu Bintang Kecil dinilai tepat untuk menggambarkan nihilisme atau omong kosong pada konsep ketunggalan.

Putra Yuda juga mempertanyakan siapa perempuan yang dirujuk Anwari pada penampilan naskah Perempuan dari Musim Hujan. Menurutnya perempuan ketika ingin menjadi subjek, hal itu berarti ia sedang menunjukkan sosok laki-laki dalam bentuk lain.

Naskah Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan disusun dalam kurun waktu setahun sejak penyusunan kerangka. Penampilan naskah Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan oleh kelompok Kamateatra Art Project di DKM ini merupakan kali pertama.

“Sejak 2019 sudah ingin ditampilkan para aktor, namun terkendala pandemi Covid-19,” ujar Anwari.

Produser Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan Elyda K. Rara menyatakan para aktor berlatih selama tiga bulan dengan metode karantina. Lima hari dalam sebulan pemain berkumpul di Kamateatra Art Space. Karantina dipilih sebab para aktor berasal dari berbagai daerah, Bangkalan, Lamongan, dan Malang.

Menerapkan sistem latihan gabungan luring-during. Reading dan bedah naskah menggunakan aplikasi pertemuan daring. Latihan luring digelar dalam tiga sesi karantina dalam tiga bulan,” ujar Elyda memaparkan.

Selama proses latihan, para aktor diberi kebebasan dalam menafsirkan konsep perempuan. Anwari mengaku sebagai sutradrara, ia tak ingin mendekte aktornya. Ia membiarkan para aktor memiliki pikiran dan pandangan tersendiri tentang perempuan.

Kamateatra Art Project merupakan wadah kolaborasi seni pertunjukan kontemporer, teater, musik, film, sastra, hingga tari. Kamateatra didirikan pada 17 November 2016 oleh pasangan Anwari dan Elyda K. Rara di Singosari, Kabupaten Malang. Kerap menggelar diskusi seputar perkembangan seni pertunjukan, workshop, residensi seniman hingga penampilan karya pertunjukan dari komunitas seni.

Selama pandemi Covid-19, Kamateatra berkreasi dengan menggunakan kanal YouTube Kamateatrea Art Project. Melalui kegiatan parade teater gelaran DKM ini Elyda berharap penggiat teater, produser hingga sutradara di Malang Raya saling membangun jejaring.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini