Denny Mizhar sedang membacakan "Percakapan Imajiner dengan Chairil" pada Malam Chairil Anwar di Kota Malang yang bertepatan dengan Hari Puisi, 28 April 2018. (Terakota.id/HA. Muntaha Mansur)
Iklan terakota

Oleh: Denny mizhar*

Terakota.id–Cril, aku mengenalmu sejak sekolah dasar. Waktu itu guru Bahasa Indonesia memintaku untuk mengikuti lomba membaca puisi. Aku tak paham puisimu, aku hanya membaca dengan arahan guruku. Karena guru sekolah dasar itulah sehingga aku terpaksa membaca puisi di depan juri. Alhasil, aku mendapat juara.

Ingatan tentang puisimu hanya waktu sekolah dasar, selebihnya, tak membekas hingga aku pergi ke kota Malang untuk sekolah yang lebih tinggi di fakultas ekonomi dengan harapan setelah lulus kerja kantoran, menikah dan beranak pinak. Dan diam-diam kau membacakan puisi untukku:

Tak Sepadan

Aku kira
Beginilah nanti jadinya
kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-disumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu jua pintu terbuka

Jadi baik juga kita pahami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
(Chairil Anwar, Februari 1943)

Kau kembali diam sambil mematung, seperti patung yang kusaksikan di Jl. Kayutangan di kota ini. Lalu lalang orang-orang, dan kau kepanasan juga kehujanan. Mereka harus tau, kau adalah pahlawan bagi puisi hingga puisi di negeri ini menjadi bertenaga meninggalkan gaya lama yang ditulis oleh Amir Hamzah dan sezamannya.
Cril, kesadaran menentukan lain untuk jalan hidup bagiku, sebuah pilihan. Menghidupkanmu, menjagamu seperti yang kau inginkan: “Aku ingin hidup seribu tahun tahun lagi”.

Dan sebuah pilihan bekerja untuk sastra di komunitas. Bukan kerja kantoran seperti mimpi orang kebanyakan. Kau tau, dunia sastra di negeri ini masih di pinggiran. Bahkan terpinggir, nanti aku ceritakan lebih jauh bagaimana sastra di kota ini. Oh ya, aku jadi ingat pada sebuah forum diskusi saat itu Eka Kurniawan menjadi narasumber. Eka mengatakan bahwa pembeli bukunya di negeri ini tak sampai 1 % penduduk Indonesia. Itu buku prosa Cril, bukan buku puisi. Aku tahu, buku puisi lebih mengenaskan lagi.

Mungkin, bila seseorang bergantung pada puisi dan hidup dari puisi pada zaman ini, harus kuat-kuat puasa. Meski aku tau, kau lahir dari keluarga cukup mapan dan kedatangan tentara Jepang membuat hidupmu berjarak dengan keluargamu. Dan kau memilih itu hingga nasib mempertemukanmu dengan kekerean. Tapi bukan kere yang biasa saja, ujar Rendra “kemiskinan yang gagah”. Karena miskin harta bukan hal yang menyedihkan, tetapi miskin budaya dan miskin intelektual lebih mengerikan. Mungkin ini yang sedang negeri ini alami, Cril. Sehingga hidup tak lagi puitis. Kekerasan atas nama agama di mana-mana sebab beragama tidak puitis lagi.

Suatu hari aku bertemu dengan penulis pemula dan sudah menulis banyak puisi lantas kutanya padanya, apakah mengenalmu. Dan jawabnya tidak, sungguh menyedihkan. Di hari ini tepat di hari kematianmu perayaan atas puisi di mana-mana. Aku khawatir perayaan ini hanya seremoni belaka dan tak mebekas menjadi makna dan mentauladani spiritmu: pencarian dan pembaharuan dalam puisi atau dalam apapun. Kau kembali membuka lembaran lamamu, kau membaca puisi yang berjudul Rumah:

RUMAHKU

Rumah ku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah ku dirikan ketika senja kala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumah ku dari unggun timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi
Tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

Chril, semangat hidupmu, pencarianmu atau pilihan hidupmu adalah spirit bagiku. Seorang yang terus belajar dan belajar. Tetapi puisi di negeri ini, diharapkan hidup tapi dibunuh perlahan. Seperti di kota ini, tak pernah ada perayaan sastra dari pejabat-pejabat pemerintah, mereka sibuk membangun kota untuk pariwisata. Aku kadang merenung di samping patungmu. Mengenang dan membayangkan perjumpaan denganmu dan kota ini. Kau pernah menulis puisi dengan titimangsa di kota ini. Ah, begitulah kita selalu luput membaca sejarah mungkin bahkan di sekolah-sekolah. Kami yang sedikit ini akan terus menyalakan api semangatmu.

Malam ini Cril, kami sedang merayakan hari kematianmu. Kamu baik-baik saja ya di sana. Kami akan melanjutkan apa yang menjadi cita-citamu. Seperti puisi yang kau sadur dan kau beri judul Kerawang Bekasi karena puisi ini Jassin membuat kritik atasmu, puisi plagiasi dari karya Archibal McLeish dengan judul Young Dead Soldier. Dan kau curhat pada Mochtar Lubis bahwa saduran puisimu lebih indah dari puisi asalnya. Kau membacanya:

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan ati 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenang lah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenang lah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Baiklah, Cril. Sebentar lagi puisimu akan dirayakan, hari kematianmu diperingati. Semoga perayaan malam ini menjadi spirit baru bagi kami. Kami lebih mencintai puisi, kami lebih banyak membaca. Meski kau bilang:
“Bukan maksudku mau berbagi nasib
Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

Dan untuk mengakhi aku berbicara denganmu, aku kutip pidatomu kuharap selapas ini kau kembali pada rumahmu: Puisi.

Tiap seniman harus seorang perintis jalan, adik
Penuh keberanian, tenaga hidup.
Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas,
Mengarungi lautan lebar-tak-bertepi
Seniman adalah dari hidup yang melepas – bebas

Selamat jalan, Cril. Kami akan merayakan puisi.
Selamat Hari Puisi.

Tulisan ini sebelumnya telah disampaikan dalam orasi budaya di Malam Chairil Anwar, Sabtu 28 April 2018, di Kota Malang.

*Penyair dan Pegiat Pelangi Sastra Malang.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini