Benda Cagar Budaya di Situs Sekaran “Dijarah” Pemburu Harta Karun

Muhammad Arifin menunjukkan penemuan cicin dan logam yang diduga benda cagar budaya di sekitar Situs Sekaran. (Terakota/ Sitti Nur Khadijah).

Penulis : Wulan Eka*

Terakota.idSudah menjadi rahasia umum, beragam benda cagar budaya di sejumlah situs purbakala dijarah para pemburu harta karun. Seperti yang terjadi di Situs Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Para pemburu harta karun mencari koin kepeng dan emas.

“Banyak pemburu harta karun yang ikut menjarah benda cagar budaya di sekitar situs Sekaran sejak November  2018,” kata warga Desa Sekarpuro, Muhammad Arifin.

Mereka mencari benda cagar budaya tersebut di sekitar 500 meter dari situs. Terutama arah utara, yang banyak berserakan benda-benda jejak petilasan seperti pecahan gerabah, pecahan keramik. Uang koin kepeng, mereka jual ke kolektor. Koin kepeng berbobot 19 kilogram dihargai sebesar Rp 250 ribu.

“Banyak tersebar nggak perlu menggali,” katanya.

Arifin hobi berburu harta karun sejak bujangan. Kawasan sekitar Situs Sekaran dulu terkenal sebagai tempat wingit atau angker. Hobi Arifin juga diikuti pemuda pemuda desa setempat, juga orang luar daerah. “Kadang dapat emas, dijual kepada kolektor yang sering ke sini,” katanya.

Para kolektor menanyakan temuan barang kuno. Arifin berburu harta karun Sabtu dan Minggu, di sela aktivitas kerja sebagai perajin mebeler. Arifin biasa menyusuri sungai dan ladang menggunakan alat pendeteksi logam. “Barang yang terlanjur dijual sekarang tinggal kenangan,” ujar Arifin dengan nada menyesal.

Setiap menemukan benda cagar budaya, Arifin menyimpan dan mendokumentasikan. Foto dokumentasi dikirim kepada sejarawan Universitas Negeri Malang, lantas dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Arifin menyadari aksi penjarahan situs cagar budaya bisa dijatuhi sanksi pidana.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugrohomemeriksa benda yang diduga cagar budaya. (Terakota/Sitti Nur Khadijah).

BPCB Jawa Timur melakukan sosialisasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sejak ditemukan situs Sekaran . Mengundang tokoh masyarakat, dan perangkat desa saat dilakukan ekskavasi Maret 2019. Arkeolog BPCB Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan sosialisasi berisi tentang pelanggaran terhadap benda cagar budaya.

Orang yang sengaja tidak melaporkan temuan  benda, bangunan, struktur atau lokasi yang diduga situs cagar budaya, kata Wicaksono, bisa dikenakan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara dan/atau  denda maksimal lima  Rp 500 juta. Sementara yang sengaja mencari benda cagar budaya tanpa izin pemerintah, bisa diancam pidana penjara minimal tiga bulan, maksimal 10 tahun dan/atau  denda minimal Rp 150 juta, maksimal satu miliar rupiah.

“Jangan sampai warga terjerat hukum,” kata Wicaksono Dwi Nugroho. Penemuan benda cagar budaya, katanya, seharusnya ditindaklanjuti dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malang. Benda bernilai sejarah seperti uang kepeng bisa dimiliki secara pribadi karena barang temuan cukup banyak. Asal diregistrasi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, selanjutnya benda yang ditemukan boleh disimpan sebagai barang koleksi.

Sedangkan benda yang dianggap langka dan diperlukan pemerintah bisa menggunakan mekanisme ganti untung. Nilai ganti untung tergantung kondisi dan nilai sejarah. Sementara temuan berupa logam nilainya ditentukan dari bahan baku, biaya pengerjaan, ditambah nilai sejarah.

“Mencari benda cagar budaya tanpa izin, melanggar undang-undang, Jadi tidak dibenarkan mencarinya secara ilegal. Bisa langsung kena pasal,” katanya. Ia berharap masyarakat berhati-hati, tak sembarangan mencari benda cagar budaya.

BPCB Jawa Timur akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Malang terutama pemerintah desa untuk menindak tegas orang yang menjarah. Terutama yang berasal dari luar Desa Sekarpuro. Tujuannya mencegah aset Kabupaten Malang, tak hilang dan diperdagangan di pasar gelap.

*Reporter magang, tengah menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini