Penjaga Topeng Malang Pijiombo di Kaki Gunung Kawi

Reporter : Imam Rosyadi

Terakota.id–Ratusan warga Dusun Pijiombo, Wonosari, Kabupaten Malang mendatangi rumah kepala dusun, Senin 6 Agustus 2018. Di dusun yang terletak di kaki Gunung Kawi ini, setiap warga membawa encek atau nampan yang terbuat dari anyaman pelepah daun pisang dan bambu. Encek berisi aneka makanan, berupa nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk. Encek diletakkan di tengah warga yang tengah meriung, duduk bersila.

Warga Pijiombo tengah menggelar kajatan atau hajatan selamatan sebagai pembuka kegiatan bersih dusun. Sesepuh dusun, Mbah Haryoso memimpin doa sebagai pengantar ikrar kajat. Saat doa mereka menengadahkan tangan. Ritual berlangsung khitmat dan sakral. Usai doa dirapal, encek dibagikan.

“Bersih desa diselenggarakan setiap senin pon bulan selo (menurut penanggalan Jawa),” kata Mbah Haryoso. Warga kembali ke rumah masing-masing sembari betukar encek. Usai ikrar kajat, ritual beralih ke punden dusun. Punden tepat berada di sumber mata air setempat. Warga memanfaatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk untuk irigasi persawahan.

Ritual diselenggarakan secara turun-temurun, seperti yang dilakukan para leluhur. Bersih dusun kali ini bersamaan dengan metri atau selamatan sumber air dusun Pijiombo. Acara diawali dengan menyucikan topeng Malangan.

Mbah Haryoso menyucikan atau menjamas topeng di depan punden dusun setempat. (Terakota/Imam Rosyadi),

Mbah Haryoso membakar kemenyan, asap harum menguar di sekitar sumber air. Kemenyen berada di tengah sesaji lengkap yang diletakkan di depan punden. Mbah Haryoso yang memimpin ritual menyucikan topeng. Tangan tua Mbah Haryoso memegang topeng diayunkan di atas kemenyan.

Usai menyucikan atau menjamas topeng, Mbah Haryoso kembali memimpin hajatan di depan punden. Ia memimpin doa, tangannya menengadah dan merapal doa. Usai memanjat doa, masyarakat makan bersama anekan makanan yang disajikan di depan punden. Setelah ritual di punden, masyarakat bergotong-royong mempersiapkan tari topeng.

Seperangkat gamelan ditata di depan punden terdiri dari demung, dua rician, peteng, gembung, gong, dan kendang. Peralatan musik tradisional ini digunakan mengiringi tari topeng, pertunjukan dimulai.

Penari topeng beraksi, lenggak-lenggok memukau penonton. Penari menarikan karakter Sebrang Putri dan Gunung Sari. Para penonton menikmati pertunjukan tari hingga usai. Bersih dusun, sekaligus melestarikan kesenian tari topeng Malang. Mbah Haryoso tokoh masyarakat sekaligus sesepuh topeng Malangan khawatir kesenian tari topeng punah.

“Acara bersih dusun mengikuti tradisi secara turun-temurun sekalian melestarikan dan mementaskan tarian,” katanya. Bagi masyarakat Pijiombo tari topeng selain menjadi tontonan juga tuntunan. Banyak nilai-nilai yang bisa diteladani generasi sekarang.

Mbah Haryoso berharap masyarakat semakin mengenal topeng Malangan.Tontonan tari topeng, katanya, merupakan warisan leluhur yang diajarkan secara turun temurun oleh pembedah kerawang.

Wayang Topeng Malang yang Tersisa

Bunyi gamelan bertalu-talu, membahana sampai terdengar di seluruh penjuru dusun. Para pengrawit dan pemain duduk bersimpuh di atas sebuah panggung di depan rumah kepala dusun setempat. Mereka tengah mengiringi pertunjukan wayang topeng.

Dalang wayang topeng Ki Bagas asal Gunung Kawi tampil bersama seni topeng Madyo Utomo asal dusun setempat. Wayang topeng mengisahkan babad alas atau pembuka dusun setempat atas permintaan Mbah Haryoso.

Tema wayang topeng disesuaikan dengan kegiatan bersih dusun. Acara berlangsung meriah, masyarakat antusias datang bersama keluarga masing-masing. Kehadiran warga menunjukan kepedulian terhadap seni budaya terutama seni wayang topeng Pijiombo. Penonton tidak beranjak, tetap berdiri di depan panggung hingga pertunjukan wayang topeng selesai.

Usai wayang topeng, dilanjutkan pertunjukan wayang kulit. Dalang Ki Bagas kembali beraksi dengan wayang purwa atau wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit sekaligus penutup kegiatan bersih dusun Pijiombo.

Mbah Haryoso menjelaskan topeng Pijiombo ada sejak 1956. Warga Pijiombo belajar menari topeng di Desa Kebobang. Sebelumnya Desa tersebut dulu merupakan bagian dari Dusun Pijiombo. Mbah Kasirun merupakan guru pertama menari topeng di Desa Kebobang.

Sempat digelar pentas tari topeng di dusun Pijiombo atas prakarsa Mbah Kasirun. Sayang, kini tari topeng di Desa Kebobang telah punah. Tak ada penerus dan penari yang mementaskan. Sehingga, tari topeng dusun Pijiombo merupakan satu-satunya yang tersisa di kaki Gunung Kawi.

“Mbah Kasirun telah wafat di makamkan di Desa Kebobang.”

Mbah Haryoso bersama tokoh masyarakat setempat berusaha melestarikan dan mencari penerus. Serta meremajakan para pelaku tari topeng. Salah satunya menggelar pelatihan di rumah Mbah Haryoso.

Kini tengah direncanakan untuk membangun sebuah sanggar tari topeng. Dana pembangunan diajukan dalam Anggaran Dana Desa sejak 2017. Namun sampai saat ini dana tak juga terkucur, sanggar tetap belum dibangun.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan