Pendukung Capres, Belajarlah dari Sepak Bola

Poster pertandinganManchester United vs Paris Saint Germain. (Sumber : Tribunnews)

Oleh : Nurudin*

Terakota.id–Malam itu saya tertidur, jadi tidak sempat menikmati babak knock out Liga Champions (LC) antara Paris Saint Germain (PSG) melawan Manchester United (MU) di Parc des Princes (6/3/19). Saya hanya bisa menyaksikan siaran tunda melalui kanal youtube. Begitu dramatis kemenangan MU atas PSG. Dari kekalahan 0-2 (13/2/19) untuk PSG menjadi menang 3-1 untuk MU (6/3/19). Lebih dramatis, MU menang dengan gol tandang pada injury time. Klub berjuluk “setan merah” itu pun berhak lolos ke  8 besar LC.

Mengapa dramatis? PSG datang ke lapangan secara gagah dengan mengantongi kemenangan 2-0 di kandang MU. Sementara MU agak sedikit cemas karena beberapa pemain pilarnya cedera dan akumulasi kartu. Nyaris MU pincang.  Namun,  sihir semangat Ole Gunnar Solkjaer berpetuah setelah ditinggal pelatih sebelumnya,  Jose Mourinho.

Coba kita tengok ke belakang pertandingan LC yang lain.  Kita juga diingatkan kekalahan pahit PSG atas Barcelona pada tahun 2017. Saat itu, PSG menang telak 4-0 atas Barcelona (15/2/17). Kemudian pada leg kedua (9/3/17) Barcelona yang sudah tipis harapan justru bisa membalikkan keadaan dan menang meyakinkan dengan mengalahkan PSG 1-6. Agregat pun menjadi 5-6 dan Barcelona lolos ke perempat final Liga Champions.

Inilah drama dalam sepak bola. Coba kita tengok sejarah persepakbolaan yang lain. Kemenangan dramatis mewarnai berbagai pertandingan sepak bola. Sungguh unik, mendebarkan dan dramatis.  Pada musim 2012/2013 misalnya, Barcelona dramatis bisa lolos ke babak selanjutnya melawan AC Milan (Italia). Kurang apa? Milan menang 0-2, lalu Barcelona membalikkan kemenangan menjadi 4-0. Lalu ada Napoli vs Chelsea (2011/2012). Napoli sudah menang 3-1 lawan Chelsea, tapi di leg kedua ia dipukul Chelsea 1-4. AC Milan merasakan kepahitan lagi. Sudah menang 4-1 lawan Deportivo (Spanyol), ia malah dipukul telak 0-4. Juga ada Chelsea-Barcelola (3-1) lalu di leg kedua, Barcelona-Chelsea (5-1). 

Baca juga :  Menghapus Sejarah melalui Politik Bahasa

Itulah sepak bola. Penuh drama. Pendukungnya juga fanatik. Seolah tim kesayangannya yang paling hebat. Tapi memang di situlah seninya menikmati tontonan sepak bola. Namun, jika hanya gara-gara dukungan tim, kemudian berbuntut tindak kekerasan, jangan-jangan mereka bukan pendukung loyal tim kesayangan, tetapi oknum. Masalahnya, banyak oknum penonton  dalam setiap pertandingan yang memancing kerusuhan.

Coba, Anda menasihati atau mengkritik pendukung tim kesebelasan. Tidak akan mempan. Karena pendukung itu sudah terlalu fanatik. Disamping pendukung sepak bola, sikap fanatik lain ditunjukkan oleh mereka yang sedang jatuh cinta dan pendukung Calon Presiden (Capres)

Tetapi sekali lagi, sepak bola hanya tontonan anggap saja hiburan. Mengapa? Sekali kita menganggap bukan tontonan, jika tim kesayangannya kalah, ia akan marah-marah. Misalnya, menyalahkan wasit,  menyalahkan penonton lawan, menyalahkan aparat yang berat sebelah, juga menyalahkan rumput yang tidak memadai. Pokoknya senangnya menyalahkan jika timnya kalah. Padahal, sepak bola hanya tonton, bukan? Sama dengan pendukung Capres, bukan?

Sepak Bola=Politik

Sepak bola hampir sama dengan hiruk pikuk politik. Semua serba tidak pasti. Semua tergantung di lapangan. Boleh orang berhitung matematis atau menghalalkan segala cara. Tetapi, kemenangan dan kekalahan hanya terjadi setelah ada “pertandingan”.

Pada suatu saat saya pernah ditanya mahasiswa sehabis memberi kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK).

“Pak, nanti saat Pilpres mendukung siapa?”, katanya.

“Males ah. Politik ya itu-itu saja, “jawab saya sekenanya.

“Kok begitu pak?”

“Lha ya. Kandidatnya itu kan hanya figur saja. Sementara pemain utamanya kan ada di belakang mereka. Siapa yang membiayai? Siapa yang akan diuntungkan dengan kompetisi itu?  Rakyat? Enggak. Rakyatnya tetap seperti kita-kita, ini? HAM? Gombal. Siapapun terpilih, HAM jalan ditempat”

Baca juga :  Keluarga Cemara dan Arswendo Atmowiloto

“Kok pesimis pak?”

“Bukan soal pesimis atau tidak. Kita lihat kenyataan saja selama ini. Siapapun yang jadi. Akan tetap dihujat. Caci maki akan terus muncul. Yang ribut tetap, yakni tim pendukung atau pemandu soraknya. Kita dapat apa?”

Lalu saya berhenti

Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto bergandengan saat kampanye deklarasi damai 23 September 2018. (Foto : Merdeka.com).

“Kita hanya dapat seteru sesama. Jujur saja, berapa temanmu yang kemudian menjauh gara-gara soal dukungan politik?”

Mahasiswa itu hanya menganggukkan kepala. Entah dia memahami maksud dia atau tidak.

“Baik pak, terima kasih, “lalu dia pamit.

Kok Serba Politis?

Pernah juga, pada akhir pelajaran PIK, saya mengajak mereka untuk foto bareng. Ada kejadian aneh saya lihat.

Ada yang nyeletuk;

“Rek, itu yang pakai jempol atau dua jari dua ganti kepalan tangan atau apa. Kita bebas dari soal Pilpres”

Saya menimpali, “Lho bebas. Silakan. Ini kan cuma foto. Jangan  segala sesatunya dipandang sempit dan dikaitkan dengan Pilpres.  Boleh pakai jari 1 atau 2 jari. Yang penting rukun lah. Nanti habis foto ngopi bareng”.

Dari pergaulan dengan mahasiswa-mahasiswa itu saya jadi merenung, ternyata virus Pilpres memang mewabah dengan dahsyat. Ini baru mahasiswa lho. Belum dunia dosen. Dunia dosen tidak jauh berbeda. Dunia dosen yang katanya dihuni dan dianggap kalangan intelek tak jauh berbeda. Ada dosen yang memang cenderung memilih pasangan dengan terang-terangan. Tidak apa-apa. Tidak salah. Tidak dosa juga. Yang penting tetap rukun, bukan?

Masalahnya, dukungan mereka sering kelewatan. Misalnya, sengaja memancing emosi kelompok lain yang berbeda pilihan. Menurut saya, ini namanya melaksanakan hak ambisi  pribadi, tapi tidak bisa memaknai dan menghormati hak orang lain.

Jadi, politik seperti sepak bola. Semua ditentukan “di lapangan”. Politik dan sepak bola itu sebuah drama. Namanya drama, tentu akan terbuka peluang munculnya kecurangan dan ketidakpuasan. Bagi penganut sepak bola pragmatis, tak penting main indah, yang penting menang (bisa dengan berbagai cara). Bisa mengintimidasi wasit atau perang urat saraf sebelum bertanding. Tak terkecuali dengan politik.

Baca juga :  Sastrawan Damaira Korban ‘65, Siapa Dia?

Maka, nikmati hiruk pikuk politik dengan riang gembira. Setelah pertandingan sepak bola usai, fans PSG dan MU bisa ngopi bareng.

*Penulis dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Muhammadiyah Malang. Twitter/IG: nurudinwriter

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini