Pendidikan Politik untuk Semua

Terakota.id–Kisah Kartini masa kini, seperti yang terlihat dalam semangat Kriswindari 55 tahun. Ia mengabdikan diri untuk kegiatan sosial, seabrek kegiatan dan aktivitas dilakoni. Memasuki usia lebih dari setengah abad, ibu dua anak ini justru semakin aktif dalam kegiatan sosial. Kris, panggilannya, hampir aktif di semua kegiatan sosial yang ada lingkungannya di Jalan Sukun Gempol, RT 4 RW 9, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Di sela-sela kesibukannya menjadi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kris masih meluangkan waktunya menjadi kader lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Tak hanya itu, wanita kelahiran Tulungagung pada  8 September  1963 itu juga menjadi kader posyandu balita dan ketua posyandu lansia di lingkungannya. Kris juga menjabat sebagai wakil ketua  pergerakan rakyat gotong royong sekaligus menjadi relawan di Malang Corruption Watch (MCW). Selain itu, Kris juga menjadi tutor keaksaraan fungsional.

Bagi Kris, melakukan pekerjaan sosial  merupakan hal yang menyenangkan. Ia seperti menemukan kepuasan batin yang tidak dapat diukur dengan materi saat melakukan pekerjaan sosial. Maka dari itu, Kris tidak pernah lelah dan selalu meluangkan waktunya untuk hal-hal yang menyangkut sosial. “Dalam hidup ada ruangan di diri kita yang tidak bisa diukur dengan uang, yakni jiwa sosial. Tetapi, kita akan mempunyai kepuasan batin tersendiri saat menjalaninya,” kata Kris.

Hal itu dialami Kris saat menjadi relawan MCW dalam menyosialisasikan pemilihan Gubernur Jawa Timur periode lalu. Dengan bekal pelatihan pemilu yang diadakan MCW, alumni  jurusan PMPKN Fakultas Pendidikan IPS IKIP Malang 1987, itu seakan tak lelah. Ia memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar menjadi pemilih yang cerdas di ajang Pilgub Jatim.

“Karena saya aktif di kegiatan yang melibatkan banyak kaum perempuan, maka pendidikan politik paling banyak saya berikan kepada perempuan,” ujarnya.

Diplomasi PAUD dan Tukang Sayur

Kriswindari di perkampungan yang tertata rapi dipenuhi tanaman sayuran hjau. (Foto : Koleksi pribadi).

Para orang tua yang menunggu anaknya di PAUD tempat Kris mengajar juga menjadi sasaran untuk sosialisasi tentang pemilu. Biasanya, usai mengajar PAUD, Kris sering mengajak orang tua siswa berdiskusi. Tak hanya mengenai pendidikan dan tumbuh kembang anak, tapi juga menyinggung soal pemilu.  Kris mengajak para orang tua siswa untuk peduli dan menggunakan hak politiknya di Pilgub Jatim. Kris juga menjelaskan kepada para orang tua siswa terkait kecurangan dan pelanggaran dalam pelaksanaan pemilu.

“Saya melakukan pendidikan pemilu kepada perempuan di berbagai tempat, termasuk saat belanja. Biasanya, mengenalkan profil calon Gubernur dan Wakil Gubernur, soal proses dan tahapan pemilihan Gubernur Jawa Timur kepada ibu-ibu saat belanja. Saya hanya berharap kesadaran politik warga meningkat, sehingga golput tak jadi pilihan. Warga antusias menggunakan hak pilih dan semakin cerdas menentukan pilihan,” katanya.

Tak hanya itu, sosialisasi soal pemilu juga dilancarkan Kris dalam pertemuan PKK. Jabatan sebagai Ketua PKK RW 9 yang melibatkan 17 RT di Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang, semakin memudahkan langkah Kris untuk menyosialisasikan pemilu kepada masyarakat. Apalagi, kelompok PKK tersebut selalu mengadakan pertemuan rutin setiap sepekan sekali.

Di sela pertemuan, Kriswindari menyampaikan proses dan tahapan pemilihan Gubernur Jawa Timur. Serta menjelaskan berbagai bentuk pelanggaran dan politik uang yang kerap dilakukan selama masa pemilihan umum. Namun, ketika Kris berusaha menjelaskan informasi terkait pemilu, para anggota PKK kurang begitu antusias. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Kris untuk terusa menyosialisasikan pemilu kepada masyarakat.

“Memang harus sabar untuk menghadapi orang banyak. Tetapi, niat saya baik. Saya ingin perempuan menjadi pemilih yang cerdas dan kritis. Saya juga sering mengajak anggota PKK untuk mematau dan mengawasi Pemilihan Gubernur Jawa Timur,” katanya.

Sedangkan sosialisasi di lingkungannya dilakukan secara langsung. Ia rela mendatangi rumah warga satu persatu, untuk sekedar  menyapa dan menyampaikan informasi tentang pemilu. Mereka diajak dialog dan berdiskusi mengenai profil calon Gubernur Jawa Timur dan aspirasi politiknya. “Kaum perempuan itu misterius, tak jelas alasannya memilih seseorang,” ujarnya.

Mereka, katanya, kadang hanya melihat gambar dan wajah calon. Tanpa mengetahui rekam jejak dan profil pasangan calon Gubernur yang akan dipilih. Kris juga mendekati warga saat berbelanja sayuran di warung. Mulai membahas persoalan di dapur, seperti jenis masakan dan olahan kue lebaran sampai soal informasi tentang pemilu. Dengan gaya penyampaian yang santai dan akrab, ia berharap informasi tersebut melekat di pikiran ibu rumah tangga tersebut.

“Saya benar-benar merasa terkesan saat menjadi relawan pemilu yang dibentuk MCW. Bagi saya, pemilu merupakan ajang bagi rakyat untuk memilih pemimpin yang baik. Pemimpin yang mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Dengan sosialisasi ini, saya berharap masyarakat semakin cerdas dalam memilih pemimpin untuk kehidupan yang lebih baik,” jelasnya.

Sikap Golput

Kris bercerita, sebelumnya, ia juga anti dengan kegiatan pemilu. Sejak di bangku kuliah, Kris tak pernah menggunakan hak pilihnya. Ketika menjadi mahasiswa, Kris memang sering mengikuti kelompok diskusi yang membahas persoalan politik, sosial, dan perburuhan. Namun, kegiatan tersebut malah membuatnya memilih golput dalam setiap ajang pemilu.

Ketika itu, Kris berpikir pemilu di Indonesia hanya digunakan untuk melanggengkan kekuasaan pemerintahan orde baru. Pilihan golput terus berlangsung sampai berumah tangga dengan Ratmoko, seorang dosen dan aktivis perburuhan. Ratmoko yang juga ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Malang Kucecwara juga mempengaruhi pandangan politiknya. Kriswindari tetap kukuh mengikuti golongan putih, meski ia sering ditunjuk sebagai kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS).

Namun, aspirasi politik Kris berubah saat pemilihan Wali Kota Malang. Seorang calon Wali Kota Malang mendekatinya meminta dukungan dan memenangkan pemilihan. Tak berfikir panjang, Kris memberikan dukungan. Harapannya setelah terpilih bakal memperbaiki layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan di Kota Malang. Juga  berharap Wali Kota Malang terpilih memperhatikan  persoalan perburuhan. “Saya dukung karena saya mengetahui rekam jejak dan ideologinya.”

Sejak itu, ia mengajak masyarakat RW 9 Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang untuk menggunakan hak pilih. Keinginannya meninggalkan golput semakin kuat, setelah ia mengikuti pelatihan pendidikan kepemiluan yang diselenggarakan Malang Corruption Watch (MCW).

Dalam pelatihan, pandangan politiknya semakin terbuka. Pemilu dianggap penting tak hanya memilih wakil rakyat atau pemimpin tapi juga untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat.

“Sebagai warga Negara, berhak terlibat dalam proses demokrasi. Pemilu juga jalan strategis untuk memperjuangkan aspirasi rakyat,” katanya.

Terakota.id menilai sosok Kriswindari layak disejajarkan dengan aktivis perempuan yang lain. Bekerja untuk kemanusiaan dan sosial. Sosok ibu, perempuan yang dengan segala keterbatasan memberikan pendidikan politik untuk sesamanya. Liputan ini diturunkan memperingati hari Kartini.

Tinggalkan Balasan