Pendidikan Mencintai

Miris melihat kerumunan manusia merayakan valentine sebagai hari cinta ketika masyarakat kita makin jauh dari cinta. Sekolah sebagai entitas pendidikan makin lupa akan hakikatnya sebagai penggerak kata kerja mencintai.

pendidikan-mencintai

*Oleh : Wahyu Kris A.W.

Terakota.id – Valentine telah tiba. Toko online menawarkan diskon. Kafe menawarkan cokelat. Toko bunga menawarkan mawar. Sekolah menawarkan apa?

Miris melihat kerumunan manusia merayakan valentine sebagai hari cinta ketika masyarakat kita makin jauh dari cinta. Sekolah sebagai entitas pendidikan makin lupa akan hakikatnya sebagai penggerak kata kerja mencintai.

Beberapa bulan terakhir,  banyak peristiwa menjadi bukti bahwa kita tak lagi mampu mencintai. Kita abai terhadap tugas utama manusia yaitu mencintai. Sebagaimana Sang Khalik menciptakan semesta sebagai perwujudan cinta-Nya, begitulah kita harusnya mencintai sesama ciptaan dan sesama manusia.

Barangkali atas dasar itulah astrofisikawan Kanada Hubert Reeves  berani mengatakan bahwa manusia adalah spesies paling gila. Manusia menyembah Tuhan yang tak kelihatan sembari menghancurkan semua yang kelihatan. Manusia tidak menyadari jika apa yang  mereka hancurkan adalah ciptaan Tuhan yang mereka sembah.

Penyekapan empat anak selama belasan tahun oleh ibu kandungnya masih hangat di telinga kita. Semua seolah tak percaya. Mana mungkin seorang ibu tega menyekap buah cintanya? Ketika manusia kehilangan cinta maka ia pun kehilangan kemanusiaanya. Ia rela melakukan sesuatu yang bukan saja mencederai sesama manusia melainkan juga mencederai kemanusiaan.

Hilangnya cinta juga tampak dalam wujud lain. Iklan rokok yang ‘merusak’ bangunan cagar budaya menguatkan fakta bahwa manusia tak lagi mencintai budayanya. Manusia merasa tak lagi butuh mempelajari petuah bijak leluhur. Masa lalu dianggap tak lagi relevan untuk masa kini.

Manusia  lupa bahwa nenek moyang mewariskan kearifan lokal yang bisa menyelamatkan manusia dari jebakan kecanggihan teknologi.  Ketika internet of things terus melaju dengan kecepatan tak terbatas, petuah alon-alon kelakon mengajak kita untuk tidak tergesa-gesa agar bisa menikmati indahnya perjalanan hidup. Ketika ancaman hedonisme bersembunyi dibalik kemudahan mengakses segala kebutuhan, sikap hidup ugahari para leluhur mengajak kita untuk tetap bersahaja.

Cinta yang semestinya menjadi roh bagi institusi pendidikan juga mulai menghilang dari sekolah-sekolah. Cinta sudah tergantikan kepentingan pragmatis demi memuaskan pemangku kepentingan yang lebih dulu kehilangan cinta.  Pejabat dinas pendidikan lebih suka angka-angka fantastis ketimbang membentuk murid humanis. Kelulusan masih menjadi tolok ukur keberhasilan meski semua diperoleh lewat jalan tak jujur.

Jamak pula pelaksana pendidikan, guru dan kepala sekolah, mengutamakan tugas ritual ketimbang panggilan aktual. Menyiapkan berkas administrasi dinomor-satukan, mendampingi murid yang butuh dorongan motivasi justru dilupakan. Mengejar angka minimal diprioritaskan, menumbuhkan keingintahuan entah kapan dilakukan.

Maka tak mengherankan apabila seorang siswa yang berprestasi olahraga di tingkat nasional justru bernasib terlunta-lunta di sekolahnya. Jasmine, pesepakbola timnas putri adalah contohnya. Ia sudah membuktikan kerja kerasnya mengejar impian yang dicintainya. Ia sudah mengenali talenta terbaiknya. Namun, karena  berada di lingkungan nihil cinta ia hampir kehilangan kesempatan membuktikan cinta pada tanah air.

Akibat fatal apabila pendidikan kehilangan cinta adalah murahnya kemanusiaan. Guru memandang murid sebagai bahan mentah yang bisa diolah menjadi barang jadi serba seragam. Murid yang adalah manusia direduksi menjadi barang mati. Inilah sesungguhnya kejahatan paling keji di dunia pendidikan yaitu pembunuhan terencana.

Kita tak perlu terkejut apabila ada seorang murid SMK membunuh begal. Tanpa mengabaikan fakta bahwa ia membela diri, menghilangkan nyawa sesama manusia adalah penanda bahwa cinta sudah sirna. Jangan pula membelalakkan mata ketika membaca berita seorang siswa SMP harus kehilangan jari lantaran dijatuhkan temannya. Sungguh menyedihkan melihat kepala sekolah menganggap perundungan menjurus kekerasan pun dianggap ‘bergurau’.

Setali tiga uang dengan dunia nyata, jagat maya pun kehilangan cinta. Media sosial yang diciptakan sebagai media cinta berubah menjadi media nista.  Awalnya, manusia menggunakan media sosial untuk mengungkapkan cinta, kini media sosial menjadi hamparan nista. Manusia tenggelam dalam nista karena gawai yang digenggamnya sendiri.

Media sosial penuh sesak dengan kabar-kabar bohong. Mencintai dan membenci barbaur mengotori dinding publik. Like dan views dijadikan ukuran kebenaran. Warganet merasa punya hak mutlak mencintai kebenarannya sendiri sekaligus menghakimi yang berbeda pendapat. Manusia makin mahir menciptakan topeng-topeng untuk menutupi betapa sesungguhnya manusia menjauh dari hakikat mahkluk mencintai.

Sekolah-sekolah harus segera bertransformasi mewujudkan pendidikan mencintai. Cinta sebagai dasar paling dasar sekaligus inti paling inti mesti dikembalikan sebagai roh pendidikan. Cinta harus menjadi penggerak dan mencintai harus terus digerakkan.

Cinta yang terus digerakkan dan menggerakkan selaras dengan prinsip kehidupan dalam gagasan filsuf Yunani klasik Herakleitus. Hidup adalah bergerak. Semesta tak pernah berdiam diri. Semua yang hidup dalam semesta pasti bergerak. Agar manusia tetap hidup maka ada darah yang terus bergerak mengalir. Berhenti mengalir berarti berhenti hidup alias mati.

Betapa sejuknya apabila setiap guru menggerakkan kata cinta sebagai kata kerja. Guru mencintai panggilannya sebagai pemantik belajar. Guru mencintai muridnya sebagai anak panah yang siap dilesatkan semesta. Guru mencintai sekolahnya sebagai ruang belajar bersama. Guru mencintai kebijakan menteri sebagai pemacu perubahan.

Untuk menjadi guru yang mencintai, dibutuhkan kebersediaan hijrah dari ‘teach-head’ menuju ‘touch-heart’. Teach-head menganalogikan kepala dan otak sebagai komponen utama dalam belajar. Padahal masih ada hati dan perasaan yang perlu diperhatikan. Teach-head mengidolakan kognitif sebagai panglima. Padahal masih ada efektif dan psikomotor yang tak boleh ditinggalkan.

Guru yang mencintai adalah guru yang menyentuh hati, touch-heart. Kurikulum di tangan guru mencintai menjadi perkakas untuk merancang model pembelajaran yang memerdekakan. Guru memerdekakan murid menggunakan gaya belajar terbaiknya. Guru memerdekakan murid mewujudkan visi hidupnya. Guru memerdekakan murid merentangkan sayap-sayap keingintahuannya karena dinding sekolah terlalu sempit  untuk menampung potensi tak terbatas para  murid.

Filosofi touch-heart memosisikan guru sebagai rekan sehati sekaligus sahabat sejati bagi murid. Rekan sehati berarti guru dan murid sama-sama merdeka belajar, sama-sama saling belajar. Setiap guru adalah murid, setiap murid adalah guru. Adalah keangkuhan apabila ada guru merasa lebih pintar dari muridnya.

Betapa dahsyatnya apabila murid merdeka belajar dalam ekosistem penuh cinta. Mereka akan mencintai belajar sebagaimana rajawali merindukan terbang di angkasa. Mereka akan tumbuh menjadi generasi cinta negeri, bukan generasi korupsi. Mereka akan tumbuh menjadi generasi cinta lingkungan, bukan perusak alam. Mereka akan tumbuh menjadi generasi altruis, bukan egois. Mereka akan tumbuh menjadi generasi digital yang merdeka berselancar tanpa terseret tsunami informasi.

Pada akhirnya, pendidikan mencintai akan melahirkan generasi pecinta, bukan pembenci.

Penulis buku Mendidik Generasi Z dan Kepala Sekolah SMPK Pamerdi Kabupaten Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini