Pencak Silat, Seni Beladiri yang Melintasi Zaman

Terakota.id— Pada zaman pra sejarah manusia mengembangkan kemampuan beladiri sederhana untuk beradaptasi dengan alam. Termasuk menghadapi binatang buas. Kemudian berkembang seni bela diri pencak silat. Pencak merupakan gerak dasar beladiri yang terikat aturan dan digunakan untuk latihan, belajar, dan pertunjukan sedangkan silat pengertiannya gerak bela diri yang sempurna bersumber dari kerohanian. Digunakan untuk keselamatan, bertarung, atau mempertahankan diri.

“Pencak adalah gerak bela-serang yang teratur menurut sistem, waktu, tempat, dan iklim dengan menjaga kehormatan masing-masing secara kesatria tidak melukai perasaan,”dikutip dari O’ong Maryono dalam bukunya Pencak Silat, Merentang Waktu. Jadi pencak menunjuk segi lahiriah sedangkan silat merupakan gerak bela-serang yang erat hubungannya dengan rohani. Sehingga menghidupsuburkan naluri, menggerakkan hati nurani manusia, langsung menyerah kepada  Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara Notosoejitno dalam bukunya “Sejarah Perkembangan Pencak silat di Indonesia” membagi sejarah pencak silat kedalam dua aras. Yakni pra sejarah dan sejarah. Ia kemudian membagi zaman sejarah ke dalam lima fase mulai zaman kerajaan-kerajaan, zaman kerajaan Islam, zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang dan zaman kemerdekaan.

Pada zaman kerajaan pencak silat penting dikembangkan guna memperluas daerah kekuasaan serta pertahanan-kemanan dari serangan musuh ataupun perusuh. Ketika itu, hukum peperangan mensyaratkan siapa yang kuat dan cerdik akan menguasai lebih luas daerah jajahan. Sehingga, prajurit yang tangguh diberi tempat yang terhormat. Seperti menjabat patih.

Notosoejitno menambahkan pada zaman kerajaan Kahuripan dipimpin oleh Prabu Erlangga 1019-1041 dikenal ilmu beladiri pencak. Namanya “Eh Hok Hik”, yang artinya  “Maju Selangkah Memukul.” Diperkuat dengan pendapat peneliti silat Donald F. Draeger yang berpendapat banyak pahatan relief di candi merekam senjata dan jurus. Ia mencontohkan Prambanan dan Borobudur yang berisikan sikap kuda-kuda silat.

Sedang masa kerajaan-kerajaan Islam, menurut Amran Habibi dalam “Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000” (skripsi), seni beladiri dikemas satu paket dengan ajaran kerohanian. Basis-basis pendalaman agama Islam terkenal juga dengan ketinggian kemampuan beladirinya.

Baca juga :  Akulturasi Seni Budaya, dan Kuliner dalam Tradisi Imlek

Pencak Silat untuk Melawan Penjajah Belanda

Zaman penjajahan pencak silat dibatasi. Tidak setiap orang boleh memperlajarinya. Selain itu, Belanda juga mengontrol ketat pengajaran pencak silat. Belanda takut jika pencak silat tersebar dan dapat digunakan sebagai alat perlawanan. Akibatnya, pencak silat diajarkan secara rahasia.

Pada awal rintisan Persaudaraan Setia Hari Terate (PSHT) terpaksa harus berganti nama. Tujuannya untuk mengelabuhi pemerintah Hindia Belanda. Awalnya organisasi ini bernama Setia Hati Pencak Sport Club yang memang diniatkan sebagai wadah pendadaran pemuda yang siap berjuang. Kata Setia Hati diambil dengan menisbatkan kepada Setia Hati-nya Eyang Suro, eyang guru pendiri PSHT, Ki Hadjar Hardjo Oetomo.

Belanda tetap curiga kata pencak dihilangkan dan diganti menjadi Setia Hati Pemuda Sport Club. Meski telah mengubah nama, Hardjo Oetomo tetap ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI (ditetapkan tahun 1952) merupakan aktivis Syarekat Islam Madiun, 1922. Sebelum mendirikan PSHT, Hardjo Oetomo ngenger kepada Ki Ngabehi Soerodiwirdjo (Eyang Suro), pendiri aliran pencak silat Persaudaraan Setia Hati.

Saat masa penjajahan Jepang justru membolehkan penyebarluasan pencak silat. Mereka mendorong dan mendukung. Namun, ketika itu pencak silat dimanfaatkan Jepang untuk menghadapi sekutu. Gerakan pencak silat didirikan dan diatur pemerintah.

Kemerdekaan membawa angin segar bagi perkembangan Pencak Silat di Indonesia. Meski mengalami pembatasan dan tekanan sepanjang periode penjajahan, pencak silat tidak mati. Ketika masa kemerdekaan, muncul inisiatif untuk menyatukan beragam aliran dan organisasi atau perguruan pencak silat. Hampir setiap daerah mempunyai perguruan silat sendiri dengan ciri khas atau karakteristik jurus yang berbeda.

Menjelang PON pertama pada 18 Mei 1948, para pendekar atau tokoh pencak silat berkumpul di Surakarta. Mereka membentuk organisasi Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSSI). Wongsonegoro ditunjuk sebagai ketua. Sepuluh perguruan silat yang berperan mendirikan IPSI adalah: Setia Hati, Persaudaraan Setia Hati Terate, Perisai Diri, Perisai Putih,  Tapak Suci, Perphi Harimurti, Phasaja Mataram, Putra Betawi, PPSI, dan Nusantara.

Baca juga :  Mitigasi Tsunami, Gempa dan Likuifaksi di Negeri Rawan Bencana

Pada perkembangannya, pada kongres pertama 1950 di Yogyakarta, nama IPSSI diubah menjadi IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). “Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan pencak silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada pemerintah untuk memasukkan pelajaran pencak silat di sekolah,” tulis Amran Habibi dalam “Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000,” hal. 19.

Pada PON I dan II cabang pencak silat belum dipertandingkan. Tetapi hanya untuk demonstrasi, pertunjukan seni dan hiburan. Sedang pada PON III, pertandingan pencak silat sebatas eksebisi. Belum dibuat peraturan pertandingan dan perhitungan medalinya.

Barulah pada PON VIII, 1973 di Jakarta, pencak silat untuk pertama kali dipertandingkan dan telah diikuti 15 daerah. Ini setelah peraturan dibuat lebih rinci sebagaimana cabang olahraga lainnya. Pada tahun yang sama, kepengurusan IPSI berganti. Tjokropanolo ditunjuk untuk menjadi ketua IPSI periode 1973-1977. Pada tahun ini, 1973, pencak silat dikembangkan dengan mengadakan seminar pencak silat yang pertama di Tugu Bogor.

Pada periode ini perkembangan pencak silat cukup menggembirakan. Sayap mulai dikembangkan ke luar negeri melalui serangkaian eksibisi; ke Belanda, Jerman, Australia, dan Ameruka. Periode ini merintis jalan terselenggaranya Konverensi Federasi Pencak Silat Internasional pada 22-23 September 1979, bersamaan dengan SEA Games ke-10. Dihardiri perwakilan dari Singapura, Malaysia, dan Brunai Darussalam

Pencak Silat Go Internasional

Tjokropranolo lantas memberi mandat kepada Ketua Harian IPSI Eddie Marzuki untuk segera merealisasikan terbentuknya organisasi pencak silat internasional. Pada tanggal 7-11 Maret 1980 di Jakarta, Ketua Harian IPSI H. Eddy Marzuki Nalapraya bersama wakill-wakil negara Singapura, Malaysia, dan Brunai Darusalam mendirikan Federasi Internasional Pencak Silat dengan nama PERSILAT (Persekutuan Pencak Silat Internasional). Sedang, H. Eddy Marzuki Nalapraya ditunjuk sebagai Presiden PERSILAT I dan menjabat hingga 2002.

Baca juga :  Perut Kenyang Hati Senang Rayakan Cap Go Meh

“Dengan terbentuknya PERSILAT, maka perkembangan pencak silat lambat laun sampai ke beberapa negara. Kejuaraan tingkat internasional yang pertama adalah dengan diadakannya Invitasi Pencak Silat Internasional I tahun 1982 di Jakarta,” tulis Agung Nugroho, Dosen Pendidikan Kepelatihan FIK UNY, dalam makalahnya “Keterampilan Dasar Pencak Silat: Materi Sejarah Perkembangan Pencaksilat Go International.”

Pertandingan pencak silat dalam perhelatan Asian Games 2018. (Foto : Kompas.com).

Kejuaraan internasional pertama belum banyak diminati. Hanya tujuh negara yang ikut serta. Namun, IPSI dan PERSILAT tidak patah semangat. Mereka kembali mengadakan kejuaraan pencak silat internasional pada 1984. Lumayan, pesertanya bertambah jadi sembilan negara.

Pada tanggal 6-10 Juli 1985 diadakan Sidang umum I PERSILAT di Indonesia. Eddy M. Nalapraya dari Indonesia terpilih sebagai presiden PERSILAT. Sejak itu PERSILAT merintis pencak silat untuk dapat masuk pada even bergengsi Sea Games. Berhasil. Pada tahun 1987 pencak silat akhirnya dipertandingkan untuk pertama kali dalam pekan olahraga Asia Tenggara (SEA Games  XIV di Jakarta). Diikuti oleh lima negara ; Malaysia, Singapura, Brunai Darusalam, Thailand, dan Indonesia.

Tidak berhenti di SEA Games. Demi mengembangkan dan menyejajarkan Pencak Silat dengan seni beladiri lain, Persilat mengupayakan pencak silat dipertandingkan di ajang bergengsi macam Asian Games. Upaya itu telah dirintis sejak tahun 1998, Asian Games XIII di Bangkok, Thailand. Namun belum berhasil.

Baru selang beberapa puluh tahun, tepatnya tahun 2018, pada Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang, pencak silat kali pertama diperlombakan di level Asia. Dan Indonesia langsung berhasil menjadi juara umum. Tugas belum usai. Hingga kini, pencak silat tengah diupayakan agar dipertandingkan di Olimpiade.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini