Pemuda Lintas Iman Gagas Menulis Buku Kebangsaan dan Keberagaman

Terakota.id—Puluhan pemuda lintas iman dan etnis berkumpul bersama, belajar menulis esai kebangsaan di gedung Ngalup, Jalan Sudimoro, Kota Malang, Kamis 26 Oktober 2017. Pelatihan menulis esai kebangsaan diselenggarakan penerbit buku Kota Tua. Pelatihan diselenggarakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017.

Dihadapan para pemuda lintas iman ini, dilatih Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang, Profesor Djoko Saryono dan dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, M. Nurudin. Para peserta berkomitmen untuk menulis usai pelatihan, tulisan bakal dibukukan bertema kebangsaan dan keberagaman.

Berharap buku esai tentang kebangsaan dan keberagaman memberikan inspirasi.  Profesor Djoko mengulas literasi sebagai kunci bagi permasalahan kehidupan. Semakin melek literasi maka seseorang akan semakin mampu mencari solusi mengatasi masalah hidupnya.

Orang miskin tak beranjak menjadi kaya atau sedikit kaya, salah satunya karena tidak literat atau tidak melek literasi. Mentalitas miskin menjadi turun temurun. “Tapi terkadang ada orang miskin tapi tetap literat, semisal orang miskin tapi tetap jujur,” kata Djoko dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Permasalahan dalam investasi marak salah satunya karena rendahnya literasi. Masyarakat minim dalam literasi keuangan. Untuk itu, Djoko mendukung penuh gerakan Kemendikbud yang mencanangkan gerakan literasi nasional. “Nanti literasi itu bisa dimulai dari keluarga, masyarakat, dan sekolah,” tutur Djoko.

Literasi juga penting untuk melawan peradaran kabar bohong atau hoax dan ujaran kebencian.  “Hoax dan ujaran kebencian bisa merongrong nilai-nilai berbangsa dan bernegara,” ujar staf ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bidang pendidikan karakter ini.

Dosen Ilmu Komunikasi UMM Nurudin berbagi pengalaman dalam teknik menulis. Menjadi penulis, kata Nurudin, para pemuda harus gigih. Dia sering mendengarkan penulis pemula yang mengeluh susah menembus Koran. “Itu belum apa-apa. Saya ditolak 20 kali berturut-turut oleh media,” kata dosen yang sudah menulis 17 judul buku.

Baca juga :  Cara Mudah Mengamati Burung dengan Burungnesia

Untuk bisa menulis, harus terus menulis dan membaca. Untuk menulis tema kebangsaan, bisa dimulai dengan menulis  tema ringan. Seperti yang dilakukannya, menulis tema pluralisme dan kebangsaan berdasarkan film. “Saya habis menonton film tentang ketikdakadilan perempuan. Itu saya tulis sebagai pengantar tulisan. Jadi tulis saja yang kita alami,” kata Nurudin memungkasi pelatihan.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini