Pemimpin itu Bukan Politisi

Terakota.id–Beberapa orang yang baru saya kenal selalu bertanya dimana tinggal. Jika orang itu tinggal di daerah Malang akan bertanya posisi akurat tempat tinggal saya. Pada suatu saat terjadilah dialog.

“Bapak tinggal dimana? “tanya seorang teman.

“Saya di Jetis, Timur Taman Rekreasi Sengkaling, “jawab saya.

“Apanya masjid hijau pak?”

“Kalau dari arah kampus III UMM masjid hijau kiri jalan itu maju sedikit lalu belok kiri. Carilah jalan Ulil Abshar. Pasti ketemu. Atau carilah Panti Asuhan Muhammadiyah Ulil Abshar dan masjid Ulil Abshar. Rumah saya menghadap ke Timur, dua rumah utara dari masjid”

Setengah berkelakar saya menjelaskan lebih lanjut, “Pokoknya cari masjid di daerah Jetis ya mas. Jika ada masjid yang bacaan surat dari imamnya  panjang-panjang itulah masjid Ulil Abshar. Karena diantara yang saya temukan, imam di masjid itu kalau membaca surat panjang-panjang”

Dialog saya di atas sebenarnya sebuah kisah yang satir.  Masjid tetangga rumah saya terkenal dengan bacaan ayat yang panjang. Tidak peduli apakah makmumnya itu ada orang tua renta atau tidak. Perkara apakah ada anak-anak kecil yang menagis tak jadi masalah. Seolah pokoknya ayatnya panjang-panjang.

Saya kadang maklum karena di masjid itu yang jadi imam kadang mahasiswa. Mereka tinggal di pondok Yatim Muhammadiyah, Ulil Abshar. Mungkin mereka sedang belajar menjadi imam. Melatih hafalan ayat yang panjang. Tapi ada juga yang bukan mahasiswa bacaan suratnya tetap panjang.

Saya kadang husnudzon saja. Meskipun kadang jengkel juga. Bahkan ada seorang imam saat teraweh memakai ayat pendek dalam juz amma sampai ditegor takmir. Mempertanyakan kenapa ayatnya pendek-pendek. Seolah kekhusukan dan ketekunan beribadah ditentukan oleh panjangnya surat yang dibaca.

Sementara yang saya tahu, imam itu harus menyesuaikan dengan kebutuhan makmum. Bahwa makmum itu sangat beragam. Kualitas dan kekuatan makmum tidak bisa disamaratakan dengan imam. Ada makmum yang sudah tua. Ada ibu-ibu sehabis shalat shubuh harus mempersiapkan hidangan dan banyak hal terkait anaknya yang mau sekolah. Ada anak-anak yang diajak orang tuanya ke masjid agar mereka mengenal jamaah sholat.

Seolah kriteria ini tidak menjadi perhatian dan dasar utama seseorang menjadi imam. Pokoknya ayatnya panjang. Makanya saya berseloroh pada teman saya di atas untuk mencari masjid dekat rumah saya yang bacaan ayatnya panjang.

Belajar dari Makmum

Pernyataan saya itu sebenarnya bentuk kejengkelan yang kadang saya pendam. Mungkin saya bukan seorang jamaah yang rajin ke masjid. Tetapi fenomena itu tentu menjadi perhatian saya sebagai anggota ta’mir. Kadang dari pada saya mendongkol saat sedang pilek, saya memilih jamaah dengan anggota keluarga di rumah. Sebuah kenyataan yang sangat mungkin terjadi di sekitar kita.

Bisa jadi orang yang mengetahui apa yang saya rasakan menuduh saya itu orang yang malas berjamaah. Saya dianggap terlalu sekuler. Bisa jadi saya dianggap hanya merasakan sesuatu secara rasional, bukan pakai perasaan. Bisa jadi komentar muncul bahwa panjang pendeknya ayat tak menjadi ukuran. Kalau memang niat jamaah akan ikut saja. Tentu pendapat di atas tidak salah. Itu menurut sudut pandang pribadi mereka. Sementara sudut pandang saya mungkin berbeda pula.

Tetapi apa yang ingin saya katakan lebih dari itu. Memperhatikan kepentingan jamaah itu sangat dianjurkan. Karena jamaah itu sangat beragam. Kalau sekadar menuruti keinginan pribadi imam saja itu soal mudah. Apakah imam itu harus sakit-sakitan atau menunggu tua agar  bisa merasakan langsung bagaimana susahnya seorang yang sudah tua atau sakit ikut menjadi makmum dengan bacaan surat yang panjang?

Sebagai dosen ilmu komunikasi saya juga punya pendekatan lain. Sebuah pesan komunikasi yang disampaikan seseorang akan mudah dipahami jika seseorang itu menyesuaikan dengan audiensnya. Dalam hal ini komunikator harus melihat siapa komunikannya. Ini jika pesan komunikasi itu ingin sampai ke sasaran dengan efektif.

Maka dari itu, seseorang tentu akan menyesuaikan pesannya secara berbeda saat ia berbicara pada mahasiswa, masyarakat umum, anak TK, anak SMA, atasan, atau teman sebaya. Pesannya bisa jadi saja, tetapi cara menyampaikan tentu perlu melihat realitas audiensnya. Dalam hal ini pilihan pesan dengan menyesuaiakn audiensnya menjadi penting.

Bahkan, situasi dan kondisi kapan disampaikan juga cukup ikut menentukan apakah sebuah pesan itu bisa sampai ke sasaran atau tidak. Bagaimana jika seorang imam shalat shubuh membaca surat panjang sementara ibu-ibu peserta jamaah harus segera menyiapkan sarapan anak-anaknya yang mau sekolah? Ini baru menyangkut soal waktu saja.

Pemimpin itu Imam

Sebenarnya analogi yang terjadi pada pesan komunikasi dan shalat berjamaah di atas bisa dipakai untuk menganalisis persoalan politik. Sebut saja pemimpin itu imam, sementara rakyat itu makmum.

Imam itu dipilih oleh makmum. Tak ada istilah imam jika tak ada makmum. Imam diangkat untuk memimpin berdasarkan “aturan perimaman”. Imam meski dipilih makmum tidak bisa sembarangan melakukan tugasnya diluar keinginan makmum dan aturan yang sudah digariskan.

Itu pulalah mengapa setiap akan dilakukan shalat berjamaah, misalnya di tempat umum, beberapa orang harus menyepakati memilih imam. Pilihan imam tentu tidak sembarang. Umumnya secara kasat mata berdasarkan  usia. Atau ciri-ciri kesholehan fisik (meskipun ini belum tentu jaminan). Misalnya, pakai peci, pakai pakaian lebih bersih dan sopan dari yang lainnya. Tentu, mereka akan sepakat memilih seorang imam dari mereka yang memakai pakaian daripada memakai kaos oblong.

Dalam hal ini sering makmum memilih berdasarkan sesuatu yang pantas saja. Tentu imam di tempat umum ini diharapkan punya toleransi tinggi terkait kepentingan makmum. Di terminal misalnya ada yang harus buru-buru mengejar bis, ditunggu teman atau tetangganya dan lain-lain. Intinya imam menyesuaikan makmum.

Tanpa Beban

Seorang pemimpin itu juga dipilih oleh rakyat. Ada istilah pemimpin jika ada rakyat. Tanpa ada rakyat tak ada gunanya seorang pemimpin. Pemimpin ini dipilih dan diharapkan untuk mengantarkan rakyat ke kehidupan yang lebih baik sesuai cita-cita luhur kesepakatan umum yang tecermin dalam norma-norma (hukum, kesusilaan, kesopanan, agama).

Bagaimana jika seorang pemimpin itu melanggar kesepakatan umum sebagaimana mandat rakyat? Ia harus ditegur atau diluruskan agar sesuai dengan “garis-garis besar perimaman”. Bagaimana jika pemimpin itu melenceng dari norma-norma yang berlaku? Sebagai analogi imam, maka ia bisa diganti. Alasannya, agar sholar jamaah tetap bisa berjalan lancar dan sah. Tentu menyamakan pemimpin dengan imam dalam solat berjamaan tidak semudah itu, tetapi dalam beberapa hal juga ada benarnya.

Seorang pemimpin tentu harus memperhatikan kepentingan rakyatnya. Ini sudah pasti. Paling tidak jika kita menganalogikan bagaimana hubungan antara imam dengan makmum. Meskipun sekali lagi tak sesederhana itu. Tetapi hubungan ini bisa menjadi analogi yang mudah untuk dipahami.

Maka, pemimpin itu tugasnya membimbing, mengarahkan, bagaimana kendaraan bernama negara ini akan dibawa. Ia harus fokus pada tujuan. Tujuan apa? Tujuan kesepakatan yang sudah ada dalam teks naskah tertulis sebagaimana digariskan dalam undang-undang. Masalahnya, seorang pemimpin itu disumpah. Dan sumpah itu didengar oleh seluruh rakyat yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin karenanya harus punya prinsip. Ia juga tidak perlu mendengarkan pendapat banyak pihak jika yang dipilihnya sudah benar. Ia bukan orang yang hanya “bertugas” sebagaimana diberikan oleh kelompok tertentu. Ia harus mandiri. Memang tak bisa dipungkiri ia punya hubungan. Tetapi dalam hal ini gerbong kendaraan bernama negara ini lebih banyak penghuninya dan bukan mewakili sekelompok orang semata.

Ia juga lagi “petugas” partai yang semua kebijakannya didekte oleh partai. Meski ia didukung oleh partai. Partai memang kepentingannya memang begitu. Tujuannya apalagi kalau bukan kekuasaan. Apalagi pula kalau tidak berusaha menangkangi kekuasaan. Juga, kalau bisa menguasai secara ekonomi dan politik. Inilah partai sebagai kendaraan untuk meriah kekuasaan. Sementara pemimpin negara itu bukan pemimpin partai.

Seorang pemimpin itu panutan rakyatnya. Jika ia mengatakan”tanpa beban” bisa diartikan tanpa beban untuk mengenyahkan kepentingan partainya. Bukan beban yang justru merugikan kepentingan rakyat. Kalau tanpa beban dengan merugikan rakyatnya   berarti ia menjadi pemimpin yang tutup mata atas persoalan masyarakat. “Tanpa beban”  harus diartikan berkhidmat pada kepentingan rakyat. Jadi beban-beban kepentingan sekelompok lain harus dienyahkan.

Itulah yang namanya pemimpin. Jika tidak ia akan tetap punya beban berat dan hanya akan menjadi “boneka” pajangan kepentingan kelompok tertentu. Ia kemudian hanya akan dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang tak punya kemandirian.

Harapan ideal atas  seorang “imam” politik bukan lantas dipahami sebagai sebuah pesimisme atau ketidaksukaan. Justru harapan ideal itu perlu disematkan agar pemimpin berjalan lebih baik di masa depan. Pada siapa lagi pundak harapan ini akan diberikan jika bukan ke pemimpin kita? Masalahnya kita hidup dalam masyarakat yang mengaku toleran tetapi dalam perilakunya kita kadang tidak toleran. Hanya karena kepentingan. Serba repot, bukan?

Mau beda sedikit dipahami sebagai perongrong. Mengkritik dipahami sebagai tidak suka. Demo dipahami sebagai anarkis. Serba susah, bukan? Tetapi apakah kita diam saja untuk tak mengeluarkan pernyataan hanya gara-gara takut mengkritik? Hidup ini pilihan. Termasuk pilihan untuk mengkritik. Menjadi pemimpin itu juga pilihan. Pilihan juga untuk siap dikritik. Kalau tidak mau dikritik jangan jadi pemimpin. Mudah, bukan?

Obral Janji

Menjadi imam memang tidak mudah. Termasuk di sini menjadi pemimpin. Ia panutan rakyat. Ia akan selalu disorot, sekecil apapun. Sama dengan artis. sekecil apapun perilaku artis akan menjadi sorotan masyarakat. Jangan jadi artis jika tak mau disoroti kehidupan pribadinya. Ketika sedeorang menjadi artis ia sudah menjadi “barang” publik. Maka tak elok jika seorang artis mengatakan “Ini wilayah pribadi saya, aya punya hak untuk tak diliput media”. Ini namanya egois. Kalau tidak mau disorot jangan menjadi artis.

Jika tak mau dikritik jangan jadi pemimpin. Pemimpin juga tak elok mengatakan “Itu bukan urusan saya”. Seorang pemimpin itu panutan. Di setiap sikap dan perilakunya akan dijadikan rujukan dan pedoman.  Jika tak suka junjungannya dikritik jangan terlibat dukung mendukung. Hidup ini cukup enak dan mudah. Hanya manusia sendiri yang membikin ruwet.

Ia tidak boleh dengan mudah berjanji hanya untuk menyenangkan banyak orang tetapi tidak bisa dilaksanakan. Intinya jangan obral janji. Ia sudah disumpah. Janji bagi pepimpin itu ibarat ikrar yang mewakili ratusan juta rakyatnya. Jadi jika dikaitkan dengan dosa ia bisa kena hukuman ratusan itu.  Jika ia menepati janji ia akan berpahala ratusan juta itu pula.

Pemimpin bukan politisi. Jika politisi, ia akan mudah menjanjikan sesuatu lalu mengingkarinya. Apakah Presiden itu politisi? Apakah anggota DPR itu politisi? Apakah menteri-menteri itu politisi? Silakan dijawab sendiri.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini