Terakota.id– Setahun yang lalu, tepatnya 14 Februari 2018, penyair “keras kepala” sekaligus “berhati dingin” asal Malang, Wahyu Prasetya meninggal dunia. Sebagai seorang penyair, Wahyu meninggalkan banyak warisan. Warisan berupa rumah kata-kata.Ia menulis banyak puisi. Karenanya, jejaknya tak sirna disaput masa.

Karya Wahyu teranyar akan segera diluncurkan. Buku itu berjudul “Wahyu Menulis Puisi” dan diterbitkan oleh penerbit Pelangi Sastra.Peluncuran akan diadakan pada Sabtu, 16 Maret 2019, pukul 18.30-selesai. Pelangi Sastra memilih Kafe Pustaka yang ada di dalam Universitas Negeri Malang sebagai tempat peluncuran.

Peluncuran akan diisi dengan beragam acara. Ada orasi kesusastraan dari Prof. Djoko Saryono (Guru Besar UM) dan Bambang Widiatmo (Penyair). Ada juga testimoni dari istri almarhum Wahyu Prasetya, Dewi Latief. Selain itu ada juga pembacaan puisi dari beberapa penyair dan penampilan musik dari Desa Kota dan Ragil Kubumi.

Sekilas Tentang Wahyu Prasetya

Wahyu Prasetya lahir 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timu.Lengkapnya, Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto. Karib disapa dengan nama Pungky.Dalam kepenyairannya,ia dikenal sebagai penyair “keras kepala sekaligus berhati dingin”. Wahyu mulai menulis sejak 1979 dengan menyebarkan karya-karyanya di berbagai media massa terbitan ibukota maupun daerah. Termasuk Majalah sastra Horison (Jakarta). Bahana (Brunei), dan Dewan Bahasa (Kuala Lumpur).

Pada tahun 1982 berkelana ke berbagai Negara ASEAN, dan pada tahun 1983-1985 sempat bermukim di Berlin, Jerman Barat.
Sebagai penyair, Wahyu termasuk salah satu penyair yang sangat diperhitungkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam Forum Puisi Indonesia 1987 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di TIM. Forum lainnya yang diikuti dan diselenggarakan oleh DKJ antara lain forum Dialog Penyair Jakarta (1989). Ia kerap pula diundang membacakan puisinya, serta puisinya pernah diterbitkan dalam suatu antologi tunggal oleh Sorbone University-Paris.

“Adapun kumpulan puisinya yang sudah terbit, antara lain Nafas Telanjang (1980), Tonggak IV (disunting oleh Linus Suryadi AG, 1987), Sesudah Gelas Pecah (1996) diterbitkan Forum Sastra Bandung. Antologi Temu Penyair Indonesia (1987), dan Dialog Penyair Jakarta (1989), Amsal Patung (1997) dan beberapa kumpulan bersama,” jelas Deny Mizhar, penggagas peluncuran buku kumpulan puisi Wahyu Prasetya kepada Terakota.id melalui pesan elektronik.

Pada bulan Desember 1999 Wahyu Prasetya hijrah dari Kota Malang ke Bekasi bersama istrinya. Dan bersamaan itu pula ia menghilang dari pergumulan kesusastraan Indonesia. Hingga pada tahun 2011 hadir kembali saat puisi-puisinya dimuat lagi di Majalah Horison dan di Koran-koran lokal Kota Malang. Ia bekerja di Muara Tewe Kalimatan Tengah dan masih tetap menulis puisi hingga meninggal pada 14 Februari 2018. Sebelum meninggal dunia, ia menghimpun puisi-puisinya bersama Irawan Sandhy Wiraatmaja yang diterbitkan dengan judul Literature Suara dari Hutan Jenar (Teras Budaya, 2017).

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini