Peluncuran Buku Kisah Inspirasi Guru di atas Bus Macito

Buku berjudul Jatuh Bangkit dan Terbang karya guru SMP Kristen Pamerdi, Kebonagung, Kabupaten Malang diluncurkan di atas bus Macito. (Terakota/Faisol Asyari).

Reporter: Faisol Asyari

Terakota.idBusMalang city tour (Macito) penuh sesak penumpang, terutama di kabin atas. Mereka duduk di bagian atas bus tingkat, masing-masing memegang sebuah buku berjudul Jatuh Bangkit dan Terbang. Puluhan penumpang merupakan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen Pamerdi, Kebonagung, Kabupaten Malang.

Bus berangkat dari Taman Rekreasi Kota (Tareko) jalan Majapahit, Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Mereka menebar senyum sejak bus bergerak menelusuri Kota Malang. Sepanjang jalan mereka bernyanyi guru tanpa tanda jasa, serta berswafoto berpose bersama sepanjang jalan. Panas terik matahari tak menyurutkan mereka untuk menikmati berjalan-jalan di Kota Malang.

Bus berhenti sejenak di Jalan Semeru, Oro-oro Dowo, tepat di depan Perpustakaan Umum Kota Malang. Para guru berkumpul dan berfoto di atas bus tingkat sembari menunjukkan buku hasil karyanya. Kegiatan ini merupakan bagian dari peluncuran buku yang ditulis para guru tersebut.

“Ini apresiasi kami kepada guru yang puluhan tahun mengabdi dan tetap setia mengajar,” kata Kepala SMP Kristen Pamerdi Kebonagung, Wahyu Kris AW, Kamis 27 Juni 2019.

Peluncuran buku ini, katanya, merupakan simbol semangat literasi dan menunjukkan semangat guru mendidik murid tak pernah pudar. Sejak 2018 telah diterbitkan empat buku. Terdiri dari tiga buku karya guru dan satu buku karya siswa.

Menerbitkan buku karya siswa dan guru tak lepas dari program Gerakan Menulis Buku Indonesia. Serta program literasi yang menjadi program unggulan SMP Kristen Pamerdi. Siswa dan guru dibiasakan membaca, berdiskusi dan menulis buku. “Literasi merupakan program penting. Targetnya rutin setiap tahun menerbitkan buku,” katanya.

Buku berisi tulisan pergulatan dalam menghadapi proses belajar mengajar. Ada momentum jatuh, bangkit dan terbang. Sehingga layak diapresiasi. Proses kehidupan itulah, kata Wahyu, yang disampaikan dalam buku kumpulan tulisan para guru tersebut.

Sejak setahun SMP Kristen Pamerdi telah menerbitkan empat buku. Terdiri dari tiga buku karya guru dan satu buku karya siswa. (Terakota/Faisol Asyari).

Buku ini juga mengisahkan kehidupan para pendidik, tak melulu kisah bahagia. Ada kalanya diajak merenung sejenak, untuk menemukan petunjuk Tuhan di balik semua peristiwa. Guru bukan super hero yang bisa mengatasi semua persoalan seorang diri. Guru juga manusia yang bisa letih, menangis dan bersedih.

Namun, justru kondisi itu, yang membuat para pendidik ini merasakan betapa dekat kehidupannya dengan Tuhan. Seperti kisah Elly Sulistyowati, mendidik 30 tahun di SMP Pamerdi. Ia  mengungkapkan kebahagiaannya dipilih Tuhan menjadi pendidikan yang berhasil melewati fase kritis.

Bahkan dia menuliskan pelayanannya kepada anak-anak sudah menyatu menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Sunarsih yang menjadi guru selama 37 tahun menulis kadang manusia bersikap sering menuduh Tuhan tidak adil dan tidak mau menolong. Namun, pada akhirnya kita selalu kagum ketika kemudian mengetahui, “bahwa Tuhan adalah pengemudi yang menjamin perlindungan agar perjalanan hidup kita selamat.”

“Karena Tuhan sudah terlebih dulu mengasihi saya, maka tugas saya adalah mengasihi anak-anak yang dititipkan kepada saya. Bagaimanapun kondisinya,” tulis Elly, seorang guru yang mengabdikan diri sejak 1982.

Lain lagi dengan kisah Chintia Anjani yang baru dua tahun menjadi pendidik. Pendidik yang lemah lembut dan menyayanginya dia rasakan selama bersekolah. “Sehingga membawanya kembali pulang ke sekolah, bukan lagi sebagai siswa tapi sebagai guru.” 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini