Pelaku Wisata Bangkit dari Keterpurukan saat Pandemi

pelaku-wisata-bangkit-dari-keterpurukan-saat-pandemi
EJEF Menditikan Rupa Duta untuk menggerakkan ekonomi pelaku wisata saat pandemi. (Foto : EJEF)

Terakota.idSejak pandemi covid-19, semua usaha pariwisata kolaps, yang juga berdampak terhadap pelaku pariwisata. Apalagi, pemerintah mengeluarkan kebijakan menutup semua destinasi wisata. Sementara sebagian besar telah menempatkan industri pariwisata sebagai tumpuan utama. Setelah sektor pariwisata lesu, mereka kaget dan bingung mencari pendapatan lain.

Seperti sebuah desa di Situbondo sekitar 80 persen penduduknya merupakan perajin gantungan kunci dipasarkan ke Malioboro Yogyakarta, Danau Toba dan Bali. Sejak Februari 2020, produksi terhenti karena industri wisata lesu.

Ketua East Java Ecotourism Forum (EJEF) Agus Wiyono menjelaskan kini, mereka berganti produksi gelas berlapis bambu. Melalui Rumah Pangan Duta Ekowisata (Rupa Duta) yang dibentuk EJEF produk mereka dipasarkan ke sejumlah pengelola cafe dan perseorangan di Jakarta dan luar Jawa.

Pemerintah, katanya, seharusnya hadir membantu untuk mendapatkan skema bantuan sosial. Tak memberi ikan, tetapi pancing agar mereka bisa bertahan dan kuat menghadapi pandemi covid-19. Dinas Pariwasata Jawa Timur, katanya, meminta data nama dan alamat pekaku usaha pariwisata. Mereka yang kehilangan pekerjaan akan diberikan kartu pra kerja. Namun, sampai 1,5 bulan berlalu  tak ada kabar lebih lanjut.

“Kita jalan sendiri saja. Kayak mengemis,” katanya. Agus menilai jika kartu pra kerja tak tepat diberikan kepada pelaku jasa pariwisata. Pelatihan hanya menguntungkan provider. Kartu pra kerja cocok diberikan kepada pemuda yang baru lulus SMA atau Perguruan Tinggi. Bukan diberikan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan dan tak dapat penghasilan.

Selain itu, bisa membantu UMKM mendapat PIRT, atau izin usaha lainnya. Serta pinjaman modal usaha dengan skema bunga ringan. “Pra kerja buka jawaban. Tak cocok,” ujarnya.

EJEF beranggotakan 250 kelompok atau komunitas. Sementara Rupa Duta baru mengelola sekitar 10 persen dari potensi yang ada. Keterbatan tenaga menjadi salah satu faktor. Model bisnis dirancang agar berkelanjutan dan menopang ekonomi pelaku industri pariwisata. Setelah pandemic covid-19, Rupa Duta diharapkan tetap berlanjut mengembangkan bahan pangan, produk olahan yang sehat dan ramah lingkungan.

Pandemi covid-19 menjadi pembelajaran agar para pelaku wsiata tak terlena dengan kegiatan wisata saja. Seperti pengelola desa wisata, tetap mengelola lahan pertanian. “Jangan tinggalkan pekerjaan utama. Petani ya tetap bertani, pariwisata menjadi alternatif,” katanya.

EJEF merupakan forum bagi pelaku wisata berbasis ekowisata. Wadah, bagi industri pariwisata, tour operator, pemandu wisata, pengusaha UMKM, dan pengelola destinasi. Selain itu, juga didukung akademikus, mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) konservasi dan pendamping kemunitas dan mmasyarakat pariwisata.

pelaku-wisata-bangkit-dari-keterpurukan-saat-pandemi
Mug kreasi perajin anggota EJEF yang ditawarkan melalui Rupa Duta. (Terakota/Eko Widianto).

Mendorong pegembangan wisata dengan menerapkan konsep berkelanjutan dan memperhatikan aspek sosial budaya, lingkungan hidup, dan ekomi berkelanjuran. Dengan menerapkan manajemen bagus yang berkelanjutan EJEF memiliki model pencontohan destinasi ekowisata di kawasan pedesaan, dataran tinggi dan pesisir. EJEF rutin menggelar pelatihan dan memasarkan produk wisata secara bersama-sama.

Sebulan sekali digelar kuliah pariwisata non gelar secara gratis di Universits Brawijaya. EJEF juga memberi pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM pelaku usaha wisata, mengelola home stay, pemandu, perencanaan pengelolaan destinasi, dan paket wisata.

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini