Patung Ganesha Berdiri di Karangkates: antara Kebijakan Pengetahuan dan Keliaran Manusia

patung-ganesha-berdiri-di-karangkates-antara-kebijakan-pengetahuan-dan-keliaran-manusia
Arca Ganesha berdiri di belakang Perumahan Perum Jasa Tirta I, Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id– Saya pertama kali bertemu Sang Ganesha yang bersemayam di belakang perumahan Perum Jasa Tirta I di Karangkates, sekitar lima tahun silam. Siang menjelang tengah hari, ketika surya bersinar terik, saya berdiri beberapa langkah di depan patung yang dipanggil “Mbah Gajah” dan menggambarkan putra dari Dewa Siwa dengan Dewi Parwati.

Ada dua hal yang menarik perhatian saya. Pertama, Sang Dewa dipatungkan dalam keadaan berdiri, sementara sekian banyak penggambaran Beliau, senantiasa digambarkan dalam keadaan duduk. Kedua, Sang Ganesha berdiri di atas lapik yang dihias tengkorak, bermahkotakan tengkorak, bahkan kedua telinganya digantung tengkorak sebagai anting-antingnya.

Kesan sesaat adalah, patung ini memberikan gambaran kebesaran atau grandeur yang menggentarkan bagi yang menemuinya, atau bahkan menakutkan bila orang yang memandangnya memiliki niat buruk dalam hati. Saya kira untuk kesan ini, sudah tepat bila Ganesha memiliki nama lain dalam Bahasa Sansekerta: vighnanāśaka, atau penghilang (nāśaka) dari vighna (halangan).

Bila berkunjung, kita kadang-kadang melihat pratima Ganesha ditempatkan di depan rumah dan tempat suci untuk mengusir vighna. Tak heran jika patung Ganesha sering ditemukan di tempat yang berbahaya, seperti sungai dan jurang, dalam rangka menghadang marabahaya atau peredam murka. (Konon, Patung Ganesha di Karangkates ini dulu ada di tepian Sungai Brantas sebelum dipindahkan ke tempat saat ini). Saya setuju dengan pendapat arkeolog Budiarto Sedyadi, yang menyebut, “Penempatan Ganesha adalah sebagian dari strategi kultural manusia untuk menanggulangi bencana.”

Saya bukan arkeolog, juga bukan sejarawan, jadi tidak boleh melakukan analisis tentang asal-usul Patung Ganesha yang dimuliakan di Karangkates tadi. Hal yang saya ketahui dari sumber sekunder adalah Patung Ganesha berdiri ini adalah satu-satunya (yang masih ada) di Indonesia. Serta berasal dari periode kerajaan klasik di Jawa yang memiliki agama resmi Siwaisme. Sebab pemujaan terhadap dewa ini hanya terjadi pada sistem monarki berbasis agama Buddha-Siwaistik.

Jika saja, Dewa Siwa tak memenggal dihalangi anaknya, maka Ganesha tak akan berkepala gajah. Alkisah, setelah pergi bertahun-tahun lamanya, Siwa pulang dan menemukan istrinya Parwati mandi, sementara pintu depan dijaga anaknya – yang tak diingat lagi wajahnya. Lantaran dihalangi masuk, sang dewa marah dan memenggal anaknya dengan trisula. Tak pelak, Parwati meratap dan menangis. Siwa menyesal, lantas mencari hewan yang sedang tidur untuk diambil kepalanya. Seekor gajah sedang tidur pun dipenggal untuk menggantikan kepala yang terpotong.

Untuk mengobati rasa sesal, kepada Ganesha (demikian nama anaknya) diberikan segala kuasa atas pengetahuan dan juga keselamatan bagi siapapun yang memohon pertolongan kepadanya. Demikianlah, terbentuk jati diri Sang Dewa Pengetahuan yang serba asih itu.

Ganesha dipuja secara meluas, tidak saja di Indonesia. Sejak perniagaan India menguat pada abad ke 10 Masehi. Para pedagang membawa budaya dan bersama mereka konsep keillahian Ganesha sebagai pelindung manusia fana. Ganesha dipuja dengan nama dan reinkarnasi beragam: Tshog Bdag di Tibet, Kangiten di Jepang, Maha Peinne di Burma, Pra Phikhanet di Thailand, dan Gana Aviyo in Sri Lanka.

Sejarawan Rusia, Yurievich (2016) bahkan berargumen secara mitologis dan teogonis, pemujaan terhadap Dewa Apollo, Dewa Indra dan Dewa Ganesha (Vinayak Ganapati atau vighnanāśaka) memiliki paralelisme yang bersumber dari tradisi Indo-Arya (lebih dulu dibandingkan kebudayaan vedik di India). Dewa ini memang mirip Janus atau kombinasi Dionysus dan Apollo dalam kedewataan Yunani, seperti halnya Horus dan Seth dalam kedewataan Mesir Kuno.

Kontroversi dari patung Ganesha di Karangkates ini bagi saya adalah pada perpaduan dua konsep besar di dalam pematungannya. Konsep ini secara kosmologis saling berbenturan.

Ganesha selalu digambarkan dalam pantheon (kedewataan) Hindu sebagai lambang dari seluruh pengetahuan yang ada di alam ini. Dewa pengetahuan ini lazimnya ditandai sebilah gadingnya yang patah (melambangkan alat untuk menulis), kapak (melambangkan ketajaman pisau analitis), tali (melambangkan fungsi pengetahuan), dan sebuah labu atau madaka di mana belalai Sang Dewa menyedot manisnya “buah” pengetahuan.

Di sisi lain, saya melihat Patung Ganesha di Karangkates memakai berbagai elemen yang erat dengan sebuah aliran mistisme dalam agama Hindu dan Buddha, bernama Tantra. Muñoz (2013) menggambarkan Tantra pada awalnya merupakan sebuah bentuk esoterik dari Buddhisme dari aliran Mahayana. Meluasnya aliran Tantra sejak abad ke 8 Masehi di Jawa, adalah karena daya tariknya, lantaran memakai berbagai ritual dan mantra yang dapat memintas rangkaian sengsara (samsara) sehingga mencegah reinkarnasi tiada akhir.

Patung Ganesha di Karangkates ini dipenuhi rangkaian tengkorak, sebuah tanda pengaruh Tantra, yang kemungkinan bergaris-besar Bhairawa. Tantra aliran ini dikenal meluas di Jawa, khususnya pada masa Kerajaan Singosari, khususnya pada saat Kertanegara berkuasa.

Area benda cagar budaya arca Ganesha berdiri di belakang Perumahan Perum Jasa Tirta I, Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Bhairawa – dalam bentuk ekstrimnya dipraktikkan dalam bentuk Kalacakra – memuja Siwa pada tahapan demonik sebagai penghancur semesta. Persembahan darah manusia, kanibalisme dan pesta-pora dipraktikkan dalam aliran Tantra ini, mendekati apa yang ditulis fenomenologis barat Jean Paul Ricœur sebagai debauchery untuk memperoleh “pembebasan jiwa.”

Lima tahun silam, ketika siang menjelang tengah hari, di bawah surya bersinar terik, saya berdiri beberapa langkah di depan patung yang menggambarkan putra Dewa Siwa dari ibu Dewi Parwati. Saya membayangkan para resi memeragakan ritual beraliran Tantra di depan Sang Dewa Pengetahuan, mungkin dengan pengorbanan mirip sekte Bhairawa. Berbeda dari tunggangan Ganesha yang lazimnya berupa tikus (reinkaransi dari seorang wasi yang membelot dari kahyangan), kendaraan kali ini adalah tengkorak-tengkorak manusia (yang dikorbankan).

Jauh di dalam benak, saya membayangkan bagaimana prakonsepsi Indo-Arya mengenai keselamatan dalam wujud Dewa Pengetahuan yang serba pengasih bisa bertiwikrama menjadi manifestasi Siwa yang menyeramkan – berwujud patung dengan elemen Tantra yang menakutkan. Asap dupa, bau daging, persetubuhan, suasana semi trance dengan sajian minuman memabukkan. Pancamakara: alias mo limo kata orang Jawa.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini