Pasutri Penebar Pesan Damai

Kampanye perdamaian disampaikan melalui lintas agama. Komunitas sepeda dan Peace Generation yang beranggotakan komunitas agama tersebar di seluruh dunia membantu berinteraksi dengan komunitas agama lain. Hakam dan istri berlatar belakang seorang santri taat. Keduanya resah dengan kekerasan dan aksi intoleran yang terjadi di sejumlah Negara. Termasuk aksi intoleran yang terjadi di tanah air, seperti pelarangan ibadah dan penutupan tempat ibadah.

Semangat Sumpah Pemuda (2)

Terakota.id–Pasangan suami istri Hakam Mabruri, 34 tahun dan Rofingatul Islamiah, 34 tahun telah menyelesaikan sebuah perjalanan ‘suci.’ Mengayuh sepeda tandem dalam sebuah misi perdamaian bernama“Holy Journey From Indonesia to Agypt.” Perjalanan suci menyampaikan pesan perdamaian dilangsungkan selama 10 bulan, sejak 17 Desember 2016.

Keduanya tiba di Kairo, Mesir, bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Helmy Fauzy, 17 Oktober 2017. Mereka bakal tinggal selama dua pekan di Kairo untuk bertemu dengan komunitas lintas iman dan mahasiswa Indonesia di Kairo. “Sedang menyusun rencana bersepeda bareng mahasiswa Indonesia di Kairo dan Pak Dubes,” katanya melalui aplikasi perpesan.

Hakam dan Islamiah bakal mengakhiri perjalanan bersepeda di Mekah sembari menunaikan ibadah umrah. Sepanjang perjalanan banyak cerita dan kisah yang menarik. Kisah tersebut telah didokumentasikan dan akan dibagikan demi dialog lintas iman.

Mereka berangkat dari Malang, Sabtu 17 Desember 2016, kompak mengenakan setelah kaus berwarna hitam bertulis “Holy Journey From Indonesia to Agypt.” Bercelana olahraga dan mengenakan sandal gunung, mereka memulai mengayuh sepeda tandem dari Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Menempuh perjalanan sejauh 6.755 kilometer ditempuh 10 bulan, lebih singkat dari rencana semula selama setahun. Keduanya memiliki misi menyampaikan pesan perdamaian ke seluruh komunitas agama dan suku bangsa di Negara yang dilintasi. Sepanjang perjalanan pesan damai, membangun toleransi dan merawat keberagaman  disampaikan melalui sebuah brosur.

Kampanye perdamaian disampaikan melalui lintas agama. Komunitas sepeda dan Peace Generation yang beranggotakan komunitas agama tersebar di seluruh dunia membantu berinteraksi dengan komunitas agama lain. Hakam dan istri berlatar belakang seorang santri taat. Keduanya resah dengan kekerasan dan aksi intoleran yang terjadi di sejumlah Negara. Termasuk aksi intoleran yang terjadi di tanah air, seperti pelarangan ibadah dan penutupan tempat ibadah.

Hakam Mabruri, dan Rofingatul Islamiah disambut hangat di setiap Negara yang dilintasi. (Foto : dokumen pribadi).

“Sadar, saya bukan siapa-siapa. Tak bisa mengubah dunia. Berkampanye dengan bersepeda lebih mudah,” kata Hakam. Lelaki yang tercatat sebagai anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Malang ini berangkat dari donasi sejumlah pihak dan penjualan cinderamata.

Hakam taka sing bagi pesepeda, dia pernah berkeliling Indonesia melintasi Malaysia dan Brunei Darussalam mengayuh sepeda untuk kampanye stop perburuan penyu pada 2013. Warga Desa Gading, Bululawang, Kabupaten Malang ini juga didukung produsen sepeda asal Surabaya.

Semangat Wali Sanga

Pasutri pesepeda Hakam Mabruri, dan Rofingatul Islamiah berfoto dengan latar laut merah. (Foto : dokumen pribadi).

Perjalanan dimulai dengan rute jalur makam Wali Sanga. Mereka memulai berziarah ke makam Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri (Gresik) Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Kudus, Sunan Muria,  Sunan Kalijaga (Demak) dan Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Hakam mengaku berziarah ke makam wali sanga untuk membawa spirit wali sanga yang menyebarkan agama Islam dengan penuh kesantunan. Tak ada kekerasan dan mencegah permusuhan antar agama. “Ada nilai toleransi dan menghargai budaya setempat. Berdakwa juga dilakukan dengan pendekatan budaya,” ujarnya.

Dia juga ingin menghapus stigma terhadap Islam di Indonesia yang dianggap penuh dengan kekerasan, dekat dengan terorisme dan radikalisme. Islam di Indonesia, katanya, bersahabat dan mengedepankan perdamaian.

Terjadi akulturasi budaya, selama penyebaran agama Islam oleh wali sanga seperti bangunan menara masjid Kudus di Demak yang secara arsitektur perpaduan antara budaya Hindu dan Islam. Bangunan menara didesain mirip dengan bangunan candi, tempat suci dan beribadah umat Hindu.

Rofingatul Islamiah mengaku banyak dibantu komunitas pesepeda sepanjang perjalanan. “Saya berbahasa Inggris, suami berbahasa arab,” katanya.

Tim official Holy Journey, Amirudin mengaku memantau perjalanan dan berkomunikasi Hakam dan Rofingatul melalui media sosial. Peralatan dan kebutuhan lain seperti suku cadang sepeda dipasok dari Malang.

Memperingati Sumpah Pemuda, Terakota.id menurunkan laporan tokoh pemuda yang menjadi pahlawan dalam bidang seni, budaya, sejarah dan pariwisata.

Tinggalkan Pesan