Pasang Surut Industri Gula di Malang pada Masa Hindia Belanda

Awal 1900-an menjadi masa puncak kejayaan industri gula di Hindia Belanda. Jawa sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Ekspor gula  menyumbang seperempat dari seluruh pendapatan finansial pemerintah Hindia Belanda

Gedung Pabrik Gula Krebet 1920. (Foto : KITLV).

Terakota.idGula menjadi komoditas utama pada masa kolonial Belanda. Bermula dari 1830, saat kolonial Belanda menetapkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel. Setiap tahun, penduduk diwajibkan menyetor komoditas ekspor yang laku di pasar Eropa, berupa gula dan kopi. Terjadi pasang surut industri gula di Hindia Belanda.

Peneliti sejarah Amri Eka Wardana dalam karya ilmiahnya berjudul “Dinamika Pabrik Gula Krebet Malang 1906-1957” menulis pada awal abad ke-19 menjadi momentum penting bagi perkembangan perkebunan di indonesia.

“Pada masa sistem tanam paksa tebu merupakan salah satu tanaman wajib yang harus di tanam oleh petani. Sehingga banyak berdiri pabrik gula di Jawa,” tulis Winin Maulidya Saffanah dalam laporan ilmiahnya, Industrialisasi Dan Berkembangnya Kota Malang Pada Awal Abad Ke-20.

Tebu menjadi salah satu komoditas yang wajib ditanam rakyat. Gula mendapat tempat yang sangat bergengsi di Hindia Belanda. Penanaman tebu dipusatkan di Pasuruan, Surabaya dan Besuki Jawa Timur.  Pada 1870, dua undang-undang penting mengubah perekonomian Hindia Belanda, yakni Undang-Undang Agraria dan Undang Undang Gula.

Perkebunan tebu di 1870. (Foto : KITLV).

“Undang-Undang Agraria membolehkan pengusaha swasta menyewa tanah sawah penduduk secara tahunan. Mendapatkan konsesi 75 tahun dari pemerintah untuk menggunakan tanah yang tidak dibudidayakan penduduk,“ tulis Winin Maulidya Saffanah.

Undang-undang Gula menghapus sistem tanam paksa gula yang merupakan salah satu komoditas paling penting pada masa itu. Sekitar dua dasawarsa sejak undang-undang ditetapkan, ekspor produk gula meningkat. Komoditas gula melonjak signifikan sampai 266 persen dari 1874 sampai 1914. Jika pada 1874 terdapat 50 Juta Gulden untuk gula yang diekspor, pada 1914 melonjak menjadi 183 Juta Gulden.

Pabrik gula di Jawa pada 1920-an terdapat 179 Pabrik Gula yang mengusahakan perkebunan-perkebunan di Jawa. Luas tebu dipanen kurang lebih 200.000 hektare, menghasilkan 3 juta ton tebu. Dari 179 Pabrik Gula yang beroperasi di Jawa sebanyak 101 Pabrik Gula terdapat di Jawa Timur. Sisanya tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Awal 1900-an merupakan puncak kejayaan industri gula di Hindia Belanda.  Pada 1928 menghasilkan tiga perempat dari ekspor di Jawa, sedangkan keseluruhan daerah telah menyumbang seperempat dari seluruh penerimaan pemerintah Hindia Belanda. Sehingga menempatkan Jawa sebagai eksportir gula kedua terbesar di dunia setelah Kuba.

Industri gula merupakan tulang punggung perekonomian kolonial di Hindia Belanda dan menjadi pondasi utama bagi pembangunan. Pemerintah Hindia Belanda saat itu sengaja memusatkan perhatiaanya pada perdagangan. Manajemen perusahaan gula yang efektif membuat produktifitas rata-rata yang tinggi. Sehingga timbul persaingan penurunan harga di pasaran.

Instalasi Pabrik Gula di Jawa pada 1895. (Foto : KITLV).

Pemerintah menjual tanah-tanah partikelir. Tanah dijual jadi milik pengusaha dari pihak swasta atau tuan tanah. Pengusaha Cina dan Eropa menggunakan tanah tersebut untuk menanam tebu dan kemudian mendirikan pabrik gula. Industri gula berkembang di Karisidenan Pasuruan. Luasnya lahan perkebunan di kawasan Malang menjadi pertimbangan untuk mendirikan pabrik gula atau suiker fabriek.

Ramai-ramai Mendirikan Pabrik Gula 

Pada 1906 berdiri Pabrik Gula Krebet. Pabrik Gula Krebet Baru awalnya didirikan pemerintah Hindia Belanda. Seiring berjalannya waktu, pabrik dibeli raja gula asal Semarang, Oei Tiong Ham. Pabrik gula ini selanjutnya berada di bawah kepemilikan Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Pabrik gula ini terletak di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang. Kabupaten Malang.

Daerah Krebet menjadi daerah perkebunan setelah pemerintah Hindia Belanda mengembangkan instalasi industri perkebunan 1870-an. Perkebunan tersebar pula di Dinoyo, Blimbing, Singosari hingga Tumpang.

Pabrik gula di Karesidenan Pasuruan pada 1914 meliputi PG Winongan di Kecamatan Winongan (Pasuruan), PG Gayam di Kecamatan Tirtoyudo, PG Pleret di Kecamatan Bangil (Pasuruan), PG Wonoredjo di Kecamatan Ampelgading, PG Sumberrejo di Kecamatan Sumbermanjing, PG Pandaan di Pandaan (Pasuruan), PG Soekoredjo di Kecamatan Sukorejo (Pasuruan), PG Alkmaar di Kecamatan Purwosari (Pasuruan), PG Kebonagung di Kecamatan Pakisaji, PG Sempalwadak di Kecamatan Bululawang, PG Krebet di Kecamatan Bululawang, PG Panggoengredjo di Kecamatan Kepanjen.

Industri gula di Malang makin melesat dengan dikembangkannya sarana dan prasarana yang memadai. Meliputi pasar, komunikasi dan transportasi. Perubahan status Malang yang awalnya wilayah Karisidenan Pasuruan menjadi Gemeente Malang pada 1 April 1914  turut mengatrol industri.

Kelompok industrialis dan kelompok teknisi makin banyak yang masuk Malang. Kelompok industrialis merupakan golongan pemodal. Kelompok teknisi mendukung pembangunan infrastruktur. Untuk mempermudah arus modal dan lalu lintas manusia. Kala itu fasilitas umum seperti sekolah, gereja, bank, pasar, pertokoan dan kantor pemerintahan berpusat di Kota Malang.

Pabrk Gula di Jawa 1920. (Foto : KITLV)

Petani lokal awalnya diuntungkan dengan berdirinya pabrik-pabrik gula di Karesidenan Pasuruan. Namun seiring pesatnnya industri gula, masyarakat dirugikan pemilik pabrik perihal perluasan areal, penyewaan tanah, sistem irigasi dan tenga kerja.

Areal perkebunan tebu di karisidenan pasuruan pada tahun 1926-an bertambah seluas 27,434 hektare. Ekonomi melejit. Pemerintah kolonial melakukan tindakan pemetaan sawah yang telah di sewakan kepada para pengusaha Eropa. Pemetaan sawah di Karisidenan Pasuruan dilakukan oleh penasehat kelompok perkebunan yang di pantau langsung oleh pemerintah.  Pengerjaan pemetaan memakan waktu, selesai pada 1930.

Produksi Pabrik Gula beserta Wilayah Tanam di Karesidenan Pasuruan

Pabrik Gula Lahan (hektare) Tebu (Kuintal/

hektare)

Gula Kristal Rendement
Winongan 983 1298 136 10,5
Gayam 547 1026 100 9,7
Pleret 1058 997 107 10,7
Wonoredjo 498 10049 128 12,2
Sumberredjo 672 1103 134 12,1
Pandaan 995 1047 116 11,1
Sukoredjo 670 1001 110 11,0
Alkmaar 779 1093 125 11,5
Kebonagung 860 1394 164 11,8
Sempalwadak 567 1335 152 11,4
Krebet 1047 1488 164 11,1
Panggoredjo 1051 1331 141 10,6

Sumber : Jaargang 1932 no2. Verheandelinger Voor De Leden Van Het Profstation Voor De Java Suikerindustrie , hal.79  dalam Wardana, 2013, h. 112.

Pabrik Gula Gulung Tikar

Industri gula berada di puncak kejayaan pada abad ke-19 dan mengalami guncangan pada 1930-an. Pada 1930 terjadi depresi ekonomi dunia atau biasa di sebut dengan zaman Malaisse. Hindia Belanda terkena imbas depresi ekonomi, industri gula anjlok. Banyak pabrik gula gulung tikar.

Dalam waktu empat tahun hanya tersisa 97 pabrik dari awalnya 179 pabrik pada 1933. Pada1934 turun jadi 84 pabrik gula. Produksi gula menurun hingga 646 ribu ton. Harga gula di perdagangan dunia turun drastis. Pada 1934 harga gula per kuintal jadi ƒ3,46 per kuintal, awalnya ƒ14,25 pada 1929.

Cina dan Jepang yang dulunya mengimpor gula dari Indonesia, memilih produksi sendiri. Jepang setelah menduduki Taiwan juga mengembangkan industri gula di negara tersebut. Industri gula di Indonesia kian terpukul.

Agus  Sudono dalam bukunya Perburuhan dari Masa ke Masa  menyebut masa ini sebagai  episode hitam bagi perburuhan di indonesia.  PG Krebet mengurangi produksi. Tenaga kerja dikurangi, pekerja pabrik diberhentikan sejenak. Menghadapi situasi ini, tumbuh organisasi-organisasi perburuhan. Mereka menyuarakan ketidakseimbangan hak dan kewajiban industri tempat mereka berkerja.

Amri Eka Wardana menuliskan upah buruh kala itu paling rendah ƒ.1 – ƒ.4 , biasanya untuk pekerja umum. Sedangkan buruh dengan keahlian upah minimal ƒ.7.  Upah tenaga borongan minimum ƒ.6,50 sampai ƒ.9 sehari, paling banyak  ƒ.20.

Krisis global yang melanda dunia membuat industri di Indonesia memasukii masa-masa yang kelam. Terjadi antara 1929-1934.  “Nilai eksport tahun 1928 masih di angka ƒ1,578jt (Gulden), tahun 1935 merosot menjadi ƒ469jt (Gulden). Jumlah total dividen dan keuntungan dagang tahun 1928 ditaksir sekitar ƒ287jt, pada tahun 1933 merosot di bawah ƒ20jt,” tulis Amri Eka Wardana.

PG Krebet tak bisa mengelak kelesuan bisnisnya, jumlah pemasukan menurun. Ekspor gula menurun. Para pekerja menuntut pembayaran upah. Lahan tanam dikurangi sebab pabrik tak mampu membiayai produksi. Buruh PG Krebet mogok kerja, sebagian tetap bertahan di pabrik sebab takut dipecat. Masa itu bisa dibilang susah untuk mencari pekerjaan baru.

Masyarakat pemasok tebu PG Krebet banyak yang putus kontrak. Sebelumnya separuh luas lahan tanam tebu menjadi tanggung jawab pabrik, separuh lainya tanggung jawab pemerintah Belanda. Harga jual gula merosot, pabrik yang enggan gulung tikar terpaksa mengambil langkah mengurangi jumlah produksi gula. Pengurangan tenaga kerja memicu tingginya pengangguran pada zaman itu.

Pabrik Gula Bantul Selatan Yogyakarta 1910. (Foto : KITLV).

Hingga 1935, jumlah pabrik gula di Jawa Timur yang bertahan tinggal 40, menghasilkan 583 ribu ton. Tahun berikutnya menyusut menjadi  35 pabrik, produksi gulanya menurun lagi,  sekitar 500 ribu ton. Masa depresi ekonomi dunia yang terjadi sekitar 1933 sampai tahun 1936. Pabrik Gula Krebet menjadi salah satu yang bertahan.

Pabrik Gula Krebet mengambil kebijakan pengurangan produksi gula sebab  biaya produksi tak menutup harga jual gula di pasaran. Pemasaran jadi senjata utama PG Krebet dalam mengelola suplai dan penjualan gula di pasaran. Pabrik Gula Krebet memilih menggunakan  bahan baku gula varietas tebu yang tahan serangan hama. Varietas tebu unggul POJ 2879.

Secara tak langsung PG Krebet menjadi tumpuan hidup masyarakat desa Krebet, khususnya para petani. PG Krebet memberikan lapangan pekerjaan pada masyarakat sekitar. Digelar “Tradisi Buka Giling”, tradisi masyarakat Jawa dalam ritual pengolahan tebu.

Setiap pabrik gula menggelar ritual ini untuk meminta keselamatan dan kelancaran serta hasil produksi yang memuaskan. Pada masa kolonial, selain gelaran “Tradisi Buka Giling” juga ada pertunjukan seni Tayub. Tayub menjadi hiburan bagi para pekerja atau buruh.

 

2 KOMENTAR

  1. Ini datanya sudah benar? Mungkin maksudnya se Karesidenan Pasuruan, dimana Malang termasuk di dalamnya

    PG Winongan di Kecamatan Pagak? Bukannya Pasuruan?
    PG Gayam?
    PG Pleret?
    PG Wonoredjo di Kecamatan Ampelgading? Bukannya Pasuruan?
    PG Sumberrejo di Kecamatan Sumbermanjing? Bukannya di Bangil?
    PG Pandaan? Bukannya Pandaan juga?
    PG Soekoredjo di Kecamatan Bantur? Bukannya di Sukorejo, Pasuruan?
    PG Alkmaar di Kecamatan Gondanglegi? Bukannya Purwosari, Pasuruan?
    PG Kebonagung di Kecamatan Sempalwadak? Bukannya di Pakisaji?
    PG Sempalwadak di Kecamatan Lowokwaru? Bukannya Bululawang?
    PG Panggoengredjo di Kecamatan Lawang? Bukannya Kepanjen?

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini