Paradoks Pulang Kampung

Oleh : Hariyono*

Terakota.id-Wabah Covid-19, atau yang sering disebut Corona, telah memporak porandakan tatanan sosial ekonomi yang selama ini berjalan. Virus yang tidak kasatmata telah mengubah cara pandang manusia dalam berelasi. Termasuk kebiasaan kita untuk kembali ke kampung. Awalnya memang virus Corona, namun setelah menggelinding problemnya bukan sekadar virus dan kesehatan fisik.

Terjadilah kebijakan politik, ekonomi, sosial dan keagamaan yang berbeda dengan masa kondisi normal. Masing masing negara berusaha membatasi (bahkan ada yang menutup) relasinya dengan negara lain. Bahkan di Indonesia ada daerah dan kampung yang berusaha mengisolasi diri (lockdown) menolak warga luar masuk ke wilayahnya , termasuk warga yang asli yang merantau.

Betapa tragisnya nasib perantau.
Selama ini mereka telah berkorban untuk meninggalkan kampung halamannya. Merantau untuk bekerja (dan mungkin juga belajar) dan hasilnya dikirimkan ke sanak saudara di kampung. Mereka rela berpisah dengan sanak saudara untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarga.

Mereka yang berhasil merantau di kota besar maupun luar negeri adalah pahlawan pahlawan keluarga, kampung hingga pahlawan devisa. Bahkan di musim hari Raya Idul Fitri ada gelombang besar saudara saudara kita yang merantau kembali ke kampung.

Namun, karena badai Covid-19, suasana menjadi berubah total. Terjadi paradoks dalam menyikapi budaya kembali ke kampung. Pemerintah, tokoh masyarakat hingga warga kampung sendiri menghimbau agar untuk sementara tidak kembali ke Kampung.

Seolah para perantau diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi. Saat biasa diharapkan segera pulang kampung (dengan membawa hasil kerja dan atau kesuksesan di tanah rantau). Tetapi saat ada wabah (dan mungkin mengalami kesulitan hidup, karena tiadanya pekerjaan di rantau) dilarang kembali ke kampung. Oh tragisnya nasibku.

Itulah kehidupan. Jalan hidup yang kita lalui tidak selalu lurus dan linier. Apa yang biasa menjadi tidak biasa, bahkan bisa menjadi luar biasa.

Saudara saudaraku yang di rantau mohon tidak bersedih. Tali silaturahmi memang paling bagus dan membahagiakan saat kita dapat bertemu langsung. Kita bisa bersalaman, berpelukan dan ngobrol saling berbagi cerita dengan keluarga dan kerabat.

Tetapi untuk saat ini (dan semoga wabah penyakit Corid-19 dan implikasi sosial ekonominya segera dapat diatasi, sehingga hanya sesaat) bukan suasana dan kondisi yang biasa. Kita berada dan berhadapan dengan kondisi yang luar biasa (sehingga pemerintah perlu menerapkan keadaan bahaya atau darurat dengan tingkat Darurat Sipil).

Melihat penyebaran virus yang lebih banyak disebabkan relasi antar manusia maka jarak fisik untuk sementara harus dijaga. Dan jarak sosial, kepekaan sosial harus kita tingkatkan. Dalam menghadapi wabah yang masif ini kita harus saling membantu tanpa harus berdekatan secara fisik.

Memang sedih dan galau tidak bisa bertemu langsung. Bahkan beberapa teman yang berada dalam rumah pun juga banyak yang galau. Menjalani hidup yang tidak biasa diperlukan perjuangan untuk menikmati dan menyikapinya.

Dalam kondisi yang tidak biasa ini memang terjadi paradoks. Karena kita ingin kampung kita sehat kita rela untuk menahan diri (untuk sementara) tidak kembali ke kampung. Sebaliknya saudara kita yang di kampung yang rindu, “kangen”, juga rela menahan diri tidak ketemu secara fisik. Semua demi kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan kita bersama.

Tentu paradoks diatas tidak bisa dipaksakan secara serampangan. Mungkin dalam kondisi khusus ada saudara kita yang tidak ada pilihan lain kecuali untuk kembali ke kampung.

Saudara kita TKI yang sudah habis kontrak, atau dipaksa pulang oleh otoritas di tempat kerjanya harus disikapi dengan bijak. Demikian pula saudara kita yang sudah terlanjur kembali ke kampung tidak mungkin diusir. Semua adalah saudara kita.

Untuk yang kasuistik, seyogyanya ada kesadaran dari kita semua bahwa larangan kembali ke kampung berlaku secara kaku. Perantau yang baru pulang berkenan dikarantina dalam rentang waktu tertentu untuk saling memastikan bahwa kondisinya sehat.

Demikian pula warga kampung perlu bergotong royong untuk memfasilitasi bersama tempat karantina. Balai desa dan atau balai warga bisa dijadikan tempat penampungan (karantina).

Kita optimis, dengan bergotong royong, sejak dari pemikiran, pemahaman hingga perilaku dalam menyikapi situasi wabah Covid-19, tidak hanya kita bebas dari serangan virus Corona tetapi rasa kemanusiaan, persaudaraan kita justru makin terasah dan lebih berkualitas lagi.

Paradoks pulang kampung justru dapat makin mendewasakan kita semua untuk menjadi manusia yang berkemanusian. Semoga.

Hariyono
Malang, 310320

Prof. Hariyono (Sumber: Dok. Pribadi)

*Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan guru besar sejarah Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini