Para Perempuan Garda Terdepan Melawan Covid-19

"Suatu dilema bagi perempuan berkarir, apalagi menjadi dokter. Memperhatikan pasien itu prioritas utama. Kita dituntut untuk multifungsi, menjadi dokter, mengurus keluarga, plus saya pribadi ketambahan untuk ngurus satgas Covid-19," dokter spesialis penyakit dalam RSSA, Syifa Mustika.

Ketua Satgas Covid-19 NU Malang Raya Dokter Syifa Mustika sosok perempuan inspiratif. Membagi peran sebagai dokter, dosen, dan ibu sekaligus. (Foto : koleksi pribadi).

Terakota.idDokter spesial penyakit dalam, Syifa Mustika selama ini mengaku sulit menemukan waktu bersama keluarga. Waktunya tersita untuk bekerja menangani pasien di Rumah Sakit (RS) Saiful Anwar Malang, RS Hermina dan RS Lavalette. Sebagai seorang dokter, ia dituntut untuk memprioritaskan kepentingan pasien dibandingkan kepentingan keluarga. “Menangani pasien yang utama,” ujarnya.

Ketua relawan Satgas Covid-19 Nahdlatul Ulama  Malang Raya ini semakin sibuk setelah pandemi Covid-19 melanda negeri. Belum lagi, ia juga memiliki tanggungjawab sebagai staf pengajar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Tanggungjawab dia semakin berlipat. Syifa juga dituntut kerja yakni menjadi dokter, dosen, dan mengurus keluarga.

Angela McRobbie dalam jurnalnya Post Feminism and Popular Culture menggunakan istilah Female Individualisation untuk menggambarkan perempuan zaman sekarang. Semakin progresif dan terbuka. Menurut Angela perempuan layak disebut insan individu, memiliki pekerjaan, ambisi dan eksistensi.

Perempuan juga berhak memilih jalan hidup, membuat pilihan yang tepat dalam pernikahan dan mengambil tanggungjawab atas kehidupan kerja mereka sendiri. Tanpatergantung kepada pihak lain. “Perempuan wajib memiliki eksistensi. “Tidak harus berkarir. ibu rumah tangga pun bisa menunjukkan eksistensinya dengan maksimal peran dan maknanya,” ujarnya.

Menurut Syifa Mustika perempuan memiliki kemampuan untuk berkarya dan berprestasi sesuai dengan bidang yang ditekuni. Pilihannya berkarir sebagai dokter juga berisiko. Tak sempat memasak untuk keluarga, terutama anak-anaknya. “Tak sempat bertemu anak di malam hari. Dua sampai tiga bulan pertama pandemi tidak bisa bercengkerama dengan anak. Takut membawa virus dari tempat kerja,” katanya.

Untuk itu, Syifa menerapkan quality time saat libur.  Saat akhir pekan, Syifa menyempatkan makan bersama, masak bareng atau berinteraksi. Setiap pagi ia saya menyempatkan waktu menyiapkan bekal dan keperluan sekolah anak

Menghadapi berbagai stigma negatif masyarakat terhadap perempuan karir, Syifa menyarankan agar tak dipikirkan. “Tak perlu diambil hati. Tunjukkan dengan prestasi dan positivity,” katanya

Ketua Satgas Covid-19 NU Malang Raya Dokter Syifa Mustika bersama tim Satgas Covid-19 NU Malang Raya. (Foto : koleksi pribadi).

Pandangan yang sama disampaikan dokter Aisyah Nurul Amalia,  terkait konsep perempuan. Dokter umum rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Malang ini menyatakan menjadi dokter merupakan pilihan individu. Sejak SMP sampai SMA, ia menyukai pelajaran biologi karena mempelajari anatomi dan kelainan tubuh manusia.

Sehingga ia semakin tertarik mempelajarinya. Selain itu ia juga terketuk dengan melihat orang sekitar yang sulit mendapat akses terhadap pelayanan kesehatan. Setahun berprofesi sebagai dokter, Aisyah mengaku susah-susah gampang menjadi dokter yang baik. Butuh cara berbeda saat menghadapi berbagai tipe pasien yang berbeda-beda. Meskipun penyakitnya sama. Selain perawatan juga obat dan memastikan pasien mendapat perawatan optimal.

“Berinteraksi dengan pasien juga penting,” katanya. Ia mengaku turut bergembira jika pasien yang dirawat sembuh. Pasien menyampaikan terima kasih kepada para tenaga kesehatan. Dokter Aisyah mengajak perempuan untuk mencari ilmu dan berpendidikan. Perempuan berpendidikan bakal melahirkan generasi yang berkualitas secara pendidikan, agama, dan kualitas hidup.

Aisyah berpesan kepada para perempuan untuk berani mengambil keputusan memilih profesi tertentu. Sedangkan menjadi ibu rumah tangga juga mulia, bisa memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk anak dan suami. Dokter yang masih melajang ini menyediakan waktu khusus untuk berkomunikasi dengan orang tua. “Komunikasi dengan keluarga rata-rata dilakukan melalui video cal,” ujarnya.

Selama ini perempuan acapkali mendapat label sebagai gender kedua. Budaya patriarki seolah memupuk dan turut menyuburkan kondisi ini. Maria Mies dalam bukunya Patriarcy and accumulation on a world Scale: Woman in the International Division of Labour menyatakan budaya patriarki sebagai sistem nilai yang menempatkan laki-laki pada tempat yang lebih tinggi daripada perempuan. Akhirnya menjadi budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi, sedangkan perempuan menjadi pihak yang ditundukkan.

Sylvia Walby dalam bukunya Theorizing Patriarchy menyebut patriarki memiliki dua bentuk, patriarki domestik dan patriarki publik. Patriarki domestik, yakni stereotip yang mewajibkan perempuan bekerja di ranah rumah tangga. Patriarki publik terjadi pada struktur masyarakat meliputi relasi rumah tangga, relasi dalam pekerjaan, relasi dalam kehidupan. Kekerasan berbasis gender, relasi dalam seksualitas dan patriarki dalam institusi budaya.

Di Indonesia, ada konsep perempuan sebagai konco wingking yang turut mempengaruhi relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam ranah domestik maupun publik. Muhadjir Darwin dalam jurnal berjudul Gerakan Perempuan di Indonesia dari Masa ke Masa menyatakan sebelum kemerdekaan perempuan juga tampil di garda terdepan. Seperti Cut Nya Dien, Cut Meutia, Martha Christian Tiahahu, Nyai Ageng Serang menjadi indikasi perempuan Indonesia turut berkiprah di ruang publik.

Organisasi perempuan pertama di Indonesia, Poetri Mardika juga menunjukkan perempuan memiliki andil dalam gerakan nasional bahkan internasional. Memperjuangkan emansipasi, nasionalisme dan pembebasan dari kolonialisme. Organisasi nasionalis perempuan bermunculan. Jong Java Meiskering, Young Javanese Girls Circle, Wanita Oetomo, Aisyiah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanito Muljo, Jong Islamieten Bond.

Kongres Perempuan I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta menjadi tonggak sejarah terpenting bersatunya gerakan perempuan Indonesia. Kongres tersebut berhasil melahirkan Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang kemudian berganti nama Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII). Presiden Sukarno pada 16 Desember 1959 menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini