Para Netizen Penghuni Surga

“Pak Yai. Apakah orang yang mencaci itu masuk surga?”

Ilustrasi (Sumber: mozaik.inilah.com)

Oleh: Nurudin

Terakota.id Tidak seperti biasanya, lebaran tahun ini Nadir tidak mudik. Disamping rumahnya jauh di Nusa Tenggara Timur (NTT), Ujian Akhir Semester (UAS) Fakultas Syari’ah dilaksanakan dua minggu setelah lebaran. Habis itu libur lagi. Jadi, jika ia memilih mudik, kemudian balik lagi, lalu pulang lagi.

Sebagai seorang santri yang nyambi kuliah, ia mondok pada sebuah Pesantren di Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Saat masuk kuliah ia langsung mondok karena merasa penguasaan bahasa Arabnya masih kurang. Sementara itu, di fakultasnya bahasa Arab itu wajib. Ia sudah 2 tahun mondok dan ikut mengaji pada Kiai Marzuqi. Anak pertama dari dua bersaudara itu juga diminta mengisi les ngaji pada anak orang kaya pemilik musholla Al Misbah selatan pondok pesantren.

Saat lebaran tiba, Pak Kiai tentu banyak tamu. Bahkan tamunya biasanya sowan sampai larut malam. Nadir mau sowan saat tamu-tamunya sudah pulang. Namun,hampir menjelang jam 11 malam para tamu masih berdatangan. Baru menjelang dini hari tamu sudah sepi.

Saat Nadir mengengok dari jendela kamar santri masih ada seorang tamu di ruang tunggu pak kiai. Nadir tetap menunggu saat sepi. Baru saat benar-benar sudah sepi ia memberanikan diri menghadap Pak Kiai. Ia memang memilih sendiri karena ada masalah rumit yang akan ditanyakan pada pak kiai sekaligus.

“Assalamu’alaikum Pak Yai,“ sapa Nadir.

“Waalaikumsalam. Oh kamu Nadir. Kamu tidak mudik?” jawab Kiai Marzuqi.

“Tidak Pak Yai. Dua minggu lagi ada ujian akhir”.

“Oh begitu.”

Setelah melakukan ritual lebaran meminta maaf dan meminta doa Kiai, Nadir memberanikan diri bertanya. Persoalan yang selama ini mengganjal. Persoalan yang juga menjadi perdebatan mutakhir teman-temannya. Dan perdebatan itu belum menemukan titik temu.

“Pak, Yai. Sebenarnya…..,”kata Nadir agak sungkan. Selamanya seorang santri yang menaruh hormat pada Kiai jarang bisa bertatap muka dan agak kikuk kalau diajak berbicara.  Kiai punya kharisma yang khas di mata santri-santrinya.

“Ada apa Dir? Kamu kelihatan ragu?” potong Kiai lulusan sebuah perguruan tinggi di Bagdad itu. Kiainya Nadir itu tidak hanya menguasai kitab-kitab lama, tetapi juga kitab-kitab modern.

Baca juga :  Membongkar Gua, Membangun Kesadaran

“Ehmmmm..anu Kiai. Saya mau menanyakan sesuatu”.

“Bertanyalah. Jika saya mampu menjawab dengan pengetahuan saya, akan saya jawab”.

“Pak Yai. Apakah orang yang mencaci itu masuk surga?”

Pak Yai diam sebentar. Ia menduga-muga kemana arah pembicaraan pertanyaan Nadir ini. Kok tiba-tiba Nadir bertanya soal ini.

“Kenapa Nadir? Kan sudah jelas. Bahwa dalam Islam itu dilarang mencaci. Dan itu termasuk perubatan tercela dan dosa?”

“Benar Yai. Saya paham soal ini”.

“Lalu?”

“Anu pak Yai. Beberapa waktu lalu terjadi perdebatan panjang tentang orang yang mencaci di kalangan teman-teman kampus. Bahkan di kalangan Santri. Apakah para pencaci itu masuk surga apa tidak”

“Coba teruskan”

“Sekarang ini kan jamannya media sosial. Dimana banyak netizen yang pekerjaannya setiap hari hanya mencaci atau menjelekkan orang yang tidak sejalan dan tak disukai.”

Pak Kiai Marzuqi merenung. Meskipun kegiatannya sehari-harinya di pesantren, ia juga tahu apa itu media sosial. Bagaimana hiruk-pikuk media sosial. Terutama jika dikaitkan dengan politik. Dia juga tahu dari beberapa pertanyaan tamu-tamunya beberapa waktu lalu. Sebagai kiai yang berpandangan luas, banyak orang yang meminta fatwa. Dari pertanyaan itu dia kemudian berusaha mencari rujukan di kitab-kitab.

Karena lama Kiainya berpikir Nadir memberanikan diri meneruskan, “Kalau pak Yai belum punya jawaban saya tidak memaksa. Mohon beribu maaf telah menggelisahkan Yai”.

“Apa kamu ada pertanyaan lain,“ potong Kiai Marzuqi.

“O ya pak Yai. Apakah netizen yang selama ini saling mencaci itu masuk surga?”, Nadir sudah kadung  ingin tahu jawaban Kiai Marzuqi, jadi dia tidak punya pertanyaan lain.

“Kalau menurut pendapatmu gimana?”

“Karena mencaci itu berdosa. Apalagi memakai sudut pandangnya sebagai pembenci, ya, dia nanti bisa tidak masuk surga. Menurut pendapat saya pak yai. Mohon maaf”

“Kalau menurut teman-temanmu gimana?”

“Terpecah pak yai. Ada yang  mengatakan masuk surga ada yang tidak. Tapi ada yang mengatakan transit di neraka sebelum ke surga”

Baca juga :  HUMAN : Menyuarakan yang Tak Bisa Bersuara

Pak Kiai Marzuqi mendengar jawaban Nadir tertawa.

“Kenapa transit ke neraka, Dir?”

“Ya, kan mereka tetap berdosa. Maka dibersihkan dosa-dosanya dulu baru nanti ke surga, “jawab Nadir polos.

“Dir, ayo minum. Dimakan jajannya juga, “kata pak Kiai ingin mencairkan suasana.

“Nggih Yai”

“Pendapat saya ya Dir. Mereka yang berseteru apakah netizen itu bisa masuk surga apa tidak seolah surga itu miliknya. Seolah surga itu seperti kaplingan sebagaimana perumahan di sekitar kita. Surga itu kan hak prerogratif Allah?”

“Kok bisa pak Yai. Lalu apakah mereka yang berdosa karena mencaci tetap masuk surga?”

“Bukan begitu. Jadi, kita selama ini kan hanya mengklaim surga berdasar sudut pandang diri sendiri. Surga itu diibaratkan seperti manusia membayangkan fisik sebagaimana di dunia. Orang juga menganggap jika ada kalimat tangan-tangan Allah, seeolah Allah itu punya tangan kayak manusia. Dimensi manusia dengan Tuhan itu berbeda sekali tentunya”.

“Hmmmm….,”Nadir mengangguk agak sedikit bingung. Lalu menyimak lagi.

“Banyak orang memahami Allah dengan dasar yang agak njlimet. Kita kembali ke ummul kitab al-Fatihah saja. Di sana ada kata arrahman dan arrahimArrahman berarti maha pengasih, sedangkan arrahim berarti Maha Penyayang. Arrahman itu artinya Allah akan memberikan kasihnya pada semua makhluk yang diciptakannya tanpa kecuali. Apakah dia itu maling, gentho, bajingan, gondes, beriman, kafir, taat atau tidak. Semua diberikan kasih tanpa kecuali. Buktinya, maling saja tetap diberikan kesehatan. Juga rejeki. Bahkan seorang pengemis yang dianggapnya hina saja ada yang kaya, kan?”

“Betul juga pak Yai”.

“Lalu, “ pak Kiai melanjutkan. “Selanjutnya Arrahim. Sementara sumber mengatakan Allah memberikan “Maha Penyayangnya” pada orang-orang yang disayangi. Siapa orang orang yang disayangi? Tentu orang-orang yang terpilih. Orang-orang yang mematuhi perintah dan menjauhi larangannya. Sama dengan orang tuamu bukan? Bisa semakin sayang pada anak-anaknya yang patuh”.

Baca juga :  Eksotika Alat Pengolah Kopi

“Jadi, Allah itu memberikan kasih pada semua makhuk tanpa pandang bulu. Dan memberikaan sayangnya pada manusia yang dipilih yakni orang-orang beriman dan percaya padaNya pak Yai?”

“Ya, begitulah kalau kita menafsirkan dari kata Arrahman dan Arraahim

“Tetapi bukankah Arrahim itu kasih yang diberikan Allah di dunia saja pak Yai?”

“Setengah jawabanmu benar”.

“Lalu, apakah netizen itu nanti akan masuk surga?” Nadir tetap fokus pada pertanyaan awal. Karena memang persoalan inilah yang sedang beban pikirannya.

“Sudahlah Dir. Kamu tidak usah ikut-ikutan mencaci. Juga, kamu tak usah ikut-ikutan arus yang menganggap surga itu kayak kaplingan perumahan. Karena surga itu bukan sekedar material saja. Intinya surga itu hak perogratif Allah. Allah menyediakan surga, Ia hanya menunjukkan jalannya. Bagaimana jalan ke surga itu. Mau cepat mau lambat? Mau transit atau tidak tak perlu kamu pikir njlimet. Kasih sayang Allah tentu dunia akhirat. Ia akan mengganjar umat yang patuh dan memberikan hukuman pada umatnya yang tidak patuh”

“Terus gimana pak Yai?”

“Tugas manusia itu kan hanya menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Itu saja sudah bagus. Itulah ciri manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu sebaik-baiknya manusia. Jika di sekitarnya ada kemungkaran cegahlah. Ini lebih baik dari pada menyeru kebaikan semata. Menyeru kebaikan itu lebih mudah dari mencegah kemungkaran. Sebab, mencegah kemungkaran tidak semua orang mau dan bisa. Sudah kamu tidak usah mikir netizen itu masuk surga apa tidak. Tugasmu menyeru itu saja sudah bagus. Dan kalau Allah menghendaki kan semua makhluknya baik. Membuat semua manusia baik bagi Allah itu sangat mudah”.

“Nggih pak Yai”

“Nanti jangan-jangan kita bertemu bareng-bareng dengan para netizen di surga itu.  Mungkin kloternya beda. Kita bisa ngopi bareng di sana sebagaimana hobi mereka di dunia. Anggap saja semua netizen masuk surga. Menyeru kebaikan memang penting tetapi tidaklah cukup, mencegah kemungkaran lebih dari pada penting”.

“Nggih”

“Coba saya titip pesan padamu, gimana agar bangsa ini bisa menjadi bangsa mandiri di masa datang, tanpa banyak utang, masyarakat terpenuhi kebutuhan sehari-hari dengan layak. Kita telah menjadi bangsa yang dijajah oleh asing dalam kurun waktu lama. Tugas saya hanya membekali generasi muda dengan ajaran-ajaran agama agar tidak terperosok ke depannya”.

Dan, kokok ayam terdengar di kejauhan. Berarti waktu menjelang shubuh segera tiba. Nadir pun kemudian mohon undur diri pada Pak Kiai yang dikaguminya itu. Tidak saja penguasaan ilmu agama tetapi ilmu-ilmu modern dan kasus-kasus aktual lainnya.

Penulis (Dok. Pribadi).

*Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penulis bisa disapa lewat Twitter/IG: nurudinwriter

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini