Para Musisi Perempuan “Hadir” di Balai Kota Malang

Para musisi perempuan hadir di Balai Kota Malang untuk memperingati Hari Kartini, foto dan dilengkapi deskripsi kiprah mereka bermusik. Poster ini akan dipamerkan selama dua pekan (Foto : dokumen MMI).

Terakota.idMemperingati Hari Kartini, Museum Musik Indonesia (MMI) menghadirkan musisi perempuan di selasar Balai Kota Malang, 21 April 2021. Para musisi perempuan asal Kota Malang ini telah berkibar di blantika musik Indonesia. “Mereka berkiprah mengharumkan nama Kota Malang,” kata juru bicara MMI, Abdul Malik.

Para musisi perempuan tersebut berasal dari generasi yang berbeda. Antara lain Marini, Laily Dimyati, Mira Tania, Sadhana Devi, Anggar, Nova Ruth, Kartika dan 3 Nada and Friends. Foto dan penjelasan kiprah bermusik mereka ditampilkan di lobi Balai Kota Malang. Tujuannya untuk mengenalkan para musisi perempuan asal Malang kepada generasi muda.

Penyanyi perempuan asal Malang yang paling senior yakni Kanjeng Raden Ayu Soemarini Soerjosoemarno atau yang lebih dikenal dengan sebutan Marini. Penyanyi sekaligus bintang film kelahiran Malang, 3 November 1947. Marini mulai bernyanyi sejak 1962 bergabung dengan The Steps. Ia penyanyi andalan The Steps beserta personil May Sumarna, Ismet Januar, Imran, Joko Pratomo, Dono, Didi Hadju Ferly, Paul Irama.

The Steps memiliki penggemar sampai di Hongkong, Malaysia dan Singapura. Pada 1970-an The Steps dikontak label Philip di Singapura. Marini  bermain film besutan Sutradara Wim Umboh pada 1975. Berkat film ini, Marini mendapat penghargaan The Excellent Actress di Twin Lion Award dalam Festival Film di Busan Korea Selatan. Salah satu lagunya yang populer berjudul Ratu Disco. Lagu ini merupakan lagu terjemahan milik ABBA berjudul Dancing Queen.

Selain itu, juga ada Laily Dimyati seorang musisi kelahiran Malang yang berkiprah di industri musik Indonesia era 1960-an. Lagu Flamboyan menjadi salah satu mahakarya yang dikenang sampai sekarang. Lagu yang diciptakan Wendhasmara. Laily tutup usia 5 Januari 2016, dimakamkan di TPU Kasin, Malang.

Pameran foto musisi perempuan asal Malang yang melejit di pentas nasional ini akan dipertontonkan sampai dua pekan. (Foto : Dokumentasi MMI).

Mira Tania menjadi salah seorang penyanyi yang populer asal Malang pada 1980-an. Ia menujuarai Pop Singer RRI Studio Malang 1971-1982. Menjadi nominator 15 penyanyi terbaik pada Festival Lagu Populer Tingkat Jakarta 1975.

Berikutnya Sadhana Devi dikenal saat meluncurkan single Mandiri dalam produksi album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1987. Sadhana juga bernyanyi dalam album kompilasi, antara lain album James F. Sundah dan Soundtrack Catatan Si Boy 2.

Selain itu, juga ditampilkan putri Toto Tewel bernama Nova Ruth. Nova Ruth bersama suamina Grey Filastine berkeliling dunia dengan beragam album yang dirilis dengan warnai keanekaragaman bunyi-bunyian Nusantara. Meski tinggal di Barcelona, Nova kerap pulang ke Malang.

Nova telah menjelajahi laut Karibia dan Samudera Pasifik dengan membawa misi pelestarian laut dan pertukaran budaya dengan Kapal Arka Kinari. Berangkat dari Rotterdam Agustus 2019, kapal berlayar menyusuri pantai Afrika, Amerika Selatan, sampai ke pelabuhan Bali pada Oktober 2021. Usai pandemi mereka akan berlanjut ke Surabaya.

Museum Musik Indonesia menghadirkan musisi perempuan mendekatkan kepada khalayak Malang. (Foto : Dokumentasi MMI).

Anggar Syafi’iah Gusti dikenal dengan sapaan Anggar. Ia bergabung dalam Etnicholic Project an Duo Etnicholic. Menorehkan beragam prestasi antara lain Best Vocalist KOMPAK tingkat nasional. Bersama Duo Etnicholic menjadi 1st degree mixed category vocal instrument di Sopravista Festival Italy. Guru seni di Brawijaya Smart School Malang ini berkomitmen memadukan etnik Nusantara dengan balutan modern.

Sementara Kartika Cahaya Arisanti disapa Kartika menekuni sebagai seorang sinden. Mahasiswa Universitas Negeri Malang ini banting setir dari penyanyi pop menjadi sinden. Berkat tangan dingin seorang maestro gending Malangan, mendiang Mbah Sumantri.

Sementara 3 Nada and Friends menjadi yang paling belia. Band rock cilik asal Kota Malang ini berusia 8-11 tahun. Awalnya mereka adalah teman berkumpul di sekolah musik dan memainkan lagu band legendaris duia. Videonya sempat viral saat mengcover lagu Metallica, Genesis hingga Nazerth.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini