Pantai Wedi Awu Memikat Mahasiswa Asing

Mahasiswa dari 33 Negara peserta UM iCamp berpose di atas perahu nelayan menuju pantai Bolu-bolu dan pantai banyu anjlok. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id-Deburan ombak berkejaran, empat bocah masing-masing dengan papan selancar mendayung menghadang ombak. Sigap, mereka berdiri di atas papan berselancar mengikuti ombak yang bergerak ke arah pantai. Bak penari, mereka menari di antara ombak pantai selatan. Tepatnya pantai Wedi Awu di Dusun Balearjo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Lokasinya sekitar 70 kilometer dari Kota Malang.

Keempat bocah itu saban hari menghabiskan waktu di pantai. Mereka berolahraga dan bermain selancar atau surfing. Sehari, mereka menghabiskan waktu antara dua sampai empat jam bermain dengan ombak. Adilan Joni Sahab, 26 tahun, merupakan salah satu pelatih surfing termasuk yang melatih bocah setempat.

Perahu yang ditumpangi mahasiswa asing peserta UM iCamp bertolak ke pantai Bolu-bolu dan pantai banyu anjlok. (Terakota/Eko Widianto).

Berselancar dengan ombak, juga menarik minat wisatawan mancanegara. Mereka kerap hadir untuk menjajal ombak di pantai Wedi Awu. Siang itu, sebanyak 57 mahasiswa asing dari 33 Negara mengikuti UM iCamp 2019 Summer Exchange Program Camp berkunjung ke pantai Wedi Awu Senin, 19 Agustus 2019. Turun dari mobil, mereka berjalan di tepi pantai. Mereka tampak gembira, bersenda gurau sembari bermain pasir dan air laut.

Sebagian memilih menumpang petahu dengan mesin tempel. Menganakan jaket pelampung, mereka bergegas menuju lima perahu yang disediakan. Sebagian berswafoto, bersama teman-temannya sebelum naik di atas perahu. Maklum, sebagian mahasiswa berasal dari sejumlah Negara yang tak memiliki garis pantai.

Surfing atau Jet Ski

“Ada peserta dari Bhutan, tak punya pantai. Senang sekali. Dia hanya lihat pantai di film dan televisi,” kata Direktur Kantor Hubungan Internasional Universitas Negeri Malang (UM), Evi Eliyanah. Selama mengikuti UM iCamp delapan hari, mereka bakal dikenalkan budaya dan Bahasa Indonesia.

Mereka naik perahu menuju pantai Bolu-bolu dan pantai banyu anjlok. Sebuah kawasan pantai yang tersembunyi, harus ditempuh dengan perahu sekitar tiga jam. Mereka mengeksplorasi kekayaan alam di kawasan pesisir selatan Kabupaten Malang.

Sementara mahasiswa asal Kazakhstan, Nurdin memilih belajar surfing beberapa kali ia mencoba tidur di atas papan selancar sembari menggerakkan tangan. Mendayung. Ia juga berusaha belajar berdiri di atas papan selancar. “Saya coba surfing, baru pertama kali. Selamat empat tahun tinggal di Indonesia,” kata Nurdin.

Ia mengaku kesulitan saat pertama kali belajar selancar. Pengalaman belajar selancar air menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan. Belajar selancar menjadi pengalaman hidup dia berkunjung ke pantai selatan Kabupaten Malang. “. Pemandangannya bagus, luar biasa,” katanya.

Sedangkan mahasiswa asal Vietnam Ngoh Anh lebih tertarik naik di atas jet ski. Berkeliling pantai sembari menikmati deburan ombak. Dua motor jet ski disediakan untuk para pengunjung. “Semua di sini Amazing. Lanskapnya, saya suka,” katanya.

Anh mengaku pertama kali ke Indonesia. Ia juga tertarik untuk belajar surfing, namun waktu sudah sore waktunya peserta UM iCamp mengikuti malam seni.

Mahasiswa asing dari 33 Negara peserta UM iCamp berfoto bersama dengan latar pantai Wedi Awu. (Terakota/Eko Widianto).

Sang surya telah menghilang dari garis cakrawala. Swastamita. Langit telah gelap, seburan ombak berkejaran bak musik yang mengiringi para peserta UM iCamp menikmati malam di pantai Wedi Awu. Mereka mendirikan tenda di tepi pantai, lengkap dengan api unggun. Puluhan peserta UM iCamp berdiri melingkar. Mengelilingi api unggun.

Dentuman musik rancak, keluar dari pelantang. Mereka menggerakkan tubuh, menari mengikuti irama musik. Hingar bingar musik ini menjadi malam keakraban para peserta untuk menginteraksi dan berdialog. Mengenal satu sama yang lain. Puas bergoyang, satu persatu partisipan menunjukkan seni dan budaya masing-masing.

Mereka menunjukkan kebolehan menari dan bernyanyi. Seperti peserta dari Laos yang menari, tarian tradisional. Musik tradisi mengiringi seorang peserta yang merupakan penari profesional. Sebuah tarian yang bisa disajikan dalam acara seremonial, atau tarian selamat datang

Tak mau kalah, peserta lain Jeje dan Iqbal tampil di depan panggung. Mereka berpasangan menari tari Salsa. Aktivitas mereka menari Salsa menarik perhatian peserta lain. Sebagian peserta turut hanyut dalam tarian khas Spanyol.

Kembangkan Wisata Minat Khusus

Bupati Malang Muhammad Sanusi turut mencoba mengemudi jet ski di pantai Wedi Awu. Ia mengajak serta cucunya di belakang. Mengenakan jaket pelampung, keduanya menunggangi jet ski. Ia berputar mengelili pantai, menikmati keindakan dan keelokan wisata di Wedi Awu.

Sanusi menuturkan UM iCamp menjadi salah satu usaha promosi wisata bagi wisatawan mancanegara. Ia berharap kehadiran mahasiswa mancanegara ini menjadi bagian dari usaha mengenalkan objek wisata di Kabupaten Malang. Salah satunya pantai Wedi Awu. “Awal yang bagus untuk promosi bagi wisatawan mancanegara,” katanya.

Ia berharap UM iCamp bisa menarik wisatawan mancenagera dan bisa dilangsungkan secara berkesinambungan. Sesuai arahan Presiden, katanya, setiap destinasi wisata nasional diharapkan bisa menyedot 1 juta wisatawan mancanegara. Setiap wisatawan mancanegara saat berkunjung diperkirakan membelanjakan sampai 1.000 dolar Amerika Serikat.

Pelaksana Tugas Bupati Malang Muhammad Sanusi menunggangi jet ski di Pantai Wedi Awu. (Terakota/Eko Widianto).

Jika wisatawan mancanegara mencapai 1 juta orang, maka diprediksi perputaran uang mencapai 1 miliar dolar Amerika Serikat. Uang itu  bakal dinikmati penyedia jasa transportasi dan kuliner. Sehingga bakal meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Selain itu, infrastruktur jalan bakal diperbaiki. Termasuk pasokan air cukup dan dikembangkan penginapan yang memadai. Jika Bandar Udara Abdulrachman Saleh Malang ditingkatkan menjadi Bandara Internasonal, ia optimistis jika kunjungan wisatawan mancanegara ke Malang bakal melonjak.

Pantai Wedi Awu dinilai berpotensi menjadi wisata minat khusus, cocok bagi wisatawan mancanegara. Selain itu juga pantai patut dikembangkan wisata minat khusus paralayang di pantai Modangan, Sumberoto, Kecamatan Donomulyo.  Di sini, wisatawan bisa menikmati wisata pantai sembari berolahraga paralayang.

“Malang banyak destinasi wisata internasional. Selain Gunung Bromo,” katanya. Sedangkan untuk mengembangkan wisata di Wedi Awu, katanya, perlu dikembangkan resort yang tetap tak mengubah lanskap kawasan. Sehingga pamandangan alam, tetap alami. Tak berubah.

Bocak Dusun Balearjo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang rutin berolarga selancar di Pantai Wedi Awu. (Terakota/Eko Widianto).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara mengatakan jika peserta UM iCamp bisa mempromosikan pariwisata Kabupaten Malang di Negaranya. Tarutama dengan memanfaatkan media sosial. “Mereka bisa mengunggah foto dan video di media sosial. Mengenalkan wisata di sini kepada teman dan keluarganya,” kata Made.

Mempromosikan pariwisata untuk wistawan mancanegara tak mudah. Butuh proses panjang, hasilnya baru bisa dirasakan satu sampai dua tahun ke depan. Kabupaten Malang, katanya, serius kembangkan wisata untuk menggaet wisatawan asing. Pengembangan wisata terintegrasi lintas sektoral. Seperti di pantai Wedi Awu.

“Ada harmoni manusia dan alam, harus dijaga. Ada budaya petik laut,” katanya. Pantai Wedi Awu juga harus dijaga keindahan dan kebersihannya. Setiap pekan dilakukan beach clean atau membersihkan pantai. Kebersihan pantai, katanya, menjadi kewajiban pengunjung  dan masyarakat setempat.

Peserta UM iCamp bermalam di dalam tenda di tepi pantai Wedi Awu, Dusun Balearjo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo. Kabupaten Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Direktur Kantor Hubungan Internasional Universitas Negeri Malang (UM), Evi Eliyanah menjelaskan UM iCamp merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan UM sebagai bagian diplomasi budaya. Memasuki tahun keempat, mengundang mahasiswa Internasional dari berbagai Negara. Termasuk mahasiswa asing yang tengah mengenyam pendidikan di Indoesia.

“Ada mahasiswa dari Italia, Pakistan, Yaman. Mereka datang dari jauh untuk belajar budaya dan bahasa Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, mengenalkan Indonesia secara luas. Tak hanya Bali, Lombok dan Yogyakarta. Namun, ingin mengenalkan Indonesia lebih jauh termasuk mengenalkan objek wisata di Malang. “Wajah Indonesia bermacam-macam. Indah, tak hanya Bali dan Lombok. Malang juga memiliki wisata yang menarik,” ujarnya.

Ternyata animo peserta tinggi. Saat dibuka, sebanyak 900 mahasiswa Internasional yang melamar. Namun, karena keterbatasan akomodasi harus diseleksi dipilih partisipan yang aktif dan tetap menjaga keberagaman. Tujuannya agar Indonesia semakin dikenal di dunia Internasional.

Dalam jangka panjang, UM iCamp diharapkan bisa mempengaruhi pergaulan internasional. Secara global, kelak peserta UM iCamp bisa menjadi duta.“Mereka menjadi duta Indonesia di Negara masing-masing, Kunjungan ke Indonesia akan selalu diingat,” katanya.

Usai bermalam di pantai Wedi Awu, peserta UM iCamp membersihkan sampah di pantai Wedi Awu. (Terakota/Eko Widianto).

Di sini, katanya, mereka juga saling belajar antar Negara. Menambah pengalaman hidup. Serta diharapkan ada perubahan diri. Seperti peserta dari Cina dan Jepang yang menjalin dialog.  “Siapa tahu mereka menjadi agen perubahan atas konflik Cina dan Jepang,” katanya.

Puas menikmati alam, surfing dan jet ski para peserta UM iCamp menutup dengan bersih pantai. Mereka memunguti sampah yang ada di pasir sepanjang pantai. Sampah dikumpulkan agar pantai tetap indah dan bersih.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini