Pandemi yang Dirindukan

pandemi-yang-dirindukan

Terakota.id-Banyak orang membenci dan mengutuk setan atau iblis. Dua makluk itu sering diidentikkan dengan segala bentuk gangguan pada manusia. Nyaris berbagai khotbah, pidato, ceramah keagamaan menganjurkan untuk berlindung dari godaan setan yang terkutuk. Itu semua diceramahkan, dikuatkan, dan diingatkan pada manusia. Termasuk, jangan menghamba pada setan. Pokoknya setan itu buruk dan perlu dijauhi.

Apakah sedemikian buruknya setan sehingga harus dijauhi? Kita jadi bertanya,   mengapa jika setan-setan dibelenggu saat bulan Ramadhan tetapi kemaksiatan masih tetap ada? Apakah setan tidak bisa dibelenggu? Apakah ada setan yang dikeluarkan dari “penjara” sehingga bisa “menjarah” layaknya para Napi yang dibebaskan pemerintah saat Pandemi Covid-19 ini? Atau ada setan yang tidak terjaring sehingga berkeliaran? Dan lagi apakah setan punya kesaktian sehingga tidak mudah ditangkap?

Namun, kenyaaannya manusia hidup berdampingan dengan setan, bukan? Tentu setan itu juga berguna bagi manusia. Kalau tidak berguna mengapa Tuhan menciptakan setan? Tentu ada rahasia Tuhan yang tak mudah diketahui manusia. Mengapa juga setan itu diberi kesempatan menggoda manusia? Tentu ada alasan tertentu.  Kalau Tuhan mau, setan-setan itu akan dimusnahkan dan manusia bisa hidup serta beribadah dengan tenang. Ini kalau Tuhan mau. Dan itu tidak mustahil bagi Tuhan.

Orang boleh benci pada setan setinggi langit. Tetapi, setan diciptakan untuk memperkuat iman dan ujian hidup manusia agar menjadi sempurna jika kemanusiaaannya.

Para Pembenci Pandemi

Nah sekarang bagaimana dengan Pandemi Covid-19? Saya tentu tidak akan menyamakan antara setan dengan pandemi tahun 2020 ini. Meskipun virus itu juga makhuk Tuhan, sama dengan setan. Kesamaan lainnya, mereka juga sama-sama dibenci sebagai makhluk Tuhan. Jika kita bertanya pada orang lain tentu jawabannya akan sama; bahwa pandemi dan setan itu meresahkan kehidupan manusia. Tetapi apakah kita hanya berhenti saja dengan membencinya?

Sekarang kita bicara pandemi. Pandemi telah merevolusi semua perencanaan umat manusia. Rencana yang sudah disusun dengan baik, kebiasaan yang dijalankan dengan tenang mendadak berubah setelah munculnya virus covid-19. Jika kita bertanya pada semua orang tentu jawabannya satu; mereka tersiksa dengan munculnya virus itu. Lagi, apakah kita hanya berhenti hanya untuk membencinya?

Aspek  politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan akibat pandemi berubah total. Kebijakan politik berubah total dengan adanya pandemi. Bebagai kebijakan baru dimunculkan untuk mengatasi pandemi ini. Di Indonesia, kegiatan kenegaraan yang berkaitan dengan kepentingan politik pun berubah. Acara tahunan atau lima tahunan seperti Pilkada juga akan berubah.

Secara ekonomi juga tak jauh berbeda. Penggelontoran dana jelas tak bisa dihindari. Kalau tidak lalu bagaimana? Pemerintah tidak bisa enak-enakan menikmati pajak dan memberi sanksi pada masyarakat yang tak taat pajak. Sementara saat kondisi darurat enggan mengeluarkan dana untuk mengatasi pandemi yang melanda para pembayar pajak itu. Itu tentu tidak logis dan tak akan mudah diterima akal sehat. Siapapun yang menjadi pemimpin.

Transaksi jual beli dan distribusi barang juga mengalami perubahan, bukan? Kebijakan moneter, distrubusi pendapatan, gaji, tunjangan juga akan berubah karena pandemi ini. Para pekerja harian juga akan mengalaminya. Mereka yang berjualan sebagaimana “penjual kaki” lima juga terpukul.

Mereka yang punya gaji tetap pun juga tak serta merta mudah membelanjakan uangnya sebagaimana biasanya. Harus berhemat. Harus berbagi pada orang lain yang membutuhkan. Memangnya gaji mereka peroleh dari mana? Memangnya para pegawai negeri itu tidak mendapatkan gaji dari para pembayar pajak yang sekarang sedang “stress” menghadapi pandemi? Apalagi pegawai swasta yang mengantungkan kehidupannya pada produksi barang dan penjualan jasa.

Lalu muncul problem sosial. Pengangguran merajalela. Bagaimana tidak, jika pabrik tidak lagi berproduksi normal sementara gaji karyawan dibayar dari produksi barang atau jasanya? Kesenjangan sosial pun akan ikut menguat. Budaya masyarakat akan ikut menggeliat berubah.  Perubahan ini akan ikut menentukan pasca pandemi.

Di sektor pendidikan juga tak jauh berbeda. Semua pembelajaran menjadi daring. Tidak enak memang. Tetapi tak bisa dihindari. Anak banyak yang belajar dirumah. Orang tua merasa kewalahan mengajari anak-anaknya. Tetapi orang tua bisa bertemu anaknya setiap saat serta bisa mengetahui kebiasaannya setiap hari. Rasa hangat keluarga akan bisa dirasakan. Meski tentu menjemukan.

Lalu, kebutuhan internet meningkat. Orang juga dipaksa untuk berada di rumah agar tidak menularkan atau tertular virus. Sesuatu yang sebenarnya mengingkari kodrat manusia.  Karena kodat manusia itu bergaul dengan sesamanya. Tinggal di rumah menjadi gemuk, penyakit berdatangan dan buntutnya bisa stress. Tidak ada yang suka, tetapi ini kenyataan yang tak bisa dihindari. Mereka yang ngotot keluar rumah akhirnya harus terkena virus tersebut. Kelompok ini sering menyepelekan himbauan pemerintah dan pemuka agama.  Inilah tantangan manusia dalam mengekang syahwat pribadinya.

Para Pecinta Pandemi

Namun demikian, sebenci apapun kita pada pandemi ini suatu saat akan dirindukan. Katakanlah pandemi sudah selesai dan kehidupan akan berjalan normal. Kodrat manusia itu senang dengan pengalaman hidupnya di masa lalu. Ini akan menjadi catatan sejarah dimana setiap orang akan bisa bercerita secara antusias pada generasi selanjutnya tentang pandemi ini. Manusia sebagai saksi sejarah saat ini akan bisa bercerita pada generasi selanjutnya puluhan tahun yang akan datang.

Dalam waktu dekat pun, tentu kita merindukan suasana hangat di tengah anggota keluarga. Anak-anak yang biasa sekolah seharian penuh bisa ada di rumah saat pandemi. Ini tentu akan dirindukan pula. Orang juga dipaksa harus bisa beberapa  aplikasi internet saat pandemi. Kalau tidak ada pandemi mustahil akan bisa. Manusia Indonesa itu kalau tidak dipaksa oleh suatu sebab tidak akan mau belajar.

Sebagai dosen saya juga nanti akan merindukan kuliah daring yang membosankan itu. Suasana merindukan mahasiswa begitu kuatnya. Suasana keseharian dalam belajar mengajar tidak akan mudah digantikan, meskipun dengan teknologi modern sekalipun. Persentuhan antar sesama secara fisik sesuatu yang mutlak dibutuhkan manusia normal.

Kita tahu pemerintah kita juga agak kacau dalam manajemen pengelolaan pandemi ini. Diawali dengan silang pendapat antar pejabat; apa yang harus dihadapi, bagaimana kebijakan yang akan diambil, siapa yang harus menyampaikan ke masyarakat dan lain-lain. Ini belum termasuk perbedaan kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Sangat birokratis.

Sementara keputusan untuk karantina wilayah, physilogical distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak segera diputuskan. Sementara itu virus terus menyebar dengan sangat cepat. Pemerintah dengan utang yang banyak serta ketergantungan pada kepentingan ekonomi internasional tentu juga berpikir dalam jika melaksanakan  kebijakan yang diambil.

Ini bukan soal suka dan tidak suka pada pemerintah. Pemerintah dimanapun dan kapanpun atau siapapaun yang memerintah punya kecenderungan menyalahgunakan kekuasaan. Apakah bantuan pemerintah itu tidak disalahgunakan? Kita belum punya sejarah untuk itu. Jadi, menyoroti kebijakan ak serta merta dilabeli dengan kebencian.

Pelajaran

Pandemi ini tentu memberikan pelajaran penting. Ada banyak kebijakan pemerintah yang harus diubah dan ditinjau ulang. Soal utang, soal kemandirian bangsa ini, soal perseteruan politik yang tak kunjung usai dan lain-lain. Ini jika pemerintah dan masyarakatnya sadar. Apakah pandemi ini tidak mengajarkan banyak hal?

Pelajaran lain, kita tak boleh terlalu banyak mengandalkan pada negara. Tidak usah protes pada negara untuk memberikan subsidi logistik selama pandemi. Karena pemerintah sudah “menipis” kondisi keuangannya. Uang pajak tidak dibelanjakan sebagaimana mestinya. Pengelolaan kuangan negara beserta lembaga negara sarat dengan penyelewengan dan kepentingan politis. Tak usah berharap banyak pada kebijakan yang berorientasi pada kepentingan rakyat.

Masyarakat disadarkan untuk menjadi manusia yang mandiri. Memberdayakan diri untuk berlatih bertahan hidup dalam situasi apapun. Karena negara punya agenda tesendiri soal kebijakannya. Selama beberapa puluh tahun ini kepentingan masyarakat bukan diatas segala-galanya. Kepentingan itu hanya indah dalam teks tertulis aturan dan undang-undang. Ini pelajaran  berharga. Kemandirian masyarakat tentu akan menciptakan asmosfir yang baik bagi kemandirian bangsa di masa datang. Ibarat pemain sepak bola, sesekali masyarakat tetap “menyerang” kebijakan pemerintah.

Jadi, bukankah pandemi mengajarkan kita banyak hal? Membenci pandemi tak salah. Tetapi membencinya membabi buta tanpa bisa berbuat apa-apa menjadi sia-sia. Bukankah dalam hal ini nanti kita akan merindukan pandemi karena telah mengajarkan kita banyak hal?  Juga, bukankah manusia dengan setan itu bisa hidup berdampingan juga? Justru ibadah seseorang akan menjadi sempurna dan berpahala banyak manakala mendapat banyak godaan, bukan?

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini