Pandemi Mempercepat Disrupsi Media

Ilustrasi : The Newyorker.com

Terakota.id–Pandemi Covid-19 telah mempercepat usia media cetak, yang selama lebih dari 1 abad telah menjadi bagian penting dari arus media utama (mainstream). Berhenti terbitnya Koran Tempo dan Suara Pembaharuan menjadi salah satu penanda dari dampak besar disrupsi yang melanda ekosistem media.

Suara Pembaharuan menghentikan cetaknya mulai 1 Februari 2021. Setelah 34 tahun beredar, koran yang dianggap sebagai kelanjutan koran legendaris Sinar Harapan ini akhirnya mengikuti jejak Sinar Harapan yang berhenti terbit terlebih dahulu. Sinar Harapan berhenti terbit saat dibredel pemerintahan Soeharto pada tahun 1986, namun kemudian terbit lagi pasca reformasi 1998. Jika di masa Orde Baru, Sinar Harapan berhenti terbit karena kuasa politik penguasa, maka faktor ekonomi menjadi penyebab utama berhentinya koran ini di masa reformasi.

Di masa kejayaannya sebelum dibredel, Sinar Harapan menjadi koran nasional terkemuka serta dikenal sebagai raja koran sore, karena terbitnya di sore hari dan menjadi pemimpin pasar untuk koran sore. Setelah reformasi, Sinar Harapan berusaha merebut kembali pasar pembaca yang pernah dikuasainya. Namun perilaku audiens yang berubah ke digital menyebabkan koran ini berhenti terbit di hari terakhir 2015.

Koran Tempo memutuskan berhenti terbit sejak 1 Januari 2021, dan sepenuhnya beralih ke digital. Terbit pertama sejak tahun 2001, koran ini digadang-gadang bisa menapaktilasi seniornya, Majalah Tempo yang sukses secara bisnis dalam ekosistem media nasional. Namun faktanya, Koran Tempo berhenti terbit lebih dulu.

Disrupsi media telah menyebabkan kekacauan dalam ekosistem media. Perusahaan multinasional over the top (OTT), seperti Google, Facebook, dan Amazon berdasarkan riset MarketingCharts.com sebagaimana yang dikutip oleh Kompas edisi 9 Februari 2021 menguasai 56 persen belanja iklan. Hal yang mudah kita rasakan ketika membaca konten internet melalui Google Chrome dan berselancar di Facebook yang banyak berisi iklan dari penyedia layanan ini.

Disrupsi media semakin banyak memakan korban di masa pandemi. Pembatasan mobilitas sosial telah menyebabkan pergerakan manusia menjadi terbatas. Kios koran menjadi semakin sepi didatangi pembaca yang masih setia dengan media cetak. Penjual koran di lampu merah juga semakin berkurang, beberapa di antaranya beralih menjadi penjual asongan makanan dan produk non media.

Fenomena sepinya kios koran dan beralihnya asongan penjual koran saya rasakan di Yogyakarta. Meskipun era telah digital, membaca koran masih merupakan kenikmatan yang tidak bisa ditandingi oleh media digital. Biasanya saya membaca koran sambil minum kopi. Koran saya beli eceran di kios koran atau pengecer di lampu merah. Sehari sebelum menulis esai ini, saya berjumpa penjual koran langganan saya yang beralih berjualan tahu Sumedang di lampu merah simpang lima terminal Giwangan, Yogyakarta.

“Mas, sekarang sadean-nya (jualan – Bahasa Jawa) bukan koran lagi ya?” begitu sapa saya ketika lampu merah menyala. Sekira 90 detik kami berbincang. Jawaban pengecer koran langganan saya, “Lha pripun (bagaimana – Bahasa Jawa), yang beli semakin sedikit mas, yang penting halal dan tinimbang (daripada – Bahasa Jawa) ngamen.”

Berhenti cetak, bukan hanya memakan korban para pekerja media, baik jurnalis maupun non jurnalis, namun juga pekerja informal. Pengecer koran kehilangan pekerjaan yang ditekuninya selama bertahun-tahun, salah satunya adalah pengecer langganan saya. Sebelum lampu hijau menyala, saya memberikan selembar pecahan rupiah untuk beli tahu yang dijualnya. Dari dulu memang saya lebih suka membeli koran di pengecer, bukan langganan. Alasannya sederhana, bahwa membeli koran di pengecer bukan hanya mendapatkan berita dari koran yang saya baca, namun membantu ekonomi pengecer.

Adaptasi

Perubahan teknologi ke arah digital sinyalnya telah tampak sejak pergantian millennium. Kemudahan akses internet dan semakin murahnya biaya akses internet telah membuat perubahan besar dalam perilaku audiens pembaca. Perubahan perilaku bermedia ini semakin cepat ketika teknologi internet menjadi bergerak (mobile). Cukup dengan telepon pintar, semua informasi bisa diperoleh oleh penggunanya. Serempak, para pemasang iklan yang menjadi sumber penghasilan utama perusahaan media, beralih membelanjakan anggaran iklannya di media digital.

Halaman iklan di koran yang dulu penuh, bahkan halaman pertama koran acapkali dijual kepada pengiklan dengan harga yang tentu jauh lebih mahal daripada di halaman dalam, kini semakin sepi. Berkurangnya jumlah pemasang iklan dan belanja iklan yang digelontorkan pemasang iklan menyebabkan guncangan pendapatan bagi perusahaan media.

Pandemi semakin mempercepat lagi perubahan ini. Bukan hanya sektor kesehatan yang terdampak. Sektor bisnis media juga mengalami dampaknya. Perusahaan mengurangi belanja iklan, karena pendapatan yang menurun. Ini sebagai akibat menurunya kemampuan beli masyarakat yang menyebabkan pendapatan perusahaan menurun. Beragam faktor yang berkelindan ini menyebabkan perusahaan media beradaptasi.

Mengurangi jumlah halaman menjadi adaptasi kecil yang dilakukan oleh perusahaan media. Adaptasi besar yang dilakukan adalah dengan berhenti terbit dan beralih ke media digital. Meskipun demikian beralih ke media digital juga bukan jaminan mampu bertahan. Terbiasa dengan edisi cetak yang ritmenya berbeda dengan media digital, perusahaan media cetak yang beralih ke digital dihadapkan pada keharusan yaitu adaptasi dengan cepat, kompetisi dengan sesama media digital dalam merebut pembaca dan pemasang iklan. Yang paling sulit dihadapi tentu saja adalah dominasi perusahaan platform digital global.

Hari Pers Nasional tahun 2021 terjadi di masa pandemi. Perayaan yang semarak di tahun-tahun sebelumnya, berubah di tahun ini. Kenyataan bahwa disrupsi dan pandemi telah memukul industri media menempatkan perusahaan media nasional pada satu pilihan, yaitu menjaga ekosistem media nasional. Pers adalah bagian penting dalam pembentukan karakter bangsa, selain fungsi utamanya menyebarkan informasi kepada masyarakat. Dominasi platform digital global memungkinkan semakin kuatnya erosi karakter bangsa, karena media pers nasional yang tersisih.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini