Pandemi Covid-19 Mengantar Indonesia Menuju Negara Berbasis Ekonomi Digital

Ilustrasi : datacenterdynamics.com

Oleh: Dilla Haryanti*

Terakota.id–Segala lini kehidupan dunia masih terus berjalan ditengah kepungan pandemi global Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Hingga saat ini, asal mula Coronavirus Disease 19 atau Covid-19 yang menyebabkan pandemi global masih simpang siur. Virus Corona ditemukan di Wuhan, Tiongkok, Desember 2019.

Beberapa penelitian mengungkapkan virus bersumber dari kelelawar atau bahkan adanya spekulasi yang beredar tentang kebocoran laboratorium di Wuhan. Indonesia mencatat kasus pertama Covid-19 pada 2 Maret 2020. Dalam waktu singkat, delapan hari telah meluas menjangkiti 34 provinsi di Negara Indonesia.

Memasuki 2021, atau setelah 10 bulan virus tersebut masuk ke dalam negeri, belum menunjukkan garis finish. Malah, pada Jumat, 8 Januari 2021 Indonesia berada di urutan ke-21 negara dengan kasus terbesar dunia. Tercatat sebanyak 808.340 kasus, dengan kematian 23.753 jiwa dan pasien sembuh 666.883 jiwa.

Sampai 8 Januari 2021, terdapat 117.704 kasus Covid-19 aktif atau yang sedang berada dalam perawatan. Ada 7.446 pasien sembuh dalam sehari dan 233 pasien meninggal. Bahkan terdapat penambahan kasus baru yang kembali melonjak mencapai 10.617 kasus dalam sehari.

Ditengah-tengah kepungan Covid-19 yang belum usai memporak-porandakan segala tatanan kehidupan manusia, virus tersebut telah bermutasi menjadi varian strain baru virus yang diberi nama VUI-202012/01 (Variant Under Investigation in December 2020) yang teridentifikasi pertama kali pada pertengahan September 2020 di tenggara Inggris, di ibu Kota London atau wilayah Kent.

Meskipun vaksin Covid-19 dapat mengikis kekhawatiran, namum vaksin tersebut tidak memberikan jaminan untuk dapat efektif digunakan pada varian strain baru virus tersebut. Sebab, varian strain baru covid-19 diyakini penyebarannya 70 persen lebih cepat ketimbang dan lebih membahayakan jika dibandingkan dengan strain lamanya.

Tentu ini menjadi buah simalakama untuk semua negara di dunia, tak terkecuali untuk Indonesia. Upaya pemerintah Indonesia untuk menekan angka penyebaran Covid-19 ialah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang di atur dalam Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2020. Kebijakan tersebut menegaskan kembali tentang pembatasan-pembatasan aktivitas sosial demi kesehatan masyarakat, yang memang tak dapat disangkal memberi berdampak besar pada segala sendi kehidupan masyarakat.

Tetapi, meskipun kebijakan PSBB diterapkan, kesehatan masyarakat tetap harus berjalan beriringan dengan perekonomian. Karena masyarakat tak mungkin hanya sehat saja tetapi mengalami kesulitan dalam ranah ekonomi yang merupakan satu variable terpenting untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup.

Ekonomi Digital

Lalu, bagaimana Covid-19 bisa mengantarkan Indonesia menjadi negara berbasis ekonomi digital terbesar di dunia?

Tidak pernah ada waktu yang pasti tentang garis finish untuk sebuah virus tak kasat mata, Coronavirus Disease-19. Sehingga, untuk pengendalian terhadap penyebaran Covid-19 tersebut, PSBB memang harus diimplementasikan. Kebijakan ini tentunya berimbas pada terjadinya perubahan pola kerja yang awalnya Work From Office (WFO) menjadi Work From Home (WFH)

Work From Home (WFH) mau tak mau, suka tak suka membuat seluruh elemen pelaku usaha untuk melakukan shifting (pergeseran), yaitu upaya mentransformasikan seluruh kegiatan usaha dari dunia nyata ke dunia digital. Shifting, mampu menjadi satu mega tren yang lebih besar di picu oleh Covid-19 dibandingkan oleh disprupsi digital.

Pandemi Covid-19 pun semakin mematangkan Indonesia untuk siap menjadi negara berbasis ekonomi digital dengan beberapa alasan, yaitu:

Pertama, besarnya populasi usia produktif di Indonesia. Hal ini berdasarkan data pada tahun 2019, populasi di Indonesia sebanyak 270 juta jiwa dengan 50 persen berada dalam rentang usia di bawah 30 tahun. Yang berarti, Indonesia sedang mengalami surplus kaum milenial yang menotabene akrab dengan teknologi digital. Hal ini juga di semakin di dukung oleh keadaan dimana semua orang harus menjalankan aktivitasnya berasal dari rumah, sehingga makin meningkatkan kreatifitas kaum-kaum milenial Indonesia untuk menciptakan banyak start up yang dapat memudahkan aktivitas masyarakat.

Kedua, rendahnya jumlah populasi yang memiliki rekening bank. Hanya sekitar 23 persen orang dewasa di Indonesia yang memiliki akses memadai ke layanan dan produk keuangan per tahun 2018. Penetrasi kertu kredit pun juga dinilai rendah. Hingga Juli 2020, hanya tercatat sekitar 6 persen yang memiliki kartu kredit. Sehingga hal ini dapat menjadi peluang bagi masuknhya platform kartu kredit virtual (PayLater) untuk menjadi pangsa pasar di Indonesia.

Berdasarkan pandangan salah satu Pakar Marketing dari Inventure Consulting, masa pandemi Covid-19 memungkinkan penggunaan kartu kredit virtual (PayLater) semakin bertambah. Hal ini dikarenakan masyarakat cenderung mulai beralih untuk bertransaksi digital yang jauh lebih mudah dan cepat digunakan ketimbang kartu kredit yang dikeliarkan oleh bank.

Ketiga, tingginya penetrasi gawai. Menurut data dari statista, hingga akhir 2019, penetrasi cerdas gawai sudah mencapai 63 persen dan bahkan diprediksi bisa mencapai 89 persen pada 2025. Statista juga menemukan meskipun penetrasi cerdas gawai sudah tinggi, tetapi penetrasi broadband baru 15 persen. Hal ini menunjukan, orang Indonesia sangat bergantung pada cerdas gawai.

Keempat, penggunaan gawai yang tinggi. Menurut laporan riset dari Google, Temasek dan Bain Analysis, rata-rata orang Indonesia lebih terlibat dengan teknologi seluler daripada negara-negara di Asia lainnya. Dimana orang Indonesia menghabiskan 4,5 jam sehari di ponsel mereka, lebih tinggi dibandingkan India yang hanya 3,75 jam sehari, China 3,3 jam, dan penggunaan rata-rata orang di dunia yang sebesar 3,2 jam per hari.

Pandemi Covid-19, membawa perubahan besar yang terjadi dalam masyarakat. Salah satunya adalah peningkatan belanja daring yang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sekunder saja, melainkan juga kebutuh primer, dengan memanfaatkan teknologi seluler yang tinggi. Hal itu diperkuat dengan hasil riset Google yang menunjukkan bahwa dampak dari penggunaan teknologi meningkatkan penjualan sebesar 26 persen dari rata-rata perbulan di Indonesia.

Keuangan Berbasis Teknologi

Berdasarkan hal-hal tersebut, terjadi perubahan bisnis di Indonesia yang tentunya berjalan beriringan dengan pertumbuhan teknologi dan perkembangan digital, seperti halnya perbankan. Jika dua dekade lalu, inovasi teknologi keuangan hanya berpusat pada internal perbankan, namun saat ini inovasi teknologi juga telah merambah pada sisi nasabah atau konsumen. Serta perubahan tersebut juga telah menjadi salah satu pencetus menjamurnya perusahaan keuangan berbasis teknologi atau financial technologi (FinTech) di Indonesia.

Hasil riset Assosiasi FinTech Indonesia memetakan sedikitnya ada 120 perusahaan yang bergerak di sektor Fintech. Peningkatan tersebut sejalan dengan pemilik telepon genggam yang jauh lebih banyak dibanding jumlah rekening bank. Berdasarkan kondisi ini, dapat diteropong lebih jauh kedepan bahwa masa depan inklusi keuangan di Indonesia ada pada transaksi keuangan digital yang menggunakan perangkat mobile.

Salah satu riset DBS berjudul “Digital Banking: New Avatar-Banks   Watch Our For Banks” menyebutkan bahwa FinTech memiliki kelebihan dibanding bank tradisional. Finteh didukung teknologi dan inovasi untuk menjangkau nasabah yang tidak dapat mengakses sistem perbankan tradisional serta lebih efisien karena mampu menekan biaya operasional sehingga bisa memberikan segala fasilitas layanan. Di sisi lain, pesatnya pertumbuhan perusahaan start up fintech juga mendorong institusi keuangan tradisional untuk mengevaluasi  kembali model bisnis inti mereka dan mulai memanfaatnkan inovasi digital. Sebab jika tidak, menjamurnya fintech dapat membawa ancaman bagi perbankan.

Perkembangan teknologi bukan hanya mengubah praktik bisnis di Indonesia, tetapi juga meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Inonesia. Pada salah satu riset Deloitte yang berjudul “Digitak Financial Services in Indonesia” menyebutkan bahwa layanan keuangan digital akan membuat akses sistem keuangan semakin meningkat sehingga memberikan manfaat bagi ekonomi nasional. Serta menurut studi Word Bank, peningkatan fasilitas sistem keuangan inklusi sebesar 1 persen bisa meningkatkan pertumbuhan PDB per kapita sebesar 0,03 persen.

Pertumbuhan ekonomi ini selanjutnya dapat menghasilkan lapangan kerja baru. Kenaikan inklusi keuangan sebesar 20 persen melalui layanan digital ini akan menghasilkan 1,7 juta lapangan kerja bru. Meningkatnya akses perbankan juga membuat bisnis terutama Usaha Kecil Menengah (UKM) menjadi lebih mudah. Pengusaha-pegusaha baru kini bermunculan seiirng mudahnya menjual barang melalui internet. Pedagang tak harus memiliki lapak atau tokoh konvensional terlebih dahulu untuk menjual produknya. Tetapi mereka bisa menjual melalu berbagai media seperti social media, website, hingga aplikasi khusus.

Melihat potensi-potensi tersebut, tentunya menjadikan jalan Indonesia menjadi lebih lebar menuju Negara Berbasis Ekonomi Digital Terbesar di Dunia. Apalagi, total populasi di Indonesia mencapai 272,1 juta orang. Yang mana dari jumlah tersebut, jumlah pengguna ponsel mencapai 338,2 juta orang. Sehingga, memang bukan tanpa alasan jika negara Indonesia pantas mendapatkan julukan sebagai Macan Asia.

 

*Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang

**Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini