Pameran Lukisan Remboisasi, Berawal dari Perjumpaan di Media Sosial

Perupa asal Malang, Batu, Bali dan Yogyakarta menggelar pameran bertajuk Remboisasi berawal dari perjumpaan di media sosial. (Foto : Dokumentasi panitia).

Terakota.idBerawal dari perjumpaan di dunia maya, perupa Malang, Bali, Batu dan Yogyakarta menggelar pameran bersama. Awalnya mereka kerap menggunggah hasil karya lukisan di media sosial.  Arifin perupa asal Malang, Yoyok Sahaja dan Stevan Sexio Kresonia Yogyakarta, Koko S asal Batu, Fajar, dan Seno Wahyu S dari Bali.

Para perupa ini menggelar Pameran di Dewan Kesenian Malang, mulai 5 sampai 11 Agustus 2018. Saat berinteraksi di media sosial, mereka berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai dunia seni. “Tak ketinggalan saling meledek,” kata penyelenggara pameran sekaligus seniman asal Malang Effendy S. alias Goweng dalam siaran pers yang diterima Terakota.id

Pameran bertajuk re-Mbois-asi. Mbois merupakan kosa kata khas walikan yang akrab di telinga warga Malang. Komunikasi bahasa walikan ini berkembang lebih jauh dengan mengkreasi bahasa walikan, sehingga memunculkan beragam kosa kata baru. Salah satunya ‘Mbois’.

Mbois  merupakan ungkapan untuk sesuatu yang keren,  menarik, atau sesuatu yang asyik. Kosa kata ini tetap hidup, menyebar dan digunakan dalam bercakapan sehari-hari sampai sekarang.

Setelah para seniman akrab dan berinteraksi lebih intens mereka mendesain sebuah perjumpaan budaya dengan menampilkan pameran lukisan bertajuk re-Mbois-asi. Sebuah harapan pertemuan karya seniman mbois dengan karya yang wow! Atau memukau penonton.

Secara tak sengaja mereka cenderung menampilkan lukisan bergaya ekspresionis, dalam balutan unikum masing-masing karya. Para seniman ini memiliki beragam latar belakang berkesenian, media dan teknik perupaan. Karya yang dipamerkan mengandung unsur kekinian, dan sesuatu yang layak diapresiasi.

Secara umum karya mereka tak terikat batasan formal, bidang kanvas tampak seperti ruang tak terdugaan, dan tak terpikirkan. Karya mereka menyimpan keragaman informasi yang bisa dilihat dan dirasakan melalui jejak-jejak goresan cat yang mengalir lepas dan kadang tegas.

Karya lukis, katanya, menjadi subyektif, mewujudkan sensasi khusus, dengan isu kekinian. Menawarkan ruang tafsir bebas tak terbatas. “Secara tersembunyi karya ini kuat menyuarakan wacana kebebasan.”

Perupa Beragam Latar Belakang

Arifin mempelajari seni lukis secara otodidak. Namun proses kreatif menunjukkan pola pikir akademis. Meneruskan eksplorasi media plastiknya jenis LDPE, dan HDpE. Dipadu dengan acrylic, serutan kayu dan teknik bakar menjadi berbeda dengan seniman lain.

Sapuan ritmis, liar atau lapisan warna tas kresek dari efek teknik bakar yang menghasilkan dimensi ruang samar. Bentuk representasi eksplorasi artistik dan sikap bebas tak terbebani. Menurut Goweng  secara umum mereka membebaskan diri dari formalitas, cenderung mengikuti intuisi dan imajinasi.

Hendung seorang guru atau pendidik memiliki  latar belakang pendidikan seni secara formal. Karyanya emosional. Menunjukkan tensi berkarya yang cukup intens. Jejak garis dan warna ekspresif. Karya terbarunya terasa ‘fine art’ menunjukkan cita rasa artistik yang cukup kuat.

Yoyok Sahaja, memiliki latar belakang pendidikan seni secara formal. Lama bermukim di Yogyakarta. Visual karyanya mampu menghadirkan rasa yang menggoda dengan gaya seperti Dekoratif naif. Karyanya menunjukkan bermain yang tidak main-main. Coretan, teks, gambar kekanakan, pilihan tebal tipis warna, arah sapuan kuas dan penempatan obyek visual mencitrakan estetika yang bebas. Merdeka dalam proses kreatif.

Koko S agak berbeda dengan kebanyakan pelukis kota Batu yang kebanyakan bergaya realis. Mengenyam pendidikan seni formal di Institut Seni Indonesia (ISI). Tanpa teman yang sanggup mengerti aktivitas berkeseniannya sehingga agak terbengkelai dan vakum cukup lama. Ajakan pameran bersama seperti sebuah momen kebangkitan dari tidur panjang.

Fajar bermukim dan aktif berkesenian di Bali. Belajar seni secara otodidak,  karyanya cenderung corak dekoratif, berkeinginan menunjukkan kebebasan tindakan penciptaan artistik. Coretan teks yang tak jelas terbaca seperti menyembunyikan sesuatu.

Stevan Sexio Kresonia seniman kelahiran Padang 1982. Aktif berpameran sejak 2014 di Yogyakarta, Jakarta dan Magelang. Dua kali karyanya menjadi Finalist Painting of The Year UOB pada 2012 dan 2017. Dasar pendidikan formal di ISI, ia menggambarkan obyek yang memiliki hubungan dan melapisinya dengan lelehan  warna dan coretan dengan dasar warna cerah.

Seno Wahyu S hampir memiliki kesamaan dengan teman lainnya. Karyanya berjudul: Menyatu, 2017, berupa panil lima bidang kanvas, berwarna soft. Obyek digambarkan secara global dan ekspreif, garis dan warna tampak ditonjolkan.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini