Pameran Lukisan Kembali ke Kota Asal, Malang

Reporter : Nada Prinia | MR Firdausi*

Terakota.id–Sejumlah perupa asli Malang populer dan terkenal sebagai seniman besar di kota lain seperti Yogyakarta dan Denpasar, Bali. Para perupa hijrah lantaran belum ada wadah dan komunitas yang mendukung. Termasuk dukungan dari pemerintah Kota Malang.  “Malang kehilangan aset berharga. Banyak seniman pindah ke luar Malang,” kata salah seorang pelukis asal Malang, Effendy S.

Setelah besar dan terkenal di kota lain, mereka tetap berkomunikasi dengan perupa asal Malang. Mereka berinteraksi melalui media sosial, mulai menampilkan karya sampai saling memberi masukan dan kritik atas karya yang dihasilkan. Tak puas hanya perjumpaan di media sosial, mereka lantas membuat pameran lukisan di kota asal. Kembali ke Kota Malang.

Pameran bertajuk re–Mbois-asi diselenggarakan di Dewan Kesenian Malang sejak 5 sampai 12 Agustus. Total sebanyak delapan perupa yang berpameran. Kedelapan perupa antara lain Arifin asal Malang, Yoyok Sahaja dan Stevan Sexio Kresonia Yogyakarta, Koko S asal Batu, Fajar, dan Seno Wahyu S dari Bali.

“Yoyok Sahaja perupa asli Malang tapi terkenalnya di Yogyakarta,” kata Effendy yang juga ketua panitia pameran. Banyak seniman asal Malang yang hijrah Bali dan Yogyakarta lantaran mendapat dukungan dan apresiasi. Termasuk banyak berkembang komunitas dan menjadi pusat seni dan budaya.

“Banyak seniman yang lari ke Bali dan Yogya,” ujarnya.

Untuk menggugah kepedulian pemerintah dan publik Malang, para perupa menggelar pameran pulang kampung. Menurutnya, Malang memiliki banyak potensi dan seniman berbakat. Namun, sebagian besar berjalan individu dan tak bersatu.”Dibutuhkan pondasi yang kuat agar bisa go-internasional.”

Pameran bakal berlanjut, tur pameran berlanjut ke Yogyakarta dan Bali. Rencananya setiap tempat bakal menampilkan karya baru. Selain pameran, juga diselingi diskusi dan berbagi pengalaman berkarya di dunia seni lukis. Termasuk memberikan pendidikan seni lukis kepada para pelajar Sekolah Menengah Atas.

Puluhan pelajar SMA belajar membuat sketsa wajah dan melukis. Mereka bersimpuh di lantai pendapa Dewan Kesenian Malang. Tangan kiri memegang kertas sedangkan tangannya kanan memainkan pensil untuk membuat sketsa wajah. Tekun, para pelajar belajar membuat sketsa wajah yang menarik dan memiliki karya seni tinggi.

Mereka memiliki beragam latar belakang berkesenian, media dan teknik perupaan. Meski sengaja mereka cenderung menampilkan lukisan bergaya ekspresionis, dalam balutan unikum masing-masing karya. Karya yang dipamerkan mengandung unsur kekinian, dan sesuatu yang layak diapresiasi.

Secara umum karya mereka tak terikat batasan formal, bidang kanvas tampak seperti ruang tak terdugaan, dan tak terpikirkan. Karya mereka menyimpan keragaman informasi yang bisa dilihat dan dirasakan melalui jejak-jejak goresan cat yang mengalir lepas dan kadang tegas.

Karya lukis, katanya, menjadi subyektif, mewujudkan sensasi khusus, dengan isu kekinian. Menawarkan ruang tafsir bebas tak terbatas. “Secara tersembunyi karya ini kuat menyuarakan wacana kebebasan.”

Masari Arifin misalnya berani tampil berbeda, ia menggunakan aneka sampah plastik dan bubuk kertas untuk melukis. Karya lukisan berjudul “SYNDROME” bergaya abstrak dilukis dengan pasta yang terbuat dari sampah tas kresek. Sampah plastik diolah  dengan metode pembakaran khusus kemudian dituangkan di atas kanvas.

“Ini menceritakan masyarakat yang selalu menggunakan tas kresek ketika belanja. Sebagian mengoleksi atau sengaja menyimpan tas kresek merek terkenal.” Tujuannya hanya untuk menaikkan kelas sosial. Agar pemilik tas kresek dipandang sering belanja barang bermerek.

Melalui lukisan ini Masari berkampanye kepada publik untuk memperhatikan dampak dari dampak plastik yang sulit diurai.  Sehingga menimbulkan masalah lingkungan secara luas. “Plastik bisa digali unsur seninya dan juga bisa didaur ulang,” ucapnya.

Sementara Koko S menampilkan karya lukis yang berjudul “MAINKAN.” Memanfaatkan kertas bekas dan kanvas berukuran panjang 6 meter dan lebar 2 meter sebagai media. Hasilnya terpajang sebagai karya lukis tiga dimensi (3D) berukuran raksasa.

Dalam lukisan ini juga menggunakan dua buah gitar dan satu selo terbuat dari kertas ditempel di atas kanvas. Koko menabur bubuk kertas di atas lukisan nya. Melalui karya ini,  Koko S menyampaikan pesan jika hidup itu seperti bermain. “Bagaimana kita memainkan instrumen kehidupan ini sesuai individu masing-masing.”

Lukisan ini dibuat selama dua bulan, bahkan ia susah tidur selama berkarya. Lukisan tiga dimensi ini merupakan lukisan berjenis abstrak urban.

* Laporan peserta Kelas Jurnalis Muda angkatan pertama Terakota.id

 

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini