“Pak Kebun, Gorengkan Sukun…”

Ilustrasi : Oriflameid.com

Terakota.id–Pak Kebun, Gorengkan Sukun…adalah salah satu dari ratusan cerita anak yang pernah ditulis Soekanto, SA. Pak Kanto, demikian ia biasa diakrabi, adalah penulis cerita anak legendaris produktif di era 70an. Namanya identik dengan majalah anak Si Kuncung. Cerita-cerita anak karya Pak Kanto banyak dimuat di majalah Si Kuncung. Salah satu cerita yang saya kenang dalam ingatan adalah, Pak Kebun, Gorengkan Sukun. Apa pasal?

Judul cerita Pak Kebun, Gorengkan Sukun, bersajak enak. Berterima di telinga. Kebun, sukun. Kedua, kisah itu mewakili keseharian sekolah saya yang memang ada pak kebun. Saat SD, di tahun 1970an akhir, sebagai siswa kelas 1 SDN Bubutan VIII no 70 Surabaya, saya berteman dengan pak kebun dan bu kebun (yang juga sebagai ibu penjaga kantin sekolah). Mereka sosok kedua dan ketiga yang saya dan teman-teman lihat saat memasuki gerbang sekolah, setelah Bu Guru kelas 1 menyambut kami, setiap pagi, dari Senin-Sabtu, kecuali hari libur.

Pak kebun mengelap semua bangku, mengepel lantai kelas, dan mengunci pagar sekolah, saat pulang sekolah. Pak kebun juga mengantarkan minuman hangat  untuk semua guru dan karyawan sekolah. Bu kebun membuatkan kami teh panas ketika salah satu dari kami ada yang sakit. Pak kebun yang memompa ban sepeda teman-teman saat kurang angin dan mengantarkan salah satu dari kami pulang ke rumah, jika sakit. Pak kebun, selalu ada dalam jangkauan mata kami.

Alasan ketiga, mengapa cerita itu begitu menempel dalam benak saya adalah kalimat cerita pak Kanto sederhana dan pendek. Belakangan saya tahu, bagi pak Kanto, pantangan paling utama dalam menulis cerita anak adalah kalimat menggurui. Pantangan itu membuat pak Kanto kreatif.

Paling esensial, menurut hemat pak Kanto, cerita anak harus memberikan kenikmatan membaca pada anak. Cerita Pak Kebun, Gorengkan Sukun, menghadirkan relasi siswa sekolah dengan pak kebun. Pak kebun yang serba bisa dan teman semua orang di sekolah. Kehadirannya sehangat teh dan pisang goreng yang dijual di kantin sekolah.

Semua zaman punya kisahnya, seperti semua kisah punya zamannya. Cerita anak sebagai bagian dari karya sastra, adalah penyaksi perjalanan hadir dan lenyapnya suatu profesi. Pak kebun, dalam lintasan sejarah pendidikan di negeri ini, memang hanya sekrup kecil yang melengkapi bangunan ekosistem persekolahan.

Ia bisa tergantikan oleh petugas kebersihan alih daya (outsorcing) yang bisa datang dan pergi kapan saja, sesuai kontrak dengan sekolah. Saat ini, pak kebun hilang dalam struktur organisasi kerja sekolah. Zaman berganti, ketidakbutuhan terhadap profesi-profesi lama, termasuk pak kebun adalah perubahan yang pasti.

Pun, cerita anak-anak merekam penganan apa saja yang dikudap di masa itu. Sukun goreng, pisang goreng, ubi dan singkong rebus. Pak kebun memetik sendiri sukun di kebun sekolah, lalu bu kebun menggoreng dan menghidangkannya pada anak-anak yang sore itu bermain ke sekolah. Perjamuan yang hangat berlangsung di sekolah. Dari pak kebun, anak-anak belajar menghargai profesi dan menjalin relasi yang saling menghargai.

Tak ada jargon pendidikan karakter yang muluk dan sesak, hendak dijejalkan ke semua ruang pendidikan, seperti sekarang. Karakter toleran, karakter cinta tanah air, karakter antikorupsi, karakter peduli sesama, karakter tanggap dan tangguh bencana, karakter tanggap pandemi Covid-19, dan entah karakter apalagi nanti. Karakter menjadi nomina yang diperbincangkan di mana-mana, sementara konstituen utama pendidikan karakter, anak-anak, tak diajak turut memilih dan mendesain bagaimana karakter unggul seharusnya dipajankan.

Bahkan, menanyai mereka, buku bacaan apa yang mereka perlukan dan inginkan tersedia di sekolah dan rumah, pun tidak. Apalagi menanyai mereka apa dan bagaimana cara yang paling mereka inginkan untuk mengakses bacaan. Apakah  mereka mau didongengi? Bermain peran? Membaca nyaring sendiri? Membaca melalui buku audio? Menyusun sendiri bacaan mereka dengan bantuan guru atau orang tua? Menyimak film pendek? Menyimak sandiwara radio? Cerita seperti apa yang ingin mereka baca dan simak?

Jangan-jangan, guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya, sudah terselap bagaimana cara menemani anak-anak bertumbuh. Mengapa tak belajar dari pak kebun yang selalu punya sukun hangat untuk disantap dengan gembira oleh anak-anak?

***

Catatan: terselap=tiba-tiba lupa

           

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini