Paceklik di Lumbung Air Umbulan

Terakota.id–Puluhan remaja beredam dan berenang di dalam kolam seluas lapangan sepakbola di sumber air Umbulan, Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Air terasa adem, pepohonan rimbun mampu mengusir hawa panas yang menyeruak sekitar Pasuruan selama musim kemarau. Apalagi, sejak bulan puasa jumlah pengunjung terus mengalir ke sumber air terbesar di Jawa Timur ini. “Berendam sambil menunggu waktu buka puasa,” kata salah seorang pengunjung, Subhan.

Ia bersama tiga temannya bermain air untuk mengusir kebosanan dan menunggu jelang bedug magrib. Tak hanya berendam dan berenang, sebagian memilih memancing di kolam sedalam tiga meter. Mereka duduk di tepi kolam menumpang teduhnya dua pohon trembesi yang tumbuh di pinggir kolam.

Sumber Umbulan terletak di perbatasan Desa Umbulan dan Desa Sidepan yang berjarak sekitar 20 kilometer selatan Kota Pasuruan. Selain kolam, lahan seluas dua hektare tersebut berdiri bangunan seluas lapangan bola voley yang berisi mesin pompa Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Air yang bersumber dari Umbulan ini dipompa untuk mengaliri sawah petani. Tiga pipa berdiameter 30 sentimeter mengular menuju persawahan warga.

Namun, sejak beberapa tahun ini berhenti beroperasi. Bangunan gudang tampak terbengkalai, dinding kusam, atap yang terbuat dari seng berjatuhan. Bahkan, pintu dan jendela bangunan dibiarkan rusak. “Biaya tinggi, aliran ke sawah petani dihentikan,” kata Kepala urusan umum dan kebersihan Pemerintah Desa Umbulan, Supardi.

Bahkan, sejak jaman kolonial telah air dari sumber Umbulan juga dialirkan ke Surabaya untuk memenuhi kebutuhan air minum. Hingga kini, jaringan pipa air minum masih terawat mengalir ke Surabaya. Pengelolaan air diserahkan kepada Perusahaan Daerah Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya.

Bangunan kantor dan rumah mesin pompa berdiri kokoh di pinggir sumber Umbulan. Rumah bergaya arsitektur kolonial ini nampak terawat rapi. Deru mesin pompa bergemuruh mengalirkan air ke pemukiman warga Surabaya. Sejumlah rumah dinas petugas PDAM Surabaya disiapkan untuk para petugas.

Aliran air PDAM tersebut berasal dari sebuah bangunan seluas enam meter persegi setinggi satu meter. Bangunan bercat biru ini sengaja dibangun sejak jaman kolonial untuk menampung dan mengalirkan air sumber Umbulan. Sebelumnya, air muncrat setinggi 15 meter. “Pernah diukur debitnya 5 ribu liter per detik,” kata Supardi.

Di sisi timur kolam, tertanam sebatang besi berdiameter 30 centimeter yang digembok rapat. Pipa besi ini ditanam sejak 1990 an diresmikan oleh Hutomo Mandala Putra “Tommy Soeharto” putra bungsu bekas Presiden Soeharto. Di lokasi ini, Tommy merencanakan mega proyek sumber air umbulan. Namun, proyek tersebut gagal bersamaan runtuhnya orde baru.

Sekeliling kolam berdiri sekitar 40 bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai warung dan toko. Bangunan yang terbuat dari papan ini berdagang makanan dan aneka kebutuhan para pengunjung. “Pedagang warga Umbulan,” kata pria yang bekerja selama 30 an tahun di sumber Umbulan ini.

Tak hanya pedagang makanan, para juru parkir juga menggantungkan hidup dari obyek wisata kolam Umbulan ini. Pengunjung ramai saat musim liburan, akhir pekan dan lulusan sekolah. Kolam Umbulan menjadi salah satu tujuan berwisata warga Pasuruan. “Penghasilan Rp 40 ribu per hari. Hari Minggu bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” ujarnya.

Berebut Air Umbulan

Paceklik di Sumber Umbulan
Sejumlah pemuda bermain, berendam dan berenang di kawasan sumber air Umbulan, Pasuruan. (Terakota/Eko Widianto).

Setiap hari Holik, Warga Desa Umbulan Kecaatam Winongan Kabupaten Pasuruan hilir mudik ke rumah  menenteng jerigen berisi air. Mengendarai sepeda motor, ia mengambil air dari rumah anaknya yang juga Kepala Desa Umbulan Solikan Tirtojoyo yang berjarak sekitar setengah kilometer. “Untuk dikonsumsi sendiri dan hewan ternak,” kata Solikan.

Sumur Solikan sedalam 30 meter ini tak hanya digunakan sendirian. Lima tetangganya juga memanfaatkan sumur tersebut. Rata-rata, warga Umbulan menggunakan air minum dari sumur. Setiap sumur digunakan bersama-sama antara 5-20 keluarga. “Warga tak mampu membuat sumur,” ujarnya.

Untuk menggali sumur dibutuhkan dana sebesar Rp 1 juta. Sedangkan, 90 persen dari 640 an keluarga Desa Umbulan dalam kondisi miskin. Mereka bekerja sebagai buruh tani dan bekerja serabutan. Meski air melimpah keluar dari sumber Umbulan, namun lahan warga tetap kering berupa ladang yang ditanami singkong, jagung dan tebu.

Namun, sejak 15 tahun silam seratusan penduduk di RT 3 RW 3 dan RT 4 RW 3 menikmati jaringan air bersih yang dibangun Hutomo Mandala Putra. Dibangun jaringan pipa air minum dari sumber Umbulan ke sebuah tandon. Dari tandon inilah warga menikmati aliran air bersih.

Layanan air minum ini berkah bagi warga, namun sekaligus petaka. Seiring pertambahan penduduk pasokan air berkurang. Warga di kedua rukun tetangga ini kerap terjadi konflik berebut air minum. Mereka saling menuduh yang menjadi penyebab berkurangnya pasokan air. “Jika perkelahian memakai senjata tajam bisa pertumpahan darah,” katanya.

Akibatnya, Solikan sering memediasi warga untuk meredaam amarah menghindari perkelahian. Konflik berebut air minum ini terjadi sejak lama. Ironi, katanya, sumber air Umbulan melimpah tapi warga sering konflik berebut air minum. Menurutnya, faktor kemiskinan pula yang menyebabkan warga tak bisa membangun jaringan pipa mengalirkan air dari sumber Umbulan ke pemukiman warga.

“Dari 18 Desa di Winongan masuk Desa Tertinggal,” katanya. Bahkan, pendidikan warga terbatas lulusan Sekolah Dasar. Karena kemiskinan, Umbulan dikategorikan sebagai daerah rawan kriminalitas seperti pencurian, perampokan dan perampasan sepeda motor. Termasuk saat Tempo memasuki wilayah tersebut, seorang warga setempat mengingatkan bahaya perampasan sepeda motor di siang hari.

“Tingkat kriminalitas tinggi karena alasan perut,” ujar Solikan. Rencana proyek pembangunan jaringan pipa air minum ke Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Pasuruan diharapkan membuka lapangan pekerjaan baru. Tujuannya, untuk menekan tingkat kriminalitas di Umbulan dan sekitarnya.

Tak hanya itu, warga berharap pasokan air gratis ke masing-masing rumah secara gratis. Permintaan ini tak hanya warga Umbulan, tapi juga berdatangan dari Desa sekitar Umbulan antara lain Desa Sidepan dan Kedungrejo. Alasannya, mereka berharap bisa menikmari air yang berasal dari wilayahnya. “Air dari sumber Umbulan merupakan aset kami,” ujarnya.

Pemerintah Desa Umbulan juga meminta bagi hasil atas pengelolaan air tersebut. Dana bagi hasil ini akan digunakan membangun jaringan infrastuktur desa mulai mengaspal jalan dan saluran drainase. Serta untuk membantu pendidikan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan