Orwell

“Pada saat itulah saya mengerti bahwa orang kulit putih menjadi seorang tiran, sebenarnya kemerdekaannya sendirilah yang ia binasakan. Ia menjadi semacam boneka murahan tak berisi”.

Penulis (Sumber: http://kahmijatim.org)

Oleh: M Alfan Alfian*

Terakota.id– Dua karya George Orwell menyesaki ruang baca saya pekan ini. Bukan Animal Farm atau 1984 yang terkenal itu. Tetapi Burmese Days dan sebuah lagi nonfiksi kumpulan esainya. Memasuki dunia Orwell melalui pintu Burmese Days, sungguh menarik. Ada kesamaan-kesamaan tertentu dari Burma, kini Myanmar, dengan Indonesia, konteksnya membaca novel tersebut. Kedua negara sama-sama pernah jadi tanah jajahan bangsa asing. Inggris di Burma, Belanda di Indonesia.

Sentimen pasca-kolonial bisa langsung menyergap kita orang Indonesia, manakala kita baca Burmese Days. Sebagaimana manakala orang Asia Tenggara yang bangsanya juga pernah dijajah bangsa asing membaca novel tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer. Semuanya merekam kenangan yang campur aduk, perasaan anti ketidakadilan, anti diskriminasi, anti penjajahan yang hinggap sebagai residu kolonialisme.

Novel Burmese Days yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Burmese Days: Hari-hari di Burma (Sumber Foto: wikipedia)

Novel semacam Burmese Days atau tetralogi Ananta Toer, tidak dapat diletakkan sebagai semata-mata bacaan hiburan, namun jauh melebihi tujuan itu. Kekuasaan yang pongah, super diskriminatif dan pemitosan mentalitas pribumi malas memang selalu muncul. Tapi Orwel dalam posisi unik. Dia anti penjajahan, justru karena pengalamannya sebagai bagian dari pihak yang menjajah.

Dalam suatu esainya tentang, mengapa dia menulis dijelaskan, bahwa Burmese Days merupakan wujud keinginannya menulis “novel-novel naturalis yang panjang, berakhir tidak bahagia, dan penuh deskripsi panjang lebar dan kiasan memesona.” Burmese Days ditulis ketika dia berusia tigapuluh tahun dan yang pertama.

Ada benturan antar tokoh dalam novel itu. Ada paradoks, misalnya ketika seorang dokter India pandangan-pandangannya lebih membela orang-orang kulit putih bangsa Barat yang menjajah mereka. Ada pula tokoh kulit putih yang benci dengan apa yang dilakukan Inggris di Burma dan sikap kolega mereka yang diskriminatif, tetapi dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan.

Ada tokoh pribumi penguasa lokal yang sangat licik tapi diabaikan saja rekam jejak kelicikannya oleh penjajah. Ada perempuan pribumi yang diambil sebagai simpanan, dan seterusnya. Singkat kata, dengan lihai Orwell memotret detil kemunafikan para tokoh yang menyembul dalam Burmese Days.


Orwell pernah menjadi polisi Inggris di Burma. Tentu Anda ingat (bagi yang pernah membacanya) esainya yang sangat menarik, Shooting an Elephant. Dimuat New Writing, 1936, esai ini mirip cerpen. Tokoh utamanya Orwell sendiri. Alurnya sederhana, tetapi caranya berkisahnya sangat menarik, justru karena subyektivitas Orwell sangat manusiawi. Dia dihadapkan situasi dilematis ketika perasaan anti kolonialnya membuncah di tengah keharusan untuk membunuh seekor gajah.

Mewakili penjajah yang suka membawa perasaannya, Orwell merasa dirinya “dibenci banyak orang” yang mengedepankan sentimen anti Eropa. Orang Burma sebagai terjajah suka mengejek sang penjajah, kendati “secara teritis”, dia “mendukung orang-orang Burma melawan penindas mereka”. Sebagai polisi, Orwell muda dilapori penduduk, ada gajah mengamuk di pasar. Dia pun segera bergerak untuk mengatasi masalah ini. Gajah itu sesungguhnya bukan gajah liar, namun gajah jinak yang sedang berahi. Sebelumnya ia dirantai, sebagaimana layaknya gajah yang akan memasuki musim kawin. Tapi ia berhasil melepaskan diri dan lari meninggalkan mahout atau pawangnya

Orang-orang Burma yang tak memiliki persenjataan tidak berdaya menghadapi amuk gajah. Ia sudah menghancurkan sebuah rumah gubuk bambu, membunuh seekor sapi, dan memakan barang dagangan beberapa penjual buah di pasar, dan meremukkan sebuah mobil. Juga, seorang India, kuli, terbunuh oleh amukan gajah.

Orwell memutuskan memulangkan kudanya, takut ia panik bila melihat sang gajah. Anak buahnya balik ke kantor mengambilkan senjatanya yang lebih serius, sebuah senapan dengan lima selongsong peluru. Orang-orang mengabarkan gajah itu ada di sawah yang berjarak beberapa ratus yard dari tempat itu. Dia, dengan senjatanya, berjalan ke sana, dan praktis seluruh penduduk desa keluar rumah mengikutinya.

Mereka melihat Orwell bersenjata dan berteriak bahwa dia akan menembak si gajah. Tetapi, justru suasana itulah yang membuat Orwell gelisah. Dia tak bermaksud untuk menembak gajah. Dia pakai senjatanya untuk mempertahankan diri manakala diperlukan, dan “siapapun pasti akan merasa gugup jika ada banyak orang yang berbondong-bondong mengikutinya”.

George Orwell adalah nama pena dari Eric Arthur Blair. (Sumber:http://www.blogcdn.com)

Tak lama, mereka menemukan gajah itu. Santai memakan rumput, gajah itu tak menghiraukan ribuan orang di sekitarnya. Orwell tak ingin menembaknya, karena “ketika sedang sarapan dengan damai, si gajah tampak tidak lebih berbahaya dibanding seekor sapi”. Tetapi, ketika Orwell melihat kerumunan di sekitarnya, seolah tengah menonton pesulap yang akan memamerkan sebuah trik.

“Mereka berharap saya menembak si gajah dan saya harus menembak si gajah; saya bahkan bisa merasakan kehendak dua ribu kepala yang mendorong saya maju tanpa bisa ditentang,” catat Orwell yang segera merasa betapa tidak berarti dan sia-sianya penjajahan yang orang kulit putih lakukan di Asia.

Dia merasa hanyalah boneka konyol yang didorong ke sana kemari oleh mereka. “Pada saat itulah saya mengerti bahwa orang kulit putih menjadi seorang tiran, sebenarnya kemerdekaannya sendirilah yang ia binasakan. Ia menjadi semacam boneka murahan tak berisi”. Dan, “karena sudah menjadi syarat dalam kekuasannya bahwa ia harus membuat para “pribumi” terkesan sepanjang hidupnya.”

Dan, tampaknya memang tak ada pilihan lain selain, dia harus menembak si gajah. “Seorang kulit putih tidak boleh merasa takut di depan para “pribumi”, dan, “yang saya pikirkan hanyalah bahwa jika ada masalah, dua ribu orang Burma akan mengejar saya, menangkap saya, dan menginjak-injak saya sampai saya menjadi mayat.”

Hanya ada satu pilihan. Dia mengisi senapan dengan peluru dan berbaring di atas jalan agar bisa membidik lebih baik. Singkat kata, si gajah ditembaki. Setengah jam kemudian gajah itu mati. Remuk redamlah perasaannya. Orang-orang Burma segera mengeroyoknya, dengan pisau dan keranjang, mereka hanya menyisakan tulang-tulangnya.


Setelah itu pergunjingan tiada henti. Si pemilik gajah sangat marah, tetapi dia hanya seorang India, dan karenanya tak bisa berbuat apa-apa. Menurut aturan, gajah yang mengamuk, seperti anjing gila, harus dibunuh. Sikap orang-orang Eropa terbelah dua. Yang sudah tua bilang Orwell benar. Yang muda tidak demikian, mestinya gajah tidak dibunuh meskipun telah membunuh seorang kuli, karena “harga seekor gajah jauh lebih tinggi daripada harga seorang kuli”.

“Kadang, saya bertanya-tanya,” kata Orwell, “Apakah ada orang lain yang mengerti bahwa saya menembak si gajah hanya karena tidak ingin terlihat bodoh.”

Kisah polisi Orwell menembak gajah ini, juga ketika dia mengisahkan tentang bagaimana si miskin mati dalam esainya yang lain, sungguh mampu mengaduk-aduk perasaan pembacanya, ketimbang ketika membaca Animal Farm atau 1984, kendati semuanya menegaskan pesan yang tumpang tindih anti penjajahan, anti penindasan, anti fasis, tetapi pro kebebasan dan kesetaraan umat manusia.

*Dosen di Universitas Nasional dan Pengurus Pusat HIPIIS

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini