Oedipus Digital

oedipus-digital

Oleh : Wahyu Kris A.W.*

Terakota.id–Dengan makin baurnya batas-batas fisikal oleh realitas digital, benturan-benturan sosial lebih kerap terjadi. Entah benturan kelas sosial, ideologi, pilihan politik, maupun benturan budaya. Pada ruang-waktu seperti sekarang inilah dibutuhkan kesahajaan intelektual demi terciptanya komunitas digital-sosial saling menghormati. Jika tidak, bersiaplah menjadi korban oedipus digital.

Oedipus

Penguasa Thebes, Raja Laios, tak sabar ingin mengetahui masa depan janin yang dikandung Ratu Lokaste. Mereka mendatangi Oracle di Delphi.

“Anak ini akan membunuh ayah kandungnya dan mengawini ibunya”

Anak itu kemudian lahir dengan nama Oedipus. Tetapi, untuk menghindari terjadinya ramalan Oracle, Laois dan Lokaste sepakat membuang Oedipus dari Thebes.

Oedipus kecil ditemukan diangkat sebagai anak Raja Polibos dari kerajaan tetangga. Ketika beranjak dewasa, Oedipus meragukan identitasnya sebagai anak Polibos. Pergilah Oedipus ke Thebes untuk mencari jati diri yang sesungguhnya.

Oedipus berjumpa seorang lelaki di persimpangan jalan. Mereka berebut jalan dan terjadilah pertikaian. Oedipus membunuh lelaki itu tanpa menyadari bahwa yang dibunuhnya adalah ayah kandungnya, Raja Laois.

Untuk melanjutkan perjalanan ke Thebes, Oedipus harus menjawab teka-teki dari Sphinx: “Apakah yang berjalan dengan empat kaki pada pagi hari, dua kaki pada siang hari, dan tiga kaki pada sore hari?”

Oedipus menjawab, “Manusia. Manusia berjalan dengan empat kaki saat bayi, dengan dua kaki saat dewasa, dan dengan bantuan tongkat saat lanjut usia.” Sphinx memilih bunuh diri setelah mendapati Oedipus berhasil mengalahkannya. Hadiah yang diterima Oedipus sungguh mengejutkan: ia berhak mengawini Ratu Lokaste yang ditinggal mati Raja Laois.

Begitulah ramalan Oracle tentang Oedipus yang membunuh ayahnya dan mengawini ibunya betul-betul terjadi.

Kisah Oedipus dipenuhi saling tikung antara ramalan dan kematian. Upaya lari dari kematian hanya menimbulkan lebih banyak kematian. Sphinx harus menerima kematian meski tidak masuk dalam ramalan Oracle.

Manusia meminta ramalan tentang masa depan, tapi berupaya menghindar setelah mengetahui ternyata isi ramalannya penuh dengan kematian. Manusia menciptakan media sosial dan meramalkan bahwa kehidupannya di masa depan akan beralih ke media sosial.

Satu hal yang baangkali tidak disadari manusia adalah bahwa media sosial bisa menjelma kehidupan yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Media sosial bisa mengambil alih peran manusia yang menciptakannya.

Media sosial berawal dari kesenjangan antara harapan dan kenyataan manusia dalam merawat relasi dengan sesama. Berkat kecerdasan yang ditanamkan di dalamnya, media sosial bukan hanya hadir dan berhasil, melainkan juga menggeser dan mengambil peran  manusia.

Tidak menjadi persoalan jika yang diambil adalah peran-peran seperti memangkas waktu dan melipat jarak. Menjadi persoalan besar jika yang diambil alih adalah peran-peran hakiki seperti saling memahami kebutuhan emosional dan saling memperhatikan. Begitulah media sosial berubah wujud menjadi ‘oedipus’ digital yang mengawini ibunya (teknologi) dan pelan-pelan membunuh bapaknya (manusia).

Ramalan Oedipus makin terbukti kebenarannya. Oedipus-digital terus melaju memilih jalannya sendiri, mengalahkan serta menikung manusia yang menciptakannya. Media sosial adalah oedipus-digital yang terus menyedot perhatian lalu menggerogoti segala yang dimiliki manusia: uang, waktu, dan keluarga.

Dulu, manusia memanfaatkan media sosial untuk saling bertukar pesan. Sekarang, media sosial memaksa manusia untuk terus berkirim pesan. Mulai dari pesan kebaikan, lalu pesan canda tawa, kemudian pesan-pesan kebencian. Tanpa sadar manusia selalu mengikuti dan mendekati arus deras mematikan yang ditentukan media sosial.

Masih lekat di ingatan kita bagaimana jutaan orang, mulai anak-anak sampai orang dewasa, kecanduan media sosial. Jamak pula terdengar berita-berita media sosial dituding sebagai pemicu rupa-rupa peristiwa berujung kematian. Penipuan, pemerkosaan, penculikan, prostitusi, perundungan, dan persekusi hanyalah sebagian kecil dari banyak kejahatan yang, konon katanya, mengekor di belakang media sosial.

Lantas, dengan cara bagaimanakah kita harus hidup bersama media sosial di jagad digital?Media sosial bisa membawa kita pada kehidupan maupun kematian. Satu-satunya cara untuk membawa media sosial menuju kehidupan adalah dengan mengisinya dengan nilai-nilai luhur kehidupan.

Apabila kita mau jujur, sesungguhnya terlalu banyak kebaikan di media sosial yang terlewat dari pengamatan kita. Banyak orang dari seluruh belahan dunia memiliki kepedulian untuk mewujudkan media sosial yang terus menumbuhkan nilai-nilai luhur kehidupan.

Media sosial adalah jawaban bagi budaya generasi milenial yang tidak terikat pada apapun selain media sosial itu sendiri. Generasi milenial punya kacamata istimewa dalam melihat dunia. Mereka punya hak penuh mendefinisikan diri dan masa depannya sendiri.

Buku Generasi Langgas: Milenial Indonesia (2016) yang ditulis Yoris Sebastian dan Dilla Amran memberikan paparan cukup baik bagaimana generasi milenial mengarungi kehidupannya, baik di dunia nyata maupun di jagad maya. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang jarang bersentuhan dengan media sosial, generasi milenial sebagai  penduduk asli media sosial memiliki karakteristik yang unik.

Pertama, generasi milenial adalah pemuja kebebasan. Media sosial dengan segala fitur kebebasannya tak pelak menjadi rujukan utama mereka. Generasi milenial dan media sosial merupakan senyawa digital yang mustahil diuraikan. Keduanya saling mengikat dan mengikatkan diri membentuk budaya baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, terutama oleh generasi orang tua.

Kedua, generasi milenial adalah penikmat kecepatan. Mereka menyukai segala sesuatu yang serba cepat. Meski kerap dipandang negatif sebagai budaya instan, generasi milenial sejatinya hendak mengatakan bahwa mereka tak suka berbelit-belit.

Untuk mendukung semua itu, tentu saja dibutuhkan kecepatan akses. Itu mengapa kebutuhan primer generasi milenial bukan lagi sandang-pangan-papan, melainkan kelimpahan kuota dan kecepatan data.

Ketiga, generasi milenial adalah penganut keterbukaan. Media sosial yang tertanam dalam gawai memang menyeret banyak anak mengurung diri dalam kamar. Barangkali tudingan itu ada benarnya, namun jangan lupa bahwa generasi milenial juga hidup di jagad virtual. Jadi, sebenarnya mereka sangat terbuka. Berbekal kecanggihan teknologi informasi, mereka membuka diri bagi masuknya banyak hal baru.

Keterbukaan yang dianut generasi milenial makin hari makin nyata di depan kita. Banyak co-working space tersedia di sudut-sudut kota. Bekerja tak lagi harus tersekat meja dan ruang kerja.  Interaksi dengan rekan kerja bisa dilakukan secara terbuka lewat media sosial.

Generasi milenial hari ini boleh memenangi era budaya yang serba bebas-cepat-terbuka. Akan tetapi, mereka perlu mewaspadai media sosial yang bisa menjelma oedipus digital kapan saja. Generasi milenial tak boleh menutup mata bahwa mereka adalah manusia yang tercipta sebagai mahkluk sosial.

Kebebasan perlu dilekati dengan tanggung jawab personal dan kepekaan sosial. Kebebasan yang dipraktekkan hanya untuk memuaskan kepentingan pribadi semata hanya akan menerjunkan manusia ke jurang paling nista. Media sosial mesti dimanfaatkan untuk menghadirkan damai sejahtera bagi semesta.

Kecepatan perlu diimbangi dengan keseimbangan agar generasi milenial tak jatuh menjadi korban. Media sosial yang menuntut respon serba cepat terkadang menjadikan manusia sebagai mahkluk mekanis yang serba cepat. Sebelum manusia menjadi robot yang bisa diremote media sosial, generasi milenial perlu berbenah menjaga keseimbangan. Ada kalanya manusia memelankan detak kehidupan. Bagaimanapun juga, manusia butuh hening sejenak agar setiap titik pengalaman menampakkan dirinya sebagai keajaiban.

Keterbukaan perlu dilengkapi dengan kejelian membedakan mana ruang publik mana ruang privat. Media sosial bisa menjaga sekaligus membongkar segala tentang kehidupan pengguna. Jejak-jejak digital yang tertinggal di media sosial akan terakumulasi membentuk sehimpun big data yang serba terbuka. Di tangan orang-orang jahat, big data bisa diperalat menjadi senjata untuk melakukan aksi-aksi kejahatan. Di tangan orang-orang baik, big data bisa dikonversi menjadi modal untuk merancang berbagai aksi kebaikan.

Sahaja Intelektual

Kecepatan dan kemudahan akses big data yang bertemali dengan media sosial pelan-pelan menyeret pengguna mengidap penyakit baru yaitu narcissus digital. Narcissus era mitologi Yunani menggilai ketampanannya sendiri, sementara narcissus digital menggilai pendapatnya sendiri.

Tiap pengguna media sosial cenderung menyukai pendapat orang lain yang mendukung pendapatnya. Hadirnya berbagai grup media sosial menurut kesamaan tertentu membuktikan hal itu. Jadilah pengguna menganggap pendapatnya sebagai kebenaran tunggal, di luar itu berarti bukan kebenaran dan layak dilabeli salah.

Seiring waktu, pengguna mengonstruksi pikirannya sendiri bahwa dialah yang paling benar, dialah pemilik kebenaran, dan dialah satu-satunya yang berhak memproduksi kebenaran.  Arogansi intelektual semacam ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup bersama dalam komunitas sosial.

Iwan Pranoto, guru besar matematika ITB, menawarkan kesahajaan intelektual sebagai penawar berbagai penyakit narcissus digital akibat limpahan big-data.

Kesahajaan intelektual bisa diartikan sebagai sehimpun kesadaran dalam diri seseorang bahwa di dalam dirinya selalu ada kemungkinan salah. Ia juga sadar bahwa pengetahuannya sangatlah terbatas. Kesadaran ini akan menolong seseorang untuk membuka pikirannya terhadap perbedaan pendapat.

Perekrut di Google bahkan menuntut pelamar baru memenuhi persayaratan memiliki kesahajaan intelektual. Itu adalah cerminan kesediaan seseorang untuk belajar sepanjang hayat.

*Penulis Kepala SMPK Pamerdi Kabupaten Malang, Penulis buku Mendidik Generasi Z &A (2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (2019)

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini