Obituari Randi

obituari-randi
Ilustrasi (Foto : Kumparan).

Oleh : Djoko Saryono*

Terakota.id–Dalam suasana bertuba curiga — dan cuaca hati muskil diterka. Sebutir peluru gelisah sejak dipasang di senapan polisi — bermata nyalang seolah tengah memburu mangsa — melesat amatlah kencang terluput tatapan mata — menuju dada kananmu, Randi: dada mudamu yang bidang — penuh cita-cita pula wacana untuk bekal juang.

Seketika rebahlah kamu — kawan-kawanmu tersedu sambil melempar kecam dan geram kepada aparat yang gemetar melulu — dan aparat sibuk mencari kata-kata paling berdebu. “Maafkan aku, tak hendak aku melepaskan peluru, ke dadamu yang sedang merayakan cita-cita. Tapi, entahlah kenapa pelatukku dirayapi kesal-geram sejak berangkat menuju jalanan bertemu denganmu — juga kawan-kawanmu!”, ratap senapan seusai melaksanakan tugasnya — mengantarkan peluru memasuki dada kanan Randi yang sedang bersorai bangga.

obituari-randi
Selongsong peluru ditemukan mahasiswa UHO di sekitaran lokasi demonstrasi kawasan Gedung DPRD Sultra pada Kamis (26/9/2019). (Dokumentasi Mahasiswa Sultra)

“Segala bantah dan kilahmu, wahai aparat, kini tak berarti bagiku. Sedang suara kawan-kawan hanya angin sejuk yang menambah keteduhan jiwaku. Lantaran kini aku tak membutuhkan semua — yang kubutuhkan hanya rapal doa — untuk energi perjalanan jauh pulang ke negeri baka — tempat kalian semua nanti denganku bakal bersua! Kini aku pergi — meninggalkan dunia yang bukan lagi untuk kutinggali — terima kasih aparat yang cuma tahu bakti — maka pada kalian aku tak perlu mengalirkan benci, malah cinta kuberi. Kini aku permisi — pulang ke rumah abadi — terima kasih kawan-kawan telah mempertunjukkan arti sebuah eksistensi”, kata ruh Randi meninggalkan dunia — yang tengah menjadi ajang berbantah tanpa bahasa cinta.

Dan hiruk-hiruk pikuk di jalanan tak juga mendengarnya — semua orang masih sibuk mencari tameng kata-kata. Percakapan retak di sepanjang garisnya — semua diri berlari mencari ruang sembunyi di dalam kilah dan alibi kata.

Cuma awan-awan di langit mengibaskan birunya sebagai tanda duka — cuma matahari mengiringkan kepulangan Randi dengan meneduhkan sinarnya. Suasana di simpang tanya — keadaan akan berjalan kemana. Ada bimbang sedang mengepung? Yang di puncak kuasa mungkin tercenung — entah bingung atau mencari siasat lancung.

*Budayawan dan Guru besar Sastra dan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini