Nikmatnya Penganan Lawas nan Langka, Blondo

Warga Bali memproduksi minyak kelapa rumahan. (Foto : Radar Bali).

Oleh : M. Dwi Cahyono

Lengo Klentik beserta Blondonya

“Dasar utek-utek blondo
Pantesan dhedhel pikir”.

Terakota.id–Kalimat di atas konon diucap sebagai umpatan “sarkas (kasar)” tertuju pada orang yang “telmi (telat mikir)” atau tak mudah paham, yang acap diistilahi dengan “dhedhel“. Kualitas otak yang demikian diibarati dengan “blondo”, yaitu ampas lengo klentik (minyak goreng berbahan santan rebus). Perkataan ibarat (sanepo) “utek blondo” adalah istilah lama, yang dipakai ketika lengo klentik masih diproduksi oleh warga masyarakat. Demikian lengo klentik berhenti diproduksi, maka tidak lagi ada blondo.

Bersamaan itu, sebutan “utek blondo” mulai jarang digunakan, hingga akhirnya nyaris tak terucap. Kalaupun ada yang mengucapkan, ada indikasi bahwa pengucapnya adalah “orang lama (wong lawas)”, yang pernah mengalami “era blondo“.

Sebagaimana disinggung pada alinea diatas, keberadaan blondo tak lepas dari lengo klentik. Yang dimaksud dengan “lengo klentik” adalah minyak goreng yang dibuat dari santan kelapa kental (santen kanil) yang ditebus dan diaduk lama di dalam wajan besar (kawah) hingga menghasilkan cairan minyak.

Dulu lengo klentik adalah hasil produksi rumahan, bukan pabrikan. Ada yang membuat untuk digunakan sendiri (domestikasi), ada pula yang membuat dalam jumlah cukup banyak untuk dijual ke pasar. Dalam konteks terakhir, pembuatan lengo klentik itu adalah pencaharian untuk kepentingan ekonomi, yang dalam istilah lokal Jawa disebut “tukang nggawe lengo“. Adapun berjualan lengo klentik dinamai “dodol lengo“, dan penjualnya dibilang “bakul lengo“.

Dalam bahasa Jawa Kuna sebutannya adalah “kletik”, yang secara harafiah berarti : dimasak (minyak), minyak kelapa (dibuat dengan memasaknya) (Zoetmulder, 1995:.509 ). Kata ini disebut dalam prasasti berbahasa Jawa Kuna yang disimpan di Duitche ( Naersen, 1941), pada [kutipan] kalimat ” ……… wuyah lengo lurungan kletik sereh wwah (lempeng IV.A.4). Pada kutipan kalimat itu, kletik adalah kelengkapan untuk memasak seperti juga garam (wuyah), serentak (sereh), minyak jarak (lengo lurungan) dan buah pinang (wwah). Pemberitaan tentang lengo kletik dalam sumber data sejaman (sinkronis) pada prasasti ini adalah fakta bahwa teknik pembuatan minyak goreng dikuasi oleh masyarakat Jawa Kuna.

Bahwa pada masa Jawa Kuna telah digunakan lengo klentik untuk memasak antara lain didapati infonya di dalam kakawin Sumanasantaka (29 4), yang menyatakan bahwa “….. bahan makanan yang sedang digoreng memperdengarkan suara mendesis, seolah-oleh mengundang orang untuk membelinya (asyang-syang karengo humung sanga-sanganya semu ning aharep katumbasa).

Teks ini memberi kita petunjuk bahwa kala itu makanan dikonsumsi dalam kondisi masak, antara lain dengan digoreng menggunakan minyak, yang sangat mungkin memakai lengo kletik. Bila dibandingkan dengan kebiasaan sekarang, yang biasanya digoreng adalah lauk-pauk, termasuk di dalamnya adalah kerupuk, yang ketika digoreng dan mengembang mengeluarkan bunyi desis.

Menghilangnya Lengo Klentik dan Blondo

Sebutan lama dalam bahasa lokal Jawa untuk minyak goreng adalah “lengo klentik“. Sebutan ini mulai jarang digunakan sekitar tahun 1980-an ketika marak diproduksi, diperjualbelikan dan digunakan minyak goreng berbahan kelapa sawit. Acap disebut dengan “minyak sawit” . Sebelum kelapa sawit banyak dijadikan bahan baku pembuatan minyak goreng, bahan baku yang sering dimanfaatkan adalah daging dari buah kelapa (klopo, krambil, kambil), baik daging buah kelapa segar atau buah kelapa yang telah dikeringkan (kopra atau koprak). Lengo klentik dibuat dari daging buah kelapa segar, sedangkan minyak goreng yang dibuat dari daging buah kelapa yang dikeringkan dinamai dengan “lengo kopra/koprak”.

Kedua istilah itu, yakni lengo klentik dan lengo koprak, digunakan untuk bedakannya dengan “lengo sawit“. Kini buah kelapa sawit cenderung lebih bantak digunakan daripada buah kelapa. Kehadiran minyak sawit berhasil menggusur lengo klentik dan lengo kopra, sehingga kini kalaupun masih ada yang membuat lengo klentik, hasilnya untuk dikonsumsi sendiri, tidak untuk dijual.

Lantaran itu, maka kini lengo klentik langka dijumpai di pasaran. Lengo klentik yang terbilang cepat tengik, menjadikannya kurang disukai publik. Nasib serupa kini juga dialami oleh lengo kopra. Padahal sebagai “negeri nyiur”, Indonedia potensial untuk tampil sebagai produsen terkemuka lengo klentik dan lengo koprak. Tinggal mencari menemukan formulasi agar kedua minyak kelapa itu tak mudah tengik.

Pengolahan kopra di Poliwali, Sulawesi Barat. (Merdeka.com).

Berbeda dengan lengo kopra dan lengo sawit yang merupakan minyak goreng produksi pabrik, lengo klentik diproduksi di lingkungan rumah tangga. Tidak selalu hasil produksi lengo klentik untuk dijual di pasar, namun tidak jarang hanya untuk dikonsumsi sendiri (domestikasi). Dahulu hampir semua keluarga yang memiliki tanaman kelapa manpu membuat lengo klentik sendiri untuk dikonsumsi sendiri pula.

Ada pula yang membuat lengo klentik dalam jumlah cukup banyak, yang sebagian besar hasilnya dijual ke pasar. Pembuat lengo klentik dinamai “tukang nggawe lengo klentik“, sedangkan penjualnya disebut “bakul lengo klentik“. Sebenarnya, lengo klentik tidak hanya digunakan untuk goreng-menggoreng, namun bisa juga dipakai untuk minyak rambut (lengo cem-ceman) dan minyak oleh (minyak telon). Selain itu, lengo klentik Nusa juga dipakai sebagai bahan bakar (selain minyak jarak) pada lampu minyak (blencong, senthir, ublik, cempluk) dengan nyala api tak berefek jelaga (angus).

Seiring dengan semakin berkurangnya tukang nggawe lengo klentik di masyarakat, menghilang pula blondo yang nota bene adalah ampas dari lengo klentik. Sejalan dengan itu pula, sebutan “utek blondo” kian menghilang di publik. Bahkan, memasuki tahun 2000-an lengo klentik dan blondo boleh dibilang “lenyap di publik”. Kini keduanya tinggal kenangan di dalam memori orang-orang yang pernah menggunakannya.

Sedangkan generasi kelahiran tahun 1980-an dan sesudahnya, tak lagi mengenalnya. Lengo klentik dan blondo tinggal menjadi kisah masa lalu, karya produktif para leluhur dalam memenuhi keperluan goreng-menggoreng. Bagaimanapun juga dalam kurun waktu yang amat lama (Masa Hindu-Buddha hingga kini) lengo klentik mengkontribusikan beragam fungsi bagi keperluan hidup manusia.

Pembuatan dan Pengkonsumsian Blondo
1. Proses Pembuatan Blondo

Setelah santan kental direbus dan diaduk dengan spatula (suthil) di dalam wajan besar (kawah, jedi) hingga beberapa lama pada tempat pembakaran (pawonan) berbahan kayu bakar, lama kelamaan berubah menjadi minyak (lengo) klentik yang jernih berwarna coklat kekuningan atau kuning keputihan. Minyak yang telah jadi itu lantas diambil dengan gayung ditempatkan ke wadah tampung minyak. Ditiriskan. Pada bagian dasar kawah terdapat endapan kental (blendet) yang berwarna kehitaman, bercampur dengan cairan minyak. Bagian inilah yang setelah dipisahkan dengan minyak dengan penyaringan bakal menghasilkan blondo.

Alat penyaringnya berupa penbungkus bunga kelapa (manggar), yang menyerupai anyaman rapat serat-serat kuat, yang disebut “tapas”. Oleh karenanya, penyaringan lengo klentik dinamai “napis (n+tapis)”. Adapun caranya adalah blendet lengo klentik diambil dari dasar kawah, kemudian dituangkan ke tapas yang digelar di sisi atas wadah tampung minyak.

Setelah blendet cukup atus, endapan tersisa diratakan dan dibungkus rapat dengan tapas dalam bentuk persegi panjang memipih. Agar minyak yang terkandung benar-benar atus, maka blendet minyak terbungkus tapas itu dipampatkan (dipres) dengan menggunakan alat pengepres dari bilah-bilah kayu vertikal dalam.suatu kerangka. Kekuatan pengepresannya ditingkatkan tahap demi tahap dengan semacam “pasak kayu”. Pada bagian bawah alat pengepres ditempatkan wadah penampung tetesan minyak.

Jadah bertabur blondo. (Foto : blontea.wordpress.com).

Umumnya pengepresan dilakukan semalaman. Pada pagi harinya, endapan minyak itu benar-benar atus dan mendingin. Endapan minyak yang telah disaring, dibungkus dengan penyaring, dan dipres semalanan menghasilkan “ampas minyak” dalan bentuk empat persegi memipih, yang telah mengeras dan mendingin. Selanjutnya bungkus yang berupa penyaring minyak itu dibuka, dan menghasilkan apa yang dinamai “blondo”. Nama lain darinya adalah “galendo dan kethak”, atau ada pula yang menyebutnya dengan “tai minyak”. Demikianlah, blondo merupakan residu (ampas) dalam proses pembuatan lengo klentik.

  1. Pengkonsumsian Blondo

Bagi orang Jawa tertentu, ampas alah bahan makan yang turut dikonsumsi. Misalnya, ampas kelapa digunakan untuk campuran makanan bothok atau gembrot. Ampas kedelai bisa dibuat menjadi tempe menejes. Ampas kacang dibuat menjadi tempe kacang. Ampas lengo klentik, yang berupa blondo pun acap juga dikonsumsi. Bisa dibuat menjadi bothok (gembrot) blondo atau konsumsi mentahan.

Tanpa dimasak pun blondo bisa dimakan. Oleh karena bahan baku blondo adalah kelapa, maka blondo yang matang yang telah dipampatkan berwarna coklat kehitaman dengan rasa gurih. Adapun blondo yang belum begitu matang berwarna coklat pucat dengan rasa gurih-manis.

Ada banyak menu mengkonsumsi blondo. Yang paling mudah adalah blondo dipotong-potong persegi pipih, dan langsung dimakan dengan digigit sedikit demi sedikit. Ada pula blondo yang telah dipampatkan itu dilembutkan terlebih dahulu, lantas dicampur gula putih atau gula merah untuk memperoleh rasa gurih-manis.

Blondo juga nyaman dimakan bersama jadah (juadah) atau gethuk, dengan mencocolkan jadah pada plondo yang telah dilembutkan. Terkadang blondo yang dilembutkan dimakan dengan nasi hangat dan sambal bawang. Jika tanpa nasi, ke dalam blondo dicampurkan potongan cabe rawit dan irisan bawang merah. Lebih enak lagi apabila blondo dijadikan bahan dasar untuk diolah menjadi bothok (gembrot) blondo.

Malahan, di daerah Gundanglegi sub-area selatan Malang, blondo dimasak sebaga sayur pedas. Pendek kata, sebagai penganan blondo dapat dihadirkan ke dalam beragam menu makanan, tudak terkecuali dujadikan semacam lauk.

Blondo atau kethak, ampas olahan minyak kelapa. (Kulinerbangsakoe.blogspot.com).

Selain dibuat sendiri, konon blodo dapat pula di beli di pasar. Tak sedikit yang berminat membeli blondo, karena penganan ini cukup disukai oleh anak-anak. Penulis termasuk penyuka kuliner blondo, yang mengkonsumsinya tanpa beli di pasar, karena konon Mbah Putri yang tinggal di Desa Temon (kini nama dusun di Desa Sukoreja) Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung adalah produsen lengo klentik. Hasil produksi lengo klentik rumahan dijual ke Pasar Kucen di Karangrejo atau ke Pasar Wage di pusat kota Tulungagung.

Tempurung kelapa sisa produksi lengo klentik oleh Mbah Kakung dibuat menjadi aneka alat rumah tangga untuk dijual ke Pasar Kucen, Pasar Wage, atau bahkan dipasarkan ke Surabaya, dengan mengangkutnya pakai rakit bambu menyusuri aliran Bengawan Brantas. Tergambar bahwa dalam pedayagunaan kelapa, bagian demi bagian buah kelapa termanfaatkan. Daging buah kelapa dibuat menjadi lengo klentik, ampas lengo klentik yang berupa blondo menjadi bahan makanan, dan tempurung kelapa dapat dijadikan peralatan rumah tangga.

Antara “Utek Blondo” dan Dhedhel

Perkataan “utek blondo” adalah umpatan, yang karenanya terkesan “sarkas (kasar)”. Orang tertuju bisa tersinggung bahkan marah begitu otaknya dikatai-katai bagai “blondo”, yang nota bene adalah ampas lengo klentik. Umpatan yang serupa itu adalah “utek lethek“, dimana lethek adalah ampas dari adonan kopi, dan hitam pula warnanya. Otak demikian acap pula diibaratkan dengan otak binatang kecil, seperti “otak udang” atau “otak tengu”, ataupun diibaratkan dengan otak binatang besar yang dungu, yaitu “utek kebo“.

Terkadang dengan mereposisi lokasi otak dari kepala ke lutut (dengkul), dengan sebutan “utek dengkul”. Ungkapan sebagai kata umpat itu bertolak belakang dengan perkataan “otak cemerlang, otak encer, otak briliant” atau mengumpamakan dengan otak ilmuwan hebat “otak Einstain” atau dengan “otak Habibi” — menurut Iwan Fals dalam suatu syair lagunya.

Pengumpamaan otak manusia dengan ampas (blendet) bahan terpakai, yakni ampas lengo klentik dan blendet kopi ada baiknya tak dingkapkan. Begitu pula pengumpsnaannya dengan otak binatang (udang, tengu, kerbau). Bagaimanapun juga, sebagai “homo sapiens”, manusia dicirikan sebagai “makhluk berotak” guna membedakan dengan binatang yang juga punya otak.

Kalaupun berfikir tingkat berfikir dari seseorang tidak cerdas, kurang cepat atau tidak mendalam untuk memahami sesuatu, namun bukan berarti ia tak berotak (ra nduwe utek) atau berotak ampas ataupun berotak hewan tertentu. Letak otaknya tetaplah di kepala, bukan beralih ke lutut.

Kini ketika blondo telah tiada, seiring tiadanya lengo klentik, orang yang diumpati dengan “utek blondo” belum tentu marah, karena oleh jadi ia tak tahu “apa blondo itu”. Umpatan ‘utek Blondo” adalah ungkapan sindiran yang kasar di masa lalu, ketika masih ada blondo, yang kini telah tidak kedengaran lagi. Namun, berdasarkan pengalaman penulis, yang ketika kecil suka makan blondo, ternyata makan blondo tak menyebabkan “berotak Blondo”, he he he nuwun.

Sangkaling, 3 Desember 2018
Griya Ajar CITRALEKHA.

*Arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini