Nikmati Teater Digital Caligula Karya Albert Camus

nikmati-teater-digital-caligula-karya-albert-camus
Tangkapan layar adegan Teater Digital Caligula Karya Albert Camus.

Terakota.idKamateatra Art Project bekerjasama dengan Teater Komunitas Malang menyajikan teater digital berjudul Caligula. Sutradara Anwari menafsir ulang naskah drama Caligula karya Albert Camus yang dirilis 1938. Digarap dalam durasi pendek 9 menit 31 detik, mengambil gagasan yang penting dalam naskah.

Pertunjukan sengaja mengambil bahan dari naskah besar yang ada. Selain menafsir ulang juga menjadi momen penting sutradara atas esensi sebuah naskah. Pertunjukan tanpa kata oleh aktor tunggal, FN Bagaskara.

Albert Camus menghadirkan sosok Caligula, seorang tiran yang terobsesi atas hal di luar norma. Lantaran kedukaan yang dialaminya atas kematian sang adik yang dicintainya. Duka tak sekadar duka, namun membawanya pada pertanyaan atas esensi hidup, takdir, dan kematian.

Eksistensialisme atas kehidupan dengan berbagai aspeknya meliputi ekonomi, sosial, politik, ketatanegaraan, hingga kebudayaan. Ini yang mendasari Anwari menggarap pertunjukan.

Melalui pertunjukan tanpa kata oleh aktor tunggal, Anwari menghadirkan beberapa simbol yang dapat mewakili eksistensialisme. Kemudian menjadi isu yang tidak terikat masa. Seseorang duduk di meja makan. Tatapannya menyiratkan sesuatu, tidak hanya bayang kematian seseorang yang dicintainya. Ia kemudian makan kerupuk dengan rakusnya.

Kerupuk, kata Anwari, mewakili ambisi yang tidak bisa membuat orang kenyang dan malah membuat semakin haus. Simbol lain adalah topeng yang dikenakan aktor tunggal. “Topeng dipakai untuk menyembunyikan ketakutan besar dalam dirinya dengan membuat ketakutan pada orang lain,” kata Anwari dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Eksistensialisme dalam skala yang lebih luas dapat dijumpai dalam peran negara. Negara sebagai lambang otoritas tertinggi kerap mengendalikan situasi dengan sejumlah kontrol. Di sinilah eksistensialisme dalam bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, hingga kebudayaan akan secara masif mengikuti.

“Kami berharap pertunjukan teater digital ini dapat dimaknai dalam konteks eksistensialisme yang luas dan tidak terbatas pada isu-isu tertentu,” ujarnya. Simbol-simbol yang dihadirkan dalam lakuan aktor hanya menjadi keran pembuka atas tafsir yang lebih luas.

Pertunjukan diproduseri Elyda K. Rara, penata artistik Bedjo Supangat, videografer Sofyan Joyo Utomo, dan penanggung jawab logistik Ken Nadya Anggraeni.

Pertunjukan ini dirilis Kamis, 18 Juni 2020, di akun YouTube Kamateatra Art Project pukul 20.00 WIB. Kamateatre Art Project menerima segala bentuk apresiasi atas pertunjukan yakni tertulis maupun video yang dapat dikirim melalui surel kamateatraartproject@gmail.com.

Juga terbuka donasi bagi siapa saja yang ingin mendukung keberlangsungan proses berkesenian pertunjukan digital para seniman yang terlibat.  Donasi bisa disalurkan melalui rekening BRI 223701004555505 atas nama Ken Nadya Ayu Anggraeni. Konfirmasi donasi dapat melalui nomor WA 082229562629.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini