Ngaji Urip : Forum Dialektika yang Terbuka

ngaji-urip-forum-dialektika-yang-terbuka
Salah satu adegan reportoir kecil Ritus Travesty dalam lakon “Besut – Rusmini, Ngaji Orip” (Foto : Hasbilah Ahmad F.).

Oleh: Hasbilah Ahmad F.*

Terakota.id–Sebuah reportoir kecil anggota baru teater IDEōT, Mifanti membuka Ngaji Urip #6 di sanggar teater IDEōT Perumahan IKIP Tegalgondo Asri Blok 1D/09 Tegalgondo, Dau, Kabupaten Malang, Sabtu Legi, 20 Maret 2020. Penampilan Monoplay pendek yang berjudul “Emak…!”, berdurasi sekitar enam menit, menarik perhatian jamaah Ngaji Urip. Tuan rumah Ngaji Urip sekaligus pemimpin umum Teater IDEōT, Moehammad Sinwan alias Lekboss menjelaskan reportoir kecil yang ditampilkan salah satu calon aktor Teater IDEōT itu hasil latihan eksplorasi berimprovisasi.

“Ide penampilan tadi pure ide dia (Mifanti). Latihaan eksplorasi berimprovisasi, sebagai salah satu metode pengembangan kemampuan calon aktor, tiba-tiba dia menemukan ide yang cukup menarik itu,” katanya. Akhirnya, ia ditawari tampil di acara pembuka, digembleng selama seminggu. Jadilah.

ngaji-urip-forum-dialektika-yang-terbuka
Mifanti, dalam salah satu adegan Reportoir Pendek”Emak…!” (Foto : Hasbilah Ahmad F.).

Sebelum dihelat jamaah Ngaji Urip yang beragama Islam mengawali dengan salat maghrib berjamaah. Dilanjutkan zikir dan doa bersama, mendoakan keselamatan dan kesehatan bersama terkait wabah Corona. Doa dipimpin Gus Ferry selaku imam tetap dzikir Ngaji Urip. Diakhiri dengan menikmati hidangan sembari beramah-tamah.

Lantas video profil Teater IDEōT diputar selama hampir setengah jam. Video menyedot perhatian hadirin yang sebagian besar baru hadir pertama kali. Menyaksikan tayangan proses kehidupan dan latihan Teater IDEōT, beserta cuplikan karyanya.
.
Sajian berikutnya performansi Ritus Travesty, dengan lakon “Besut – Rusmini, Ngaji Orip”. Pentas pendek ludruk besutan yang dimainkan Meimura. Dia yang beberapa tahun “turun tangan” mendorong bangkitnya kembali kelompok ludruk di Surabaya bernama Ludruk Irama Budaya Nusantara.

Didukung Mbah Tribroto Wibisono seorang tokoh tari “Wetanan” dari Surabaya yang memerankan tokoh Man Jamino dan tokoh ludruk Gondang Legi, Kabupaten Malang Cak Marsam memainkan gender dan penembang yang membuat suasana tampilan “Ritus Travesty” semakin “nyes” dan magis. Meimura memerankan peran ganda, yakni peran Besut dan peran Rusmini.

Sebuah karya pementasan yang telah disajikan di berbagai tempat oleh sang tokoh Teater Ragil. Tujuannya ntuk memberi peringatan dan mengingatkan kepada para generasi penerus atas kelangsungan kesenian Ludruk. Termasuk kepada para pemegang kebijakan dan secara lebih luas kepada masyarakat Jawa Timur, bahwa kesenian ludruk penuh problema, tarik-ulur.

Ekspresi Meimura, dalam Ritus Travesty: “Besut – Rusmini, Ngaji Orip” pada Ngaji Urip # 6 Teater IDEōT, Jumat, 20 Maret 2020. (Foto : Hasbilah Ahmad F.).

Jika tidak benar-benar diurus, maka bakal hilang. Bakal lenyap. Sebagaimana ditekankan pada dialog kunci akhir pementasan tersebut: “Iki duwekmu…! Tilas tracake leluhurmu! Lek gak mbok openi, bakal kabur kanginan…!” (Ini milik kalian! Jejak-jejak para Leluhur kalian! Jika tidak kalian pelihara, kalian jaga, bakal hilang lenyap,!” kata Maimura dalam pementasan malam itu.

Sajian penuh pesan moral dan mengandung warning keras bagi bangsa ini. Terutama masyarakat Jawa Timur, berlangsung hikmat dan penuh simbolik.

***

Ngaji Urip kali ini, spesial karena bertepatan dengan peringatan Isro’ Mi’roj. Dihadiri tokoh Ludruk dan Teater Ragil Surabaya Meimura; anggota DPRD Kota Malang Komisi D, Eko Hadi, tokoh seni dan Direktur Utama PDAM Kota Malang M. Nur Muhlas; tokoh seni-budaya Kabupaten Malang, dan Kepala Sekolah SMAN 9 Malang . Teguh Pramono; alumnus Teater IDEōT dan dosen Unikama, Waji ; sastrawan dan dosen Sastra FIB Universitas Brawijaya Yusri Fajar; dan beberapa tokoh serta aktivis teater dan aktivis lainnya.

Sejumlah jamaah mengurungkan hadir lantaran merebak wabah virus Corona (Covid 19). Sejumlah tokoh yang membatalkan hadir antara lain Ken Zuraida. Sehari sebelum acara terpaksa membatalkan hadir lantaran perkembangan wabah corona yang tak memungkinkan istri mendiang WS Rendra ini untuk berangkat. Istri almarhum Sang Burung Merak ini awalnya merupakan tamu khusus.

Moehammad Sinwan alias Lekboss memaklumi dan memahami batalnya Ken Zuraida. “Batalnya Mbak Ida disikapi sebagai sebuah kondisi yang lazim dan sudah seyogyanya,” katanya. Meski Ken Zuraida dari Bengkel Teater Rendra tak hadir, namun tak membatalkan acara yang rutin dilangsungkan sebagai sikap istiqomah. Dengan pemakluman, kewaspadaan dan kehati-hatian acara Ngaji Urip tetap dilangsungkan dan dihadiri sekitar 15 orang dari 25 orang undangan yang sebelumnya telah terkonfirmasi.

***

Sebelumnya Moehammad Sinwan alias Lekboss tuan rumah “Ngaji Urip”, pegiat seni Ludruk Meimura dan seniman sekaligus Direktur Utama PDAM Kota Malang M. Nur Muhlas menghadiri Jagongan Budaya di Arema-TV, Kamis, 18 Maret 2020. Lekboss menyampaikan jika forum Ngaji Urip ini adalah sebuah forum terbuka. Terbuka untuk siapa saja, membahas apa saja, dan terbuka dalam metode dan bentuk dialektikanya.

Setiap jadwal acara tak ada tema yang ditentukan. Tema bisa saja muncul saat forum Ngaji Urip berlangsung. Konsepnya, Ngaji Urip bukan semata-mata “urip” (hidup) itu untuk “ngaji”. Tapi justru sebaliknya, “ngaji” untuk “urip” (hidup). “Jadi, ikhtiar kita untuk ngaji di sini, ya ngaji tentang ‘urip’,” katanya.

Artinya urip atau hidup harus kita sikapi secara utuh, maka ngaji urip itu adalah ngaji tentang apa saja yang berada dalam wilayah ‘kehidupan’ itu sendiri. Oleh sebab itu, kegiatan ngaji untuk “urip” atau kehidupan kita. “Dalam konteks berteater, kita memiliki prinsip: bukan hidup untuk berteater, tapi berteater untuk hidup,” ujar Lekboss menambahkan.

Lekboss sedang memimpin dialog dalam acara inti Dialektika Ngaji Urip. (Foto : Hasbilah Ahmad F.).

Sebuah dialog mengalir di antara sekitar 15 jamaah. Tentang wabah Corona yang mencekam Indonesia, tentang sikap bijak dalam kehidupan. Sampai pada topik tentang pelestarian dan revitalisasi seni tradisional, khususnya seni ludruk.

Sempat terjadi dialektika antara dua tokoh ludruk dan seni tradisi, Mbah Tribroto dan Cak Marsam dengan Lekboss, tentang bagaimana seharusnya “ngopeni” dan mempertahankan seni tradisi. Dosen sastra Indonesia Universitas Kanjuruhan Malang, Gatot Sarmidi turut angkat bicara. Terjadilah pergesekan pemikiran yang mengedepankan konsep pelestarian dengan pemikiran yang mendorong untuk revitalisasi seni tradisi, khususnya ludruk.

Ludruk itu adalah salah satu wujud seni pertunjukan. Seni pertunjukan secara ilmu atau konseptualnya disebut seni teater. Kata teater berasal dari bahasa Yunani, dari kata theatron, turunan dari kata theaomai, yang secara etimologis berarti: takjub, memandang.

“Ngaji Urip #6” di tengah-tengah keprihatinan dan kewaspadaan wabah Covid-19. (Foto : Hasbilah Ahmad F.).

“So, teater itu makna dasarnya adalah sesuatu yang menakjubkan ketika ditonton,” katanya. Maka, agar ludruk tidak ditinggal masyarakatnya, maka harus tetap bisa hadir dengan berkualitas dan menakjubkan. Oleh sebab itu, ludruk harus terus belajar dan mempelajari kondisi kehidupan sesuai zaman yang sedang berlangsung. Ludruk tidak boleh mengharamkan dirinya untuk terus memperbaiki kondisi dan perfomansinya.

Jadi, ludruk harus mampu hidup pada saat dan tempatnya. Ludruk harus tetap bisa menaklukkan ruang dan waktu, seperti kehebatan ludruk-ludruk zaman terdahulu.” Ludruk lahir dari masyarakat, dan harus tetap diminati oleh masyarakat.” ■■ (Malang, 23-3-2020).

*Penulis aktif di Komunitas Literasi Perpustakaan Trotoar Malang, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini