Ngabuburit Bareng Sineas Malang

Para sineas, sastrawan, komikus dan seniman di Malang membincangkan sinema di Malang. (Foto : Arief Akhmad Yani)

Terakota.idAlunan gamelan menguar di balik bangunan berarsitektur Jawa. Rumah joglo. Kedai Kopi Sontoloyo ini berdiri di antara pepohonan jati. Berdinding papan kayu dipoles cat warna biru. Di tengah rumah joglo, sejumlah pemuda duduk meriuang dengan meja khas Jawa, Senin 19 April 2021. Menjelang berbuka mereka membincangkan mengenai dunia seni, musik dan film.

Tuan rumah adalah penggerak jejaring komunitas film Indonesia Arief Akhmad Yani. Ia mengumpulkan beberapa pegiat sastra, musik, komik dan film. Tujuan utama berkumpul untuk bersilaturahmi. Sekaligus menyambut kepulangan sineas asal Malang, Ifan Adriansyah Ismail.

“Kita merangkai sineas Malang yang bergerak di Malang maupun luar Malang. Selain itu juga untuk menjalin komunikasi, biasanya sesama sineas tak saling mengenal,” ujar Yani membuka perbincangan.

Pegiat film dari komunitas Lensa, Mata Arfan Adhi Pradana mengisahkan problem yang dihadapi insan perfilman di Malang Raya. Problem pertama, katanya, pendanaan. Lantaran produksi film terbilang cukup mahal. “Syuting film pendek membutuhkan bujet rata-rata Rp 50 juta. Paling tidak di atas Rp 25 juta dengan delapan kru,” ujar Arfan.

Pegiat film dari komunitas Lensa Mata Arfan Adhi Pradana dan penulis skenario film Ifan Ardiansyah Ismail membincangkan sinema. (Foto : Arief Akhmad Yani)

Menghadapi kondisi seperti ini, kata Arfan, akhirnya mengurangi scene terpaksa dilakukan untuk mengurangi biaya produksi. Seperti produksi film Seseorang Yang Menutup Layar (SYML) yang tengah dikerjakannya. Arfan sebagai produser harus memutar otak untuk menghemat biaya.

Film yang disutradarai Nashiru Setiawan ini telah syuting Maret 2021. Akhirnya mengubah dari awal 18 scene menjadi delapan scene. Film ini memenangkan pitching Europe on Screen 2020 ini telah memasuki tahap editing.

Problem lain yang dihadapi sineas di Malang adalah honor kru yang kurang layak. Arfan menceritakan produksi film pendek iklan, sutradara memperoleh honor paling banyak Rp 3,5 juta. “Pemain pun tak jauh berbeda, reading dua minggu sebelum syuting. Bayaran paling banyak Rp 1,5 juta,” ujar Arfan.

Distribusi film menjadi kendala lainnya. Film produksi lokal yang sempat ditayangkan di layar bioskop dikontrak dengan nilai Rp 100 juta. Namun, masa kontrak copyright selama 10 tahunan.

Pemerintah Perlu Turun Tangan

Di Malang juga belum ada lembaga khusus yang mewadahi sineas secara keseluruhan. Selama ini komunitas bergerak sendiri-sendiri. Dewan Kesenian Malang melalui Badan Pengurus Harian (BPH) Film yang diharapkan menjadi media konduktor, nyatanya kini berada dalam kondisi gamang. Seolah tak punya kuasa sebab sampai setahun pasca Musyawarah Seniman hingga kini belum memiliki Surat Keputusan.

Arfan menambahkan Pemerintah Kota Malang harus terlibat mendukung sinema di Malang.  “Bisa mencontoh kebijakan pemerintah Yogyakarta. Ketika ada produksi film, mewajibkan kru film 25 persen warga Yogya,” ujar Arfan.

Kebijakan yang mendukung sineas semacam ini dinilai Arfan lebih realistis daripada program pengajuan pendanaan.  Peralatan syuting juga dikeluhkan Arfan, “satu rental di Malang belum ada yang menyediakan alat syuting yang benar, proper, sesuai kebutuhan,” katanya.

Berbagai kendala ini pada akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi sineas. Apalagi di Malang Raya para sineas berkarya secara swadaya. Potensi iklim perfilman di Malang Raya jika dirunut dari lembaga pendidikan yang menyediakan jurusan atau peminatan tentang film semakin berkembang.

Para sineas, sastrawan, komikus dan seniman di Malang membincangkan sinema di Malang. (Foto : Arief Akhmad Yani)

Sejumlah Perguruan Tinggi memiliki jurusan Ilmu Komunikasi selalu mengadakan praktikum produksi film. Terdapat juga jurusan D3 Film dan televisi. Beberapa jurusan mengizinkan tugas akhir menggunakan karya mahasiswa dalam bentuk produksi film, beberapa juga melalui jalur prestasi dalam perfilman. Bahkan ada SMK jurusan perfilman dan komunitas film di Malang Raya.

Ifan Ardiansyah Ismail dan Penulisan Skenario Film

Ifan Ardiansyah Ismail yang sempat menamatkan sekolah di SMA Negeri 3 Kota Malang mengisahkan awal menjadi penulis skenario film dari menulis blog. Ifan menorehkan banyak prestasi dalam perfilman nasional, terutama terkait penulisan skenario.

Ia memenangkan Festival Film Bandung 2018 untuk kategori Penulis Skenario Terpuji Film Bioskop dalam film Sultan Agung:Tahta, Perjuangan dan Cinta. Filmnya Habibie dan Ainun memenangkan Piala Citra 2018 dalam kategori Penulis Skenario Terbaik.

Pada penghujung forum Ifan Ardiyansyah Ismail menceritakan kisah penyusunan naskah film Sultan Agung. Pemilihan angle penceritaan sejarah menurutnya berdasar koordinasi dengan produser pelaksana. Ia mengatakan sejarah Sultan Agung yang dimunculkan dalam filmnya mengulik lebih dalam daripada yang selama ini dituliskan dalam  buku pelajaran sekolah.

“Ditampilkan juga sisi kontroversi, di akhir film ditunjukkan alasan kekalahannya (Sultan Agung). Disajikan suara-suara yang nggak setuju dengan penyerangan ke Batavia,” ujar Ifan.

Melalui film Sultan Agung, Ifan memiliki visi untuk memunculkan tokoh dengan karakter yang seimbang. Tak terpatok pada batas hitam-putih, baik-jahat. Penghianat ia tampilkan dengan alasan valid. Ia berharap dengan metode penokohan seperti ini, penonton Indonesia tak selalu memandang tokoh hanya dari satu stereotype, jahat atau baik.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini