New Normal atau Renormal?

new-normal-atau-renormal
Ilustrasi : santacruzsentinel.com

Terakota.id–Beberapa waktu lalu saya iseng membuka twitter. Seperti biasanya saya melihat apa yang sedang menjadi trending topic. Saat saya membuka hastag twitter, yang sedang menjadi trending topic  berkaitan dengan kata “new normal”. Entah itu hastag #RakyatDukungNewNormal dan #RakyatSiapNewNormal. Atau hastag lain #newnormalpulihkanekonomi.

Seperti biasanya saya melacak siapa saja yang gencar melakukan kampanye hastag tersebut. Berkaitan dengan hastag di atas saya menyimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka yang sedang menuliskan hastag berasal dari pendukung pemerintah, simpatisan pemerintah, atau segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Tentu saja ada beberapa yang netral.

Yang menarik, diantara yang menulis hastag itu akun robot.  Bagaimana mendeteksinya? Saya mencoba untuk melacak secara sederhana. Beberapa akun robot yang mendukung hastag itu ternyata narasi tulisannya hampir sama, dibelakangnya ditambah dengan hastag tersebut. Akun robot ini bekerja tentu sesuai dengan “petunjuk” majikannya. Sama dengan robot sangat tergantung yang menjalankan robotnya itu.

Bisa jadi pelacakan saya ini tidak seratus persen benar. Tetapi jika Anda tidak percaya tengoklah hastag-hastag tersebut. Siapa yang gencar meneriakkan new normal dan bagaimana jejak digital mereka selama ini?

Problematis

Sekarang lupakan soal hastag tersebut di atas. Kehidupan yang berbeda pasca pandemi covid-19 sebuah keniscayaan. Ia akan ada dan tak bisa dihindari. Tentu ada beberapa perubahan-perubahan yang membuat masyarakat akan berperilaku berbeda dengan sebelum pandemi. Bisa berbeda dalam aktualisasinya, meskipun substansinya bisa jadi sama.

Kampanye new normal pun gencar dilakukan. Bahwa itu menjadi sebuah kenyataan yang harus dimaklumi oleh masyarakat. Kenapa masyarakat? Karena kampanye ini berasal dari pemerintah agar masyarakat memaklumi kondisi yang sedang dihadapi, mungkin juga kondisi yang ada pada diri pemerintah.

Termasuk memahami bahwa kita sudah selayaknya “berdamai” dengan virus covid-19 ini. Sementara ada sebagian yang masih getol meneriakkan untuk tak menyerah dan memilih dengan melawan virus ini semaksimal mungkin. Itulah pro kontra yang muncul.

Satu hal yang selalu sama, bahwa masyarakat diminta memaklumi apa yang sedang terjadi. Termasuk kondisi ekonomi sebagai dampak dari pandemi. Seolah ingin dikatakan bahwa masyarakat sudah seharusnya memahami pemerintah yang sudah kewalahan menanggulangi pandemi ini.

Maka, seandainya ada keputusan-keputusan yang “melanggar hukum” pun perlu dimaklumi. Tentu masyarakat akan patuh dan maklum, jika memang selama ini kebijakan pemerintah selalu memihak masyarakat. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang patuh. Jika tidak patuh mereka akan takut dicap sebagai pembangkang. Melakukan kritik saja hampir tidak berani karena akan dianggap sebagai “haters”, tak suka pemerintah, dituduh “mengail di air keruh”, “kebelet berkuasa” dan stigma buruk lainnya. Pokoknya jangan mengkritik jika masyarakat tidak mau “kena batunya”.

Wajah Baru Stok Lama

Apakah kita benar-benar akan menuju new normal? Atau apakah kita hanya akan menuju renormal saja? Yang namanya new normal itu benar-benar sangat baru. Dengan kata lain, sesuatu kenormalan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Jadi bukan sekadar berganti celana. Misalnya dari celana cutbray berganti menjadi jeans. Yang disebut baru jika dari memakai celana berganti sarung. Itu baru disebut baru. Ini pendapat saya tentunya.

Maka, masyarakat kita pasca pandemi itu bisa disebut dengan renormal (normal kembali). Namanya normal kembali tentu saja ada yang sedikit berubah, tetapi aktivitasnya sama saja. Ibaratnya, dari mengendarai sepeda merek suzuki, ke merek honda atau yamana. Perilakunya tetap sama, hanya sepeda motornya berbeda merek.

Pasca pandemi masyarakat diharapkan memperhatikan kesehatan (rajin cuci tangan, ganti baju jika habis pergi, minum vitamin biar ketahanan tubuh terjaga). Itu semua sudah dianjurkan dan dilakukan sebelum pandemi. Hanya kualitas dan kuantitasnya berbeda. Tetapi anjuran menjaga kesehatan tetaplah ada.

Juga, kita harus bersiap untuk bekerja efisien. Jika bisa diputuskan dengan memakai teknologi kenapa tidak dilakukan. Belajar mengajar juga bisa dilakukan di rumah masing-masing. Penghantaran atau pemesahan barang bisa melalaui online. Bukankah itu semua sudah pernah kita lakukan sebelum pandemi?

Kita telah terbiasa dengan teknologi. Hanya pandemi ini memang sedikit memaksa manusia lebih paham teknologi saja. Belanja online juga sudah kita lakukan sebelumnya, bukan? Lalu apa yang benar-benar baru?

Misalnya, normal baru itu berkaitan dengan pengelolaan ekonomi negara. Maka, perlu ada tindakan radikal kebijakan negara untuk bisa memulihkan ekonomi. Jalan menuju ke sana juga banyak. Misalnya, bagaimana caranya DPR hemat anggaran. Kunjungan ke daerah yang biasanya rombongan bisa dikurangi. Tidak usah banyak rapat yang menghabiskan anggaran. Belum termasuk “lalu lintas keuangan”. Jangan dikira untuk memutuskan kebijakan tak butuh “lobi-lobi”. Nah, lobi-lobi ini tak jarang dilakukan dengan “uang”. Dalam satu tahun bisa menghebat berapa rupiah?

Juga, jika memang tulang punggung negara ini di bidang pertanian, perikanan dan pabrik-pabrik kenapa presiden justru mengunjungi Mall di Bekasi? Orang jadi bertanya, mengapa harus berkunjung ke sana? Memang Mall itu milik siapa? Adakah tali temalinya dengan kepentingan politik.

Mengapa tidak berkunjung ke sawah? Juga ke laut? Bukankah dua bidang itu langsung  menyangkut ketahanan pangan yang diharapkan pemerintah juga? Menjadi tindakan radikal jika fokus pada ketahanan pangan sebagaimana potensi yang ada pada negara kita. Ini baru tindakan radikal dalam usaha memajukan ekonomi. Lebih jelas lagi ini usaha new normal secara nyata. Tentu masih ada banyak lagi kasus-kasus yang lain.

Katakanlah kita tak perlu meributkan apa itu new normal atau renormal. New normal sudah menjadi akronim baru saat dan pasca pandemi. Apapun istilahnya yang penting kita sama memaknai apa itu new normal. Maksudnya jangan sampai new normal ini sebagai sebuah bentuk kelengahan dan sikap menyerah dalam menghadapai dampak pandemi ini.

Siapkah kita menuju new normal? Sudahkah perangkat disiapkan sedemikian rupa sebagaimana menuju kehidupan baru yang sesungguhnya? Apakah new normal itu bukan tindakan yang tergesa-gesa karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi pandemi? Kita maklum, pemerintah sudah berusaha maksimal. Kita maklum dengan kebutuhan dan kelemahan pemerintah di bidang ekonomi, maka new normal menjadi pilihan aman. Penting kiranya mempertanyakan, new normal ini memang benar-benar untuk kepentingan rakyat atau kepentingan ekonomi sekelompok orang tertentu?

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini